logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 1 Oktober 2002 Berita Utama  
Line

Premium Rp 1.750, Solar Rp 1.440

JAKARTA-Harga BBM pada bulan Oktober ini dipastikan kembali mengalami kenaikan. Harga premium yang bulan sebelumnya sempat turun ke level Rp 1.690 kembali naik menjadi Rp 1.750 per liter, sedangkan solar ditetapkan Rp 1.440 per liter.

Kepastian itu diungkapkan Humas PT Pertamina Ridwan Nyak Baik di Jakarta, Senin. Direktur Hilir Pertamina Muchsin Bahar, sebelum rapat kerja dengan Komisi VIII DPR pekan lalu sudah mengisyaratkan kemungkinan harga BBM akan naik. Namun, Muchsin belum menyebutkan angka pastinya.

"Harga minyak mentah internasional yang naik dan rata-rata kurs rupiah yang melemah, kemungkinan besar membuat harga BBM naik," katanya tentang penyebab kenaikan harga BBM bulan Oktober.

Muchsin memastikan harga minyak tanah untuk rumah tangga dan usaha kecil tetap mengacu pada Pasal 2 Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 9 Tahun 2002 tentang Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak Dalam Negeri, yakni Rp 600 per liter.

Ridwan menyebut hal lain yang menyebabkan harga BBM Oktober naik, karena jika pada September lalu kurs rata-rata sekitar Rp 8.000 per dolar AS, sekarang kurs rupiah sudah berada pada level Rp 9.000 per dolar AS. Sementara itu, harga minyak internasional yang sebelumnya berkisar 23-24 dolar per barel belakangan naik menjadi sekitar 28 dolar AS per barel.

Karena harga internasional naik, harga Mid Oil Platt Singapore (MOPS) ikut naik, sedangkan penetapan harga jual BBM di dalam negeri disesuaikan dengan MOPS.

Seperti diketahui, sejak 1 Maret 2002 pemerintah memberlakukan harga BBM di dalam negeri secara internasional berdasar MOPS. Namun, pemerintah sudah menetapkan batas harga terendah dan tertinggi. Misalnya untuk premium harga batas atas Rp 1.750 per liter dan batas bawah Rp 1.450 per liter.

Untuk minyak tanah industri harga batas atas Rp 1.650 dan batas bawah Rp 900 per liter, minyak solar Rp 1.550 per liter untuk harga batas atas dan Rp 900 per liter untuk batas bawah. Untuk minyak disel, harga batas atas Rp 1.520 per liter dan batas bawah Rp 900 per liter. Minyak bakar harga batas atasnya Rp 1.150 per liter dan batas bawah Rp 800 per liter.

Lengang

Sementara itu, Kepala Humas Unit Pemasaran IV Jateng dan DIY I Gusti Bagus Wisnu mengungkapkan harga minyak tanah untuk rumah tangga dan usaha kecil tetap mengacu pada keputusan Gubernur Jateng mengenai harga eceran minyak tanah yaitu Rp 600 per liter.

"Hal ini juga sesuai dengan Pasal 2 Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 9 tahun 2002 tentang Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak Dalam Negeri," kata Wisnu, semalam.

Harga jual Premix 94 dan Super TT periode Oktober 2002 juga mengalami perubahan, untuk Super TT harganya Rp 2.500 perliter dan Premix 94 Rp 2.400 perliter.

Sementara itu, dari pantuan Suara Merdeka di sejumlah SPBU di Semarang, hingga tadi malam sekitar pukul 11.00 ternyata tidak terlihat adanya antrean panjang masyarakat yang mengisi BBM. Beberapa SPBU seperti di Jalan Pandanaran, Jalan Sriwijaya, Jalan Pamularsih dan Jalan Arterti masih terlihat lengang.

Tidak adanya masyarakat yang tidak antre membeli BBM ini, menurut beberapa petugas SPBU di sejumlah tempat disebabkan kenaikan, khususnya jenis premium yang tidak terlalu tinggi dan sudah terbiasa dengan naik turunya harga bahan bakar ini. "Tidak ada antrean, cuma beberapa pembeli menanyakan apakah nanti malam (kemarin-Red) bensin akan naik," ujar salah seorang petugas SPBU di Jalan Sriwijaya.

Di SPBU Jalan Pandanaran jumlah kendaraan bermotor yang mengisi bahan bakar masih dalam batas kewajaran. Apalagi di lokasi ini, dalam hari-hari biasa saja sudah ramai. Meski demikian, jumlah petugas pompa bensin lebih banyak dari hari biasa.

Menurut seorang staf kantor sejak sore pihaknya sudah diberitahu Pertamina akan ada kenaikan. Namun jumlah persentasenya belum disebutkan. "Begitu sudah dikabari Pertamina, kita langsung siap-siap dengan menginstruksikan karyawan agar masuk untuk mengantisipasi jika terjadi antrean," jelasnya.

Namun, lanjut dia hingga tadi malam pembeli tetap seperti hari-hari biasa. "Apalagi kemarin harga beberapa jenis BBM baru saja turun, mungkin kenaikan kali ini tidak terlalu membuat resah. Kondisi ini berbeda dengan kenaikan BBM tahun lalu yang sempat terjadi antrean panjang," kata dia. (, A20,G2-64)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA