logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 1 Oktober 2002 Berita Utama  
Line

Kedungombo Lumpuh Total

  • Bila Oktober Belum Hujan

KUDUS - Waduk Kedungombo diperkirakan akan lumpuh mulai minggu kedua November 2002, bila sepanjang Oktober ini tidak ada hujan di wilayah Sungai Serang, Sungai Lusi, dan Sungai Juwana (Seluna). Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Semarang, awal hujan di wilayah itu mulai November.

"Kalau areal sawah di wilayah Seluna hingga akhir Oktober hanya menggantungkan air dari Waduk Kedungombo, karena belum ada hujan, pada minggu kedua November waduk itu tak bisa apa-apa lagi," kata Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Seluna Ir Suhartono SP ME.

Dia mengungkapkan hal itu dalam rapat koordinasi di Mapolres Kudus, kemarin. Dia menyebutkan, elevasi Kedungombo turun terus dan kemarin dilaporkan tinggal 78,50 meter dpl (di atas permukaan laut) atau setara dengan volume 325 juta m3.

Areal sawah di wilayahnya (Grobogan, Demak, Kudus, Jepara, dan Pati) yang menggantungkan irigasi dari Kedungombo 63.624 hektare. Perkiraan kebutuhan air untuk tanam padi tiap hektare satu liter/detik. Itu belum suplai air baku untuk instalasi PAM Kudu yang dikonsumsi warga Semarang.

Rapat yang dipimpin Kapolres AKBP Drs Lutfi Lubihanto dihadiri, antara lain oleh Wakil Ketua DPRD Kudus Murdjinem, Sekda Kudus Drs Heru Sudjatmoko, Muspika Undaan, dan Kasubdin Pengairan DPUK Kudus Tarjono serta Asisten II Sekda Grobogan Drs Nurhadi, Kasubdin Pengairan Grobogan Gunardi Suro, dan Muspika Klambu.

Koordinasi dua wilayah kabupaten bertetangga itu dilakukan sehubungan dengan unjuk rasa 1.000 petani Undaan (Kudus) di DPRD Kamis lalu. Mereka yang akan tanam padi pada musim tanam (MT) I yang telah diundur sebulan per 1 Oktober (hari ini) minta agar pompa liar di jaringan irigasi Klambu Kiri ditertibkan (Suara Merdeka, 27/9).

Sementara itu, di Bakorlin Pati (dulu Kantor Pembantu Gubernur) pada Selasa ini digelar rapat koordinasi lebih luas lagi. Wakil petani dari Kudus, Grobogan, Demak, Jepara, Pati dan Bupati serta Kapolres yang wilayahnya dilalui Sungai Seluna dan pejabat teknis dijadwalkan hadir. Rapat dilakukan guna menyikapi kekritisan Waduk Kedungombo.

Tawarkan Pengganti

Ketua Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) Undaan, Kaspono mempertanyakan akan dibawa ke mana Waduk Kedungombo. "Kami minta kepastian Pemprov. Kalau memang hanya untuk proyek mercusuar dan tak lagi diperuntukan irigasi, ya tolong petani diberi tahu. Biar kami tak terombang-ambing, biar kembali ke pola tadah hujan," tandasnya.

Dia mengemukakan, kekritisan Kedungombo tak terlepas dari sejumlah warga yang bercocok tanam di daerah sabuk hijau waduk itu. Pengelola waduk tak berani menampung air pada saat hujan hingga maksimal, karena takut kepada warga yang kecewa berkaitan dengan ganti rugi proyek waduk.

"Kami juga tidak berharap hidup senang di atas penderitaan orang lain. Misalnya, diminta semacam kontribusi untuk warga yang ada di waduk itu, kami setuju saja. Tapi ndak tahu jika petani lain," tuturnya.

Kasubdin Pengairan Grobogan Gunardi Suro senada dengan Kaspono mengemukakan penyebab Waduk Kedungombo kritis dalam MT I tahun ini. Dia menyatakan hal itu tak terlepas dari tanaman yang terdapat di sabuk hijau waduk pada Januari 2001.

"Ada 3.785.272 m2 areal tanaman milik 2.172 warga 11 desa di sabuk hijau waktu itu. Sebab, kala itu pengelola waduk tidak berani mengisi sesuai dengan kapasitas maksimal pada saat musim hujan, sehingga air terbuang percuma," ungkapnya.

Penjaga Pintu

Suplai air dari Kedungombo yang akan mulai digelontorkan pada Selasa ini. Suplai yang jauh dari kebutuhan minimum itu, kata Kaspono, makin diperparah oleh pencurian air di jaringan irigasi Klambu Kiri menggunakan pompa.

