logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 1 Oktober 2002 Sala  
Line

Ontran-ontran di UMS (1)

Menwa Dinilai Terlalu Overacting

MEMBAKAR ATRIBUT:Aksi mahasiswa UMS saat memrotes keberadaan Menwa. Mereka membakar berbagai atribut Menwa.(Foto:Suara Merdeka/ae-55)

Inilah episode terpanjang perselisihan Korps Resimen Mahasiswa (Menwa) dengan rekannya sesama mahasiswa. Meski selama ini sengketa antara elemen mahasiswa itu sudah kerap terjadi, namun tidak seperti di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Bahkan, agaknya episode ini masih akan berlanjut ke pengadilan, jika hukum benar-benar ditegakkan. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Anie R Rosyidah, Joko Murdowo dan Joko Dwi Hastanto tentang kemelut tersebut.

SEBENARNYA kasus perselesisihan antara Menwa dan elemen mahasiswa di UMS itu sama dengan kasus yang sering terjadi di berbagai universitas lain selama ini. Elemen mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) maupun elemen yang lain seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), memrotes agar korps yang sering diledek dengan sebutan ''hansip kampus'' itu dibubarkan.

''Kegiatan mereka tidak banyak memunculkan nama baik kampus maupun universitas. Kegiatan Menwa selama ini lebih banyak warna militerisme daripada mengesankan sebagai kegiatan mahasiswa yang didasari intelektualitas,'' kata Erva, salah seorang mahasiswa yang tidak begitu suka dengan keberadaan Menwa.

Menwa yang lahir dari konsekuensi SKB (Surat Keputusan Bersama) Mendikbud, Menhan dan Mendagri di zaman Orde Baru itu memang selalu tampil dalam balutan seragam ala militer. Karena itu wajar kalau mereka lebih banyak mengadopsi gaya militer dibandingkan dengan menonjolnya sosok mahasiswa.

Nah, dari situ acapkali Menwa dituding sebagai kepanjangan tangan militer, yang perannya di era reformasi ini semakin dipinggirkan. ''Keberadaan Menwa sudah tidak diperlukan lagi di kampus. Mendingan dilebur saja dan diganti dengan unit kemahasiswaan yang lebih intelek. Apa sih prestasi yang mereka hasilkan selama ini dari segi kajian ilmiah?'' lanjut dia.

Protes

Bermula dari kasus perselisihan antara Menwa dan Mahasiswa Muslim Pecinta Alam (Malimpa) UMS. Saat itu ada telepon ke Malimpa dari Menwa yang bermaksud menemui salah seorang anggota Malimpa. Ketika menerima telepon dari Menwa itulah, penerima yang tidak diketahui dari UKM mana mengatakan, ''Oh, telepon dari Resimen Waria''.

Rupanya sebutan itu membuat marah Korps Menwa, dan mereka langsung menuduh yang mengatakan 'Resimen Waria' itu dari Malimpa. Padahal, telepon itu diparalel, sehingga siapa pun bisa menerima.

Menwa juga langsung menggeruduk Malimpa. Bahkan, mereka juga mengintimidasi mahasiswa dengan mengeluarkan pistol. Entah pistol mainan atau tidak.

Aksi Menwa inilah yang dianggap over acting sehingga memancing kembali kenangan lama, ketidaksenangan mahasiswa dengan peran militer di kalangan kampus. Mereka mulai melakukan protes agar keberadaan Korps Menwa dibubarkan. Protes demi protes, aksi demi aksi, demo demi demo dilakukan gabungan berbagai elemen mahasiswa.

Tidak saja langsung kepada Menwa yang memiliki markas komando (Mako) sendiri di lingkungan kampus, para mahasiswa juga mulai melakukan demo, memrotes rektorat yang selama ini menjadi payung keberadaan Menwa.

Tiada hari tanpa protes. begitulah kalau mahasiswa sudah punya mau. Bahkan, elemen mahasiswa menghadiahi korok kuping (cotton bud) kepada rektorat dan Korps Menwa, sebagai bukti kejengkelan mereka, karena berbagai aksi tidak pernah mendapat tanggapan serius.

Puncaknya, saat mereka melakukan protes di depan Mako Menwa UMS, anggota Menwa tidak terima, sehingga ada salah satu anggota yang mencoba merobek poster protes yang digunakan untuk menyegel pintu Mako Menwa.

Keributan terjadi. Aksi damai yang selama ini dilakukan, di aksi berikutnya berubah menjadi brutal. Bahkan, kemudian mahasiswa melakukan aksi lebih keras, merusak dan membakar berbagai atribut Menwa.

Mako Menwa disemprot dengan cat Pilox dengan tulisan dan gambar aneka warna. Juga, Mako tersebut dirusak pintunya, sehingga tidak bisa lagi difungsikan. Intinya, mereka sudah tidak sabar lagi dan mendesak agar keberadaan korps itu segera hilang dari kampus.

Dari aksi yang sedikit berbau anarkhi itulah mengakibatkan masalah semakin berkembang. Rektor Prof Drs Dochak Latief memang memenuhi tuntutan mahasiswa itu, dan membubarkan Korps Menwa. Sebagai gantinya dibentuk Unit Kegiatan Korps Mahasiswa Siaga (KMS).

Tapi, itu masih dipandang para mahasiswa sekadar ganti baju saja, sedang esensinya masih sama. Maka, mereka tidak menyurutkan aksi, dan tetap menuntut agar rektorat tidak sekadar mengelabuhi dengan mengganti nama saja.

Dochak ternyata tidak menggubris protes itu. Dia tetap berjalan sesuai dengan keputusannya, karena dia menganggap unit kegiatan baru itu akan berada di bawah koordinasi BEM.

Selesaikah urusannya ? Tidak, sebab masalah utama itu belum kelar, sudah beralih ke kepolisian. Tentu saja itu berkait dengan aksi yang dipandang anarkhi itu. (Bersambung)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA