logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 1 Oktober 2002 Sala  
Line

Gedung Ketoprak Balekambang Mengenaskan

  • Musim Hujan, Bintang Tamunya Air

BALEKAMBANG- Gedung Ketoprak Balekambang sekarang sangat mengenaskan. Beberapa bagian mengalami kerusakan, terutama pada area panggung dan atap. Kerusakan itu memengaruhi pementasan dan bisa mengancam kelangsungan hidup satu-satunya ketoprak tobong di Kota Solo.

Selama ini, ungkap Eko Purwono dan Daryanto pengurus Ketoprak Kerabat Kerja Seniman Muda Surakarta kepada Suara Merdeka kemarin, gedung itu telah mengalami tambal sulam perbaikan. Namun, dalam lima tahun terakhir gedung peninggalan almarhum Teguh Srimulat itu belum pernah diperbaiki.

''Sekarang kayunya sudah lapuk dan kelir (layar) sudah tidak layak pakai. Sebagian atap pecah, sehingga bila turun hujan bocor. Jika bocor siang hari tidak masalah. Tetapi kalaubila malam sangat mengganggu, lantaran saat itu sedang dipakai pentas,'' ungkap Eko yang diiyakan Daryanto.

''Kadang penonton berkomentar, bocoran air hujan itu seperti bintang tamu pementasan malam itu.''

Prasarana lain seperti kelir warna kusam, sehingga menyebabkan gambar menjadi tidak jelas seperti kabur. Fungsi kelir pun sudah hilang lantaran tidak dapat mendukung lagi penggambaran suasana adegan yang diinginkan. Walau begitu, pertunjukan tetap berlangsung setiap malam. Mereka tidak memandang kerusakan itu sebagai kendala.

Perbaikan

Ketika mendengar Balekambang akan ada penataan (revitalisasi), mereka pun menyambutnya. Mereka berharap, dengan proyek itu gedung ketoprak dapat diperbaiki.

''Jika kami boleh usul, sebaiknya gedung ketoprak dibuat yang bagus sekalian agar dapat disewakan untuk umum. Dengan demikian, gedung yang dibuat itu dapat memberikan pemasukan pemerintah.''

Komunitas ketoprak itu berjanji akan memberikan kontribusi kepada Pemkot, tentu saja bila diperkenankan mengelola. Dari pengelolaan tersebut, bagian yang mereka dapat, entah berapa persen akan mereka manfaatkan untuk menambah pemasukan kelompok mereka.

Selain itu bila para penyewa membutuhkan hiburan tidak usah jauh-jauh, sebab sudah tersedia di tempat tersebut, yaitu para pemain ketoprak itu. Hal demikian sacara tidak langsung Pemkot telah memberikan pekerjaan lain bagi grup Ketoprak Balekambang.

Karena itu, mereka menyambut baik bila nanti ada penataan. Asalkan setelah penataan selesai, mereka tidak diminta pergi. Bagi mereka, keberadaan kelompok seni tersebut sudah selaras dengan konsep Balekambang sebagai taman kota.

Sebagai perwujudan Kota Budaya, tandas Daryanto, Solo membutuhkan pelestari budaya. Ketoprak Balekambang merupakan salah satu pelestari budaya Jawa.

''Barangkali juga bisa menjadi pertimbangan pemerintah, selama ini kami hanya hidup dari ketoprak. Karena itu, kami tidak tahu harus bekerja apa bila disuruh meninggalkannya.''

Namun, bukan berarti mereka tidak setuju penataan Balekambang. Mereka tetap menyambut positif. ''Kami tunggu penataan itu agar kami tidak kedatangan bintang tamu bocoran air hujan lagi.''(wk-42j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA