
| Selasa, 1 Oktober 2002 | Berita Utama |
Putra-putri Pahlawan Revolusi Meluncurkan "Kunang-kunang"JAKARTA - Tragedi G30S/PKI, yang selama ini menimbulkan pro-kontra karena ada berbagai versi tentang kejadian itu, akan mendapatkan sedikit ''titik terang'' dengan peluncuran buku Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam. Peluncuran buku itu dilakukan di Balai Sudirman Jl Dr Sahardjo, Tebet, Jakarta Selatan, kemarin. Buku 250 halaman tersebut merupakan hasil penuturan ''alamiah'' putra-putri pahlawan revolusi (yang kala itu masih remaja dan anak-anak), keluarga korban dan saksi-saksi yang merasakan tragedi pada subuh 1 hingga 5 Oktober 1965. Penuturan itu lebih dari tiga dekade terpendam dalam ingatan mereka dan masih menyisakan berbagai polemik atau kontroversi di tengah masyarakat. Dalam sambutan menjelang peluncuran buku tersebut, Dr Nani Nurochman Soetojo Siswomihardjo memberikan pernyataan pembuka. ''Sekarang kami baru bisa dan mau bertutur tentang apa yang kami alami sendiri pada 1 hingga 5 Oktober 1965,'' kata dosen Fakultas Psikologi UI yang juga putri satu-satunya Mayjen TNI (Anumerta) Soetojo Siswomihardjo tersebut. Nani yang didampingi putra-putri pahlawan revolusi mengatakan, penulisan buku tersebut sarat dengan pendekatan kemanusiaan, yang sebenarnya bagi dia dan rekan-rekannya senasib sangat berat untuk dilakukan. ''Sebab, apa pun alasannya, penuturan peristiwa tragis yang traumatis bukanlah sesuatu yang mudah kami ungkapkan. Karena itu, tuturan kami ini hanyalah sisi kemanusiaan yang kami coba hadirkan di tengah segala keterbatasan kami.'' Sementara itu, Herlia Emmy Rudiati A Yani mengemukakan, buku tersebut bukanlah analisis politik dan tidak dimaksudkan sebagai buku sejarah. ''Ini hanyalah upaya kami memberikan kepada anak-cucu kami. Semoga apa yang kami alami tidak akan mereka alami. Kami juga ingin memberikan pesan moral dan ketabahan,'' kata anak kedua Jenderal TNI (Anumerta) Ahmad Yani itu. ''Namun, kami pun tidak menutup mata jika penyusunan buku ini juga berawal dari keprihatinan atas distorsi fakta yang membuat kami terjaga. Sebab, setahun yang lalu muncul berbagai versi tentang kejadian yang sama.'' Bukan Satu-satunya Menurut Amelia Yani (anak ketiga Ahmad Yani), putra-putri pahlawan revolusi juga tidak beranggapan mereka satu-satunya yang benar. Namun, yang tertuang dalam buku itu adalah penuturan mereka selaku remaja dan anak-anak yang mengalami peristiwa luar biasa tersebut. ''Kami tetap mengakui betapa kami lemah untuk mencerna situasi politik ketika itu. Gaya kami yang lugu dan pesan kemanusiaan yang kami kedepankan dalam buku tersebut membuat kami sepakat memilih judul 'Kunang-kunang'. Jadi, kami sama sekali ndak mau ngrasani atau ''nembak'' orang lain,'' kata istri pengusaha Soebronto Laras tersebut. Mengenai tujuan meluruskan sejarah, Suryanti Sahala Nasution mengatakan , biarlah proses berbangsa dan bernegara yang ikut memberikan titik terang, walau dia sebenarnya juga melihat masih ada yang perlu diluruskan. ''Seperti adik saya Ade Irma Suryani. Dia ditembak dari jarak dekat, tidak seperti yang di film. Saya merasa buku ini perlu kami buat. Sebab, setiap tahun menjelang 1 Oktober, masyarakat yang berkunjung ke rumah kami selalu bertanya bagaimana yang sebenarnya terjadi. Kami terpaksa menceritakan walaupun itu sangat berat, karena memberikan kenangan pahit bagi kami,'' kata putri Jenderal Besar AH Nasution tersebut. Hal yang sama juga dikatakan Salomo Pandjaitan. Dia menyebutkan, selalu saja ada pertanyaan dari rekan, bahkan atasannya, tentang apa yang dia alami saat itu. ''Mumpung kami masih hidup dan masih ingat peristiwa yang kami rasakan dalam lingkup keluarga kami dan juga keluarga saudara kami yang senasib sepenanggungan. Mudah-mudahan yang belum tersampaikan bagi anak bangsa dapat tersampaikan lewat buku ini,'' kata putra Mayjen TNI (Anumerta) DI Pandjaitan tersebut. Buku yang pada peluncuran pertama dibuat 300 eksemplar itu dibagi dalam tujuh bab. Pada bab II tergambar penuturan putra-putri tentang ayah mereka, pengalaman menarik bersama keluarga dan dampak yang harus mereka terima sepeninggal ayah mereka. (F4-31e) |