Data dari anggotanya yang kemarin menyusuri tanggul mencatat, ada sembilan pompa liar di Klambu. Pihaknya meminta agar mulai Selasa ini pompa yang dipasang di jaringan irigasi dipindah ke Sungai Serang.

"Pengambilan air dengan memakai pompa dengan cara menanam pipa di bawah kaki tanggul sangat berbahaya. Tanggul bisa jebol. Itu seperti kejadian pada 1997. Saat itu, perbaikan memakan enam bulan dengan biaya Rp 60 juta," paparnya.

Gunardi membantah ada sembilan unit pompa pada jaringan irigasi di Klambu. "Di seluruh Grobogan hanya ada enam unit pompa, tapi di Undaan (Kudus) juga ada tiga unit," tukasnya. Dia mengakui, di bagian alur Sungai Serang memang ada petani yang mulai menggarap lahannya, tetapi tanpa izin.

Kepala BPSDA Seluna Suhartono menegaskan, pengambilan air dengan pompa pada jaringan irigasi memang tidak dibenarkan. "Namun, sejak era otonomi daerah, PP Nomor 23 tak laku lagi. Sebagai penggantinya, pelarangan atau pengaturan penggunaan pompa mestinya dengan peraturan daerah (perda). Namun, daerah sendiri tampaknya belum punya perda tentang itu," ucapnya.

Dalam pendataan yang dilakukan, pompa liar tak hanya terdapat di jaringan irigasi di daerah Klambu, tetapi juga mulai Bendung Klambu ke atas hingga Bendung Sedadi. "Untuk mendata saja petugas kami harus sembunyi-sembunyi, takut ancaman. Apalagi untuk menindak," katanya terus terang.

Tak hanya itu, aparatnya juga kesulitan mengatur pintu pembagi air. "Kami kehabisan banyak gembok untuk mengunci pintu. Begitu sore dikunci, paginya gembok hilang. Petugas kami juga sering didatangi di rumahnya, dipaksa agar membuka pintu. Mereka membawa seseorang semacam jagger (tukang pukul)," keluhnya.

Kapolres menegaskan, pengamanan pendistribusian air pada MT I perlu keterpaduan pola tindak. Karena itu, pihaknya mengusulkan perlu semacam tim intern kabupaten atau antardaerah.

Sementara itu, menyangkut pengamanan wilayah Undaan berkaitan suplai air dari Waduk Kedungombo, mulai kemarin, pihaknya mem-back-up Polsek Undaan dengan satu peleton anggota dari Mapolres.

Ada Kebersamaan

Sementara itu, Bupati Kudus HMA Munadjat SIP MSi menilai demonstrasi ribuan warga Kecamatan Undaan belum lama ini berkait dengan distribusi air dari Waduk Kedungombo masih wajar dan positif. "Saya kira alur pemikiran warga dengan menyampaikan aspirasi ke DPRD positif," kata dia, di sela-sela kunjungan kerja di Kecamatan Undaan, Sabtu (29/9).

Dia bersama Kepala DPUK Drs H Munadji dan Kasubdin Bina Marga Ir Hari Triyogo MM meninjau proyek jalan poros di Desa Larikrejo dan Karangrowo, perbatasan Pati. Rehabilitasi Jembatan Larikrejo I dan II sudah selesai 100%.

Pada kesempatan itu Bupati juga meninjau distribusi air Kedungombo sampai di Undaan. Dia menyatakan pada musim kemarau seperti sekarang air merupakan kebutuhan bersama. Karena itu perlu kebersamaan untuk mengelola air dari Waduk Kedungombo.

Ada sebagian warga memanfaatkan air secara tidak semestinya. Itu merugikan warga di bagian hilir yang membutuhkan pasokan air dari Kedungombo baik untuk pembibitan maupun irigasi sawah.

Kirim Surat

Dia mengemukakan normalisasi Kedungombo memang penting. Kenyataannya saat debit air menyusut, banyak yang memanfaatkan tebing untuk bercocok tanam. Akibatnya, saat curah hujan tinggi hal itu menghambat aliran air.

"Seharusnya tidak boleh. Tetapi bila dilarang tentu ada yang komplain. Padahal itu jelas mengganggu bila tidak dinormalisasi," katanya.

Soal pompa liar, dia secara resmi mengirim surat ke bupati Grobogan. "Sampai sekarang belum ada jawaban. Tentu dalam proses. Saya meminta bisa duduk satu meja membicarakan masalah ini untuk mencari solusi yang baik. Masalah ini harus dibicarakan lintas kabupaten. Kudus tak bisa menyelesaikan sendiri." (yit, P7-64e-78g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA