
| Selasa, 1 Oktober 2002 | Berita Utama |
Bush Ditentang Rakyat SendiriWASHINGTON - Ribuan anggota masyarakat di Washington, ibu kota AS, kemarin turun ke jalan utama kawasan diplomatik, menentang rencana Presiden George W Bush untuk menyerang Irak. Unjuk rasa itu merupakan puncak dari rangkaian demonstrasi mereka sebelumnya dalam tiga hari terakhir, yang dipusatkan di dekat markas besar Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF). Di sana tengah berlangsung sidang-sidang kedua lembaga keuangan internasional tersebut. Para demonstran terlihat mewakili berbagai kelompok usia, dan banyak pula dari mereka yang tidak turut dalam unjuk rasa-unjuk rasa sebelumnya di markas Bank Dunia dan IMF. Jumlah para pengunjuk rasa sedikitnya mencapai 5.000 orang, namun polisi menolak mengeluarkan perkiraan angka mengenai jumlah mereka. Peter Robinson (59), salah satu pengunjuk rasa yang seharian mengikuti aksi tersebut, mengatakan dia menilai seruan Bush untuk menyerang negara lain membuatnya berang seumur hidup. "Perang terhadap Irak ada hubungannya dengan minyak dan politik. Itu belum pernah terjadi sebelumnya dan bukan sesuatu yang mencerminkan watak bangsa Amerika," katanya. Para pengunjuk rasa juga meneriakkan ungkapan-ungkapan bernada kasar. "Dick Cheney (wakil presiden) dinosaurus. Kami tak inginkan perang minyak Anda," kata mereka, saat melintas di Washington Street, pusat kedubes asing di Washington. Di depan sejumlah kedubes tertentu, seperti Turki yang mendukung rencana Bush, pengunjuk rasa berhenti dan meneriakkan yel-yel cemoohan. Barisan panjang pengunjuk rasa itu menyudahi aksi setelah tiba di dekat Kedubes Inggris, sekutu utama AS dalam rencana serangan ke Irak. Kawasan sekitar Kedubes Inggris dijaga sangat ketat oleh polisi. Pihak berwenang Washington mendatangkan unit-unit tambahan polisi dari berbagai kota lain, untuk membantu pengamanan sebelumnya yang sudah melibatkan ribuan polisi lokal. Gerakan unjuk rasa itu tidak sampai membuat polisi melakukan penangkapan, berlainan dengan aksi unjuk rasa Jumat lalu di Washington, saat mana 649 orang ditangkap walau belakangan hampir seluruhnya dibebaskan Juga di New York Sementara itu, teriakan Allahu Akbar yang tiada henti dan kibaran bendera nasional AS, mendominasi keramaian parade muslim ke-17 di kawasan Manhattan, New York. Kira-kira 6.000 umat Islam dari berbagai negara yang saat ini bermukim di sejumlah kota di AS, turut memeriahkan parade yang mendapat pengamanan khusus dari Departemen Kepolisian New York (NYPD). Di antara ribuan orang tersebut, ada sekelompok umat Islam asal Indonesia yang mewakili "Komunitas Islam Indonesia di NY". Orang tua dan anak-anak, baik laki maupun perempuan, bersama-sama mengikuti parade itu. Menurut salah satu anggota panitia penyelenggara, H M Syamsi Ali, selain merupakan acara rutin tahunan, parade kali ini bertujuan untuk menunjukkan kepada masyarakat AS secara umum bahwa Islam merupakan agama yang ingin hidup bersama dan berdampingan secara damai dengan agama-agama lain. Dalam parade tersebut, selain yel-yel yang mengagung-agungkan asma Allah SWT, juga terlihat beberapa orang membawa spanduk dan poster bertuliskan kalimat-kalimat yang mengimbau AS agar menghentikan rencana menyerang Irak. Di antara peserta parade, ada sekelompok polisi muslim NYPD. Sebagian merupakan warga keturuan Afrika dan Asia Selatan. Para wanita polisi menggunakan seragam NYPD, dilengkapi jilbab. Penentangan Rusia Di kancah internasional, AS kemarin kembali mendapat penentangan amat keras dari Rusia dan Prancis, atas pendiriannya yang suka perang terhadap Irak. Penentangan itu disampaikan, ketika para pakar senjata bertemu di Wina untuk membahas ketentuan inspeksi senjata PBB di Irak. Rusia dan Prancis, keduanya punya hak veto di Dewan Keamanan PBB, secara terpisah mengecam Washington. Dewan sedang mempertimbangkan resolusi tentang inspeksi senjata Irak. Resolusi itu dirancang AS. Rusia mengutuk Washington karena mengirimkan pesawat-pesawat tempur untuk menggempur Basra di Irak selatan, Minggu, sedangkan Prancis mengecam ancaman penggunaan kekuatan militer. Ancaman itu terkandung dalam usulan resolusi rancangan AS untuk DK PBB. Cina, yang seperti AS dan Inggris juga punya hak veto, juga bersikap skeptis terhadap usulan Amerka. Di Wina itu pula, kepala tim inspeksi senjata PBB Hans Blix mengatakan, dia mengharapkan akses tidak terbatas ke berbagai tempat di Irak, ketika tim yang dipimpinnya kembali, dalam upaya mencegah serangan militer Amerika dan Inggris. Berbicara pada wartawan sebelum pejabat Irak dan tim inspeksi PBB memulai pertemuan pertama untuk membahas perincian kembalinya tim tersebut ke Irak, Blix ditanya apakah akan ada pembatasan bagi tim tersebut. "Tidak. Tidak ada, saya tahu itu," kata dia. Dia juga berharap istana-istana Presiden Saddam Hussein tidak tertutup bagi tim inspeksi tersebut. "Ada kesepakatan mengenai hal itu, saat ini. Kesepakatan itu mulai berlaku sekarang," katanya kepada Reuters. Kewenangan Senjata Pejabat intelijen AS yakin, Presiden Saddam Hussein telah memberikan kewenangan pada komandan lapangannya untuk menggunakan senjata biologi dan kimia, apabila invasi AS dilakukan. The Washington Post, mengutip pejabat pertahanan dan intelijen, mengatakan Saddam kemungkinan telah memberikan otoritas bersyarat untuk menempatkan senjata-senjata kimia dan biologi pada komandan-komandan setianya di lapangan, karena dia tahu Amerika akan membidik pada pusat-pusat komando dan sistem komunikasi pada awal serangan militer. Seorang juru bicara Pentagon (Departemen Pertahanan AS) tidak mau memberikan komentar mengenai hal tersebut. (rtr-ben-ant-30) |