
| Selasa, 1 Oktober 2002 | Sala |
TERASProyek TNMM Tidak AspiratifKOALISI Masyarakat Sipil Indonesia yang terdiri atas kalangan LSM, menolak rencana proyek Taman Nasional Merapi Merbabu (TNMM), Solo-Selo-Boyolali (SSB) dan ekowisata. Ketiga proyek itu dinilai tidak melibatkan masyarakat sekitar. Koalisi terdiri atas delapan LSM dan Jumat lalu mengadakan pertemuan di salah satu rumah makan di Boyolali untuk menyikapi ketiga proyek tersebut. Pencanangan ekowisata akan dilakukan Presiden Megawati, 17 Oktober 2002 di Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali. Berikuti wawancara Suara Merdeka dengan Direktur Green Merapi Fondation (GSM), Dwi Larso, yang bergabung dalam koalisi tersebut. Apakah ada alasan yang subtansial sehingga koalisi LSM menolak ketiga proyek tersebut ? Yang paling utama alasan penolakan dikaitkan dengan UU No 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah. Makna dari pada undang-undang tersebut setiap pembangunan daerah harus menjadi obyek bukan subyek. Itu artinya, setiap ada pembangunan baik yang berskala regional atau nasional daerah harus dilibatkan. Apa hubungannnya dengan ketiga proyek tersebut? Berdasarkan penelitian dan pengamatan koalisi LSM, rencana ketiga proyek sama sekali tidak melibatkan masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat hanya menjadi subyek, bukan obyek. Seolah masyarakat sekitar tidak dihargai dan ditinggal. Bahkan masyarakat dibuat terkejut tiba-tiba akan dibangun TNMM, SSB dan ekowisata. Apa tujuannya dan bagaimana prospek ke depan setelah dibangun tiga proyek, masyarakat tidak tahu-menahu. Ini kan lucu. Pembangunan TNMM akan meramaikan lingkungan sekitar dan berdiri hotel-hotel. Mengapa koalisi LSM menolak ? Saya melihat rencana pembangunan TNMM tidak partisipatif. Dengan kata lain, masyarakat lereng Gunung-Merapi Merbabu atau di Kecamatan Selo dan Ampel, Boyolali tidak pernah diajak bicara. Karena tidak dihargai dikhawatirkan lahan pertanian akan tergusur, terjadi eksploitasi air untuk kepentingan bisnis dan akan merusak peradaban budaya. Bisa dijelaskan kerusakan budaya ? Dengan TNMM akan berdiri hotel dan akan bermunculan budaya asing. Kalau tidak diimbangi budaya yang kuat maka akan kalah bersaing sehinggga masyarakat setempat akan meninggalkan budayanya sendiri. (Suti Harjoyo-14) |