
| Selasa, 1 Oktober 2002 | Semarang & Sekitarnya |
Dipungli, Ratusan Awak Angkota Mogok
SEMARANG TENGAH - Ratusan awak angkutan kota (angkota) jenis Daihatsu yang setiap hari melalui kawasan Simpanglima, kemarin unjuk rasa. Mereka memarkir kendaraannya di depan mulut Jl Gajahmada dan di depan Hotel Ciputra. Antara lain angkutan kota jurusan Pedurungan-Karangayu, Johar-Lampersari yang melalui Jl Sriwijaya. Aksi sejak pukul 09.00 itu, membuat arus lalu lintas tersendat. Sekitar pukul 10.30, antrean kendaraan di Jl Pandanaran mencapai depan toko buku Gramedia. Di sepanjang jalan yang dilalui angkutan tersebut, penumpang telantar. Apalagi di Jl Pandanaran, awak angkota juga menghentikan bus berwarna kuning. Mereka memaksa bus-bus menurunkan penumpang di tempat itu juga. Bahkan, awak angkota itu menghentikan bus-bus mini yang melewati Jl Pandaranan dan Jl A Yani. Mereka memaksa awak bus menurunkan penumpangnya. Akibatnya, jumlah penumpang yang telantar di sepanjang Jl Pandanaran semakin banyak. Beberapa penumpang melanjutkan perjalanannya dengan naik taksi. Namun sebagian memilih berjalan kaki. Seorang ibu berumur sekitar 50 tahun begitu diturunkan dari bus hanya bisa bengong, bahkan menangis. ''Saya mau ke Pedurungan, tapi naik apa? Uang saya pas-pasan untuk naik bus.'' Pungli Akhirnya dia ditolong penumpang lain diajak naik taksi. Yanto, awak angkot Pedurungan-Karangayu menuturkan, aksi tersebut merupakan wujud kejengkelan para sopir terhadap ulah oknum petugas Patwal Satlantas Poltabes di Simpanglima. Dia menuturkan, oknum petugas tersebut merazia angkutan kota yang dianggap melanggar rambu larangan berhenti. Menurut Suparno, awak kendaraan lain, para awak angkutan sebenarnya tidak keberatan, jika petugas memberikan surat bukti pelanggaran (tilang) pada mereka yang melanggar. Namun yang membuat jengkel, untuk mengeluarkan kendaraan yang ditahan, harus membayar uang yang lumayan besar. ''Ini namanya pungli. Apalagi agar kendaraan bisa keluar, sopir harus membayar Rp 50.000-Rp 200.000. Hal itu tergantung tawar-menawar dengan oknum petugas itu,'' kata dia. Sementara itu, dalam waktu bersamaan, unjuk rasa juga dilakukan puluhan angkot jenis Daihatsu jurusan Johar-Tlogosari. Sekitar pukul 09.00 mereka memarkir kendaraan di pertigaan Jl Majapahit-Supriyadi. Amin, seorang awak angkutan menuturkan, para awak angkutan menuntut agar polisi menindak kendaraan pelat hitam yang digunakan untuk ngompreng. Selama ini, beroperasinya pelat hitam jurusan Mranggen, Demak sangat merugikan angkutan resmi. Sebab penumpang dari Johar ke Pedurungan ternyata banyak yang memilih angkutan tidak resmi itu. Dalam melakukan aksinya, sejumlah awak kendaraan juga menghentikan angkutan pelat hitam jenis Isuzu. Mereka meminta angkutan ilegal itu menurunkan penumpang. Menjelang tengah hari, ratusan awak angkutan berkumpul di depan Pos Patwal Simpanglima. Mereka berteriak-teriak sambil menuntut agar oknum polisi yang melakukan pungli ditindak tegas. Kapoltabes Kombes Drs Noer Ali yang menerima laporan datang menemui pengunjuk rasa. Didampingi Kasatlantas Komisaris Yudi Amsyah, Kapoltabes berdialog dengan sejumlah perwakilan awak angkota. Sementara itu, jumlah penumpang yang telantar di jalan semakin banyak, karena bersamaan dengan jam bubar sekolah. Puluhan pelajar terpaksa mencegat truk dan kendaraan bak terbuka untuk bisa pulang ke rumah. (G6,D6,G3,D7-45) Kronologis Singkat* Pukul 09.00 puluhan angkota dari berbagai jurusan bergerak menuju Simpanglima.
* Sesampainya di Simpanglima, mereka memarkir kendaraannya di mulut Jalan Gajah Mada, depan Hotel Ciputra, dan depan pos polisi Simpanglima. Ratusan penumpang telantar.
* Awak angkota mencegat bus-bus dan memaksa penumpangnya turun. * Pukul 12.00, Kapoltabes Kombes Drs Noer Ali menemui pengunjuk rasa. Usai pertemuan selama satu jam, awak angkota membubarkan diri.(45) | |||||