logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 1 Oktober 2002 Berita Utama  
Line

Tentara Vs Brimob, 7 Tewas

  • Komandan Linud 100 Akan Dicopot
BERJAGA-JAGA: Sejumlah anggota Brimob dilengkapi senjata M16 berjaga-jaga di markas Batalyon A Brimob Polda Sumut di Tanah Tinggi Binjai, kemarin setelah insiden penyerangan oleh prajurit Batalyon Lintas Udara (Linud) 100. Sebuah mobil dinas Brimob juga jadi sasaran dalam insiden itu.(Foto:Suara Merdeka/rtr-55e)

JAKARTA- Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto sudah memerintah KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu untuk mencopot Komandan Batalyon Lintas Udara (Linud) 100. Sikap tegas itu diambil menyusul terjadinya kembali penyerangan oleh anggota Linud ke Mapolres Langkat, Minggu (29/9) malam.

"Kalau perwiranya tidak bisa mengendalikan (bawahannya), copot juga," kata Endriartono, usai pertemuan dengan beberapa pemimpin media dan pejabat tinggi negara di Mabes Polri, Senin kemarin.

Seperti diketahui, serangan pertama terjadi Sabtu (28/9) malam. Aksi ini menyebabkan lima orang luka-luka. Selepas kejadian, Pangdam Bukit Barisan Mayjen M Idris Gassing sudah memerintah seluruh batalyon di Medan, terutama Linud, mengarantina semua prajuritnya. Tetapi seruan ini ternyata tak diindahkan, sehingga serangan kembali terjadi Minggu malam, bahkan diwarnai dengan muntahan peluru.

Penyebab dan latar belakang kasus tersebut, menurut Endriartono, belum ditelusuri. Namun benar atau salah, penyerangan bersenjata oleh Linud tidak bisa dibenarkan. Untuk penanganannya, dia memerintah KSAD hari ini pergi ke Langkat dan memecat prajurit yang melakukan penyerangan. Selain itu, KSAD diminta melakukan penyelidikan, apakah prajurit-prajurit itu melawan para perwiranya. "Kalau memang terbukti, batalyon dilikuidasi," tandas Endriartono.

Kabahumas Mabes Polri Irjen Pol Saleh Saaf enggan berkomentar mengenai masalah itu. Ia hanya mengatakan, saat ini polisi tidak ingin membicarakan pihak mana yang bersalah dan pihak mana yang benar. Adapun mengenai kemungkinan pemecatan terhadap anggotanya, ia menyebut hal itu bisa saja dilakukan bila terbukti melakukan pelanggaran.

Akibat Narkoba

Akibat insiden itu, dilaporkan tujuh orang tewas dan puluhan lainnya cedera. Tiga mobil dan sejumlah sepeda motor dinas Brimob Binjai juga terbakar.

Korban tewas adalah Ipda Tito Darma, Bharada H Kurniawan, Bharada Marmin, Briptu Ilham, Sirait dan Barus Sitepu (pangkatnya belum diketahui), dan Erwin Sutanto (sipil).

Korban luka berat dan ringan di antaranya Komandan Satuan (Dansat) Brimobda Polda Sumut Kombes Pol Drs Syafei Aksal, yang dalam perawatan di RS Gleaneagles, Medan.

Insiden tersebut dipicu penangkapan seorang warga sipil, Mar (20), teman anggota Linud 100, oleh petugas Serse Polres Langkat dalam kasus narkoba, Sabtu petang. Mar kemudian ditahan di Mapolres Langkat di Binjai, sekitar 20 km timur Medan.

Sejumlah oknum anggota Linud meminta Polres melepaskan pemuda itu, tetapi ditolak dengan alasan saat ditangkap Mar memiliki sembilan butir pil ekstasi. Penolakan itu membuat oknum tentara tersebut marah dan menebas telinga Kasatserse AKP Togu Simanjuntak hingga nyaris putus. Seorang anggota Serse, Ipda Haris Simbolon, mencoba melerai. Malang, ia ditebas senjata tajam oleh oknum anggota Linud, sehingga salah satu jari tangannya nyaris putus.

Beberapa anggota Polres yang menyaksikan insiden itu melepaskan tembakan. Akibatnya, kedua oknum Linud luka di paha dan hal itu membuat puluhan oknum lain yang mendatangi Mapolres makin brutal dengan mengobrak-abrik kantor Mapolres.

Digranat

Tidak puas mengobrak-abrik, mereka menyerang markas Batalyon A Brimob Polda Sumut di Tanah Tinggi, Binjai. Akibatnya, sepanjang Minggu hingga Senin dini hari terjadi tembak-menembak antara anggota Brimob dan Linud, sampai akhirnya terjadi penggranatan.

Ketiga markas Brimob yang digranat tersebut hampir rata dengan tanah. Hingga siang kemarin kepulan asap masih tampak pada puing-puing bangunan markas Brimob yang terbakar.

Insiden itu membuat suasana Binjai mencekam, tetapi tidak mengakibatkan aktivitas pemerintahan dan warga di kota itu lumpuh total. Buntut insiden itu, Pomdam I Bukit Barisan memeriksa tujuh tersangka dari pihak TNI. "Mereka terdiri atas empat orang perwira dan lainnya bintara dan tamtama," jelas Danpuspom TNI Mayjen Sulaiman AB.

Pomdam juga sudah memeriksa sejumlah anggota TNI yang diduga terlibat. Namun, ia mengaku tidak mengetahui persis jumlah mereka yang diperiksa. "Sejauh ini beberapa anggota TNI yang diperiksa masih berstatus saksi dan dalam waktu dekat berkas mereka akan dilimpahkan ke oditur militer," jelasnya.

Menurut Sulaiman, kasus bentrokan tersebut kini sudah ditangani bersama antara Pomdam I Bukit Barisan atas perintah Pangdam Mayjen Idris Gassing dan unsur penegakan hukum di lingkungan Polda Sumut.

Dapat Tekanan

Gubernur Sumut Rizal Nurdin mengungkapkan, ketika itu Komandan Batalyon Linud Mayor Inf Madsuni mendapat tekanan dari anak buahnya dan tak mampu mencegah tindakan mereka yang sudah emosional.

Para perwira juga mengejar dengan naik sepeda motor, tiga truk anggota Linud yang tidak terorganisasi menuju Binjai. Namun, mereka juga tidak bisa mencegah anggotanya melakukan penyerangan ke markas Brimob dan Mapolres Langkat.

"Situasi Binjai sudah terkendali, pasukan sudah ditarik komandan masing-masing," tutur Gubernur Sumut, yang menginginkan tidak ada lagi follow up atau dendam. Peristiwa cukup memprihatinkan itu akan dievaluasi dan diselesaikan sesuai dengan jalur hukum.

Kendati Gubernur Sumut telah menyatakan kegiatan ekonomi di Binjai jalan terus karena sasarannya bukan masyarakat, suasana kota itu masih mencekam. Pusat perdagangan dan perbelanjaan masih tutup, bangkai mobil yang dibakar juga masih berserakan di jalan. (bu,wa,ant-31k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA