
| Sabtu, 21 September 2002 | Tajuk Rencana |
Perkembangan Kontroversial di Timur Tengah- Terjadi perkembangan kontroversial dalam masalah Timur Tengah, baik yang berkaitan dengan Irak maupun konflik Palestina-Israel. Perkembangan yang menggambarkan betapa berat jalan yang harus ditempuh untuk mencegah kekerasan terjadi di sana. Jelas sekali ada jurang yang amat lebar antara keinginan Presiden Bush dan pemimpin Irak Saddam Hussein. Pemimpin Irak, seperti dikemukakan Deputi PM Tareq Aziz, telah sepakat mengijinkan kembalinya tim inspeksi persenjataan PBB dengan tanpa syarat. Langkah-langkah ke sana sudah dimulai. Bahkan sudah ada anggota tim yang berkunjung ke Bagdad untuk menyusun jadwal dan merundingkan langkah-langkah yang bakal dilaksanakan bersama para pemimpin Irak. Hal itu telah mengendurkan suasana amat tegang.
- Namun demikian, Bush berkali-kali menegaskan hal-hal yang berkebalikan dengan semangat mencari penyelesaian dengan jalan damai. Misalnya, di berbagai pernyataan ia menyatakan tetap menginginkan dilengserkannya Saddam Hussein. Ia menggambarkan pemimpin Irak itu sebagai tokoh yang berbahaya bagi dunia dan bagi upaya perdamaian di Timur Tengah. Selain dituduh terus mengembangkan senjata nuklir, biologi dan kimia (nubika), Saddam dalam pemerintahannya disebutkan telah mengabaikan HAM. Bush mengutip data yang disebutkannya dari sumber intelijen, yang mengemukakan bahwa pemimpin di Bagdad itu menahan ratusan tokoh dari golongan oposisi, menyiksanya dengan besi panas, setrum listrik, dan lain-lain. Bahkan tidak sedikit yang sengaja ''dilenyapkan''.
- Tentang kesediaan Irak menerima tim inspeksi persenjataan PBB, Bush pun menanggapi dengan nada sinis. Ia mengingatkan DK PBB untuk jangan terjebak taktik Bagdad. Yaitu mengulur-ulur waktu agar ada kesempatan untuk merampungkan program nuklir. Kalau sebelumnya pemimpin AS itu memperkirakan Bagdad baru mampu membuat senjata nuklir dalam jangka waktu sampai satu tahun, pertengahan pekan ini mengungkapkan data lebih maju. Irak mungkin mampu membuat senjata pamungkas itu hanya dalam beberapa bulan saja. Bush mengutip seorang tokoh oposisi Irak yang menyebutkan bahwa Saddam telah memiliki bahan uranium yang diselundupkan dari Brasil. Karena itu, PBB ditekan agar membuat resolusi untuk melucuti persenjataan Irak dengan batas waktu. - Tampaknya bakal terjadi balapan waktu antara proses di DK PBB dengan kenekatan Bush untuk bertindak sendiri. Antara nafsu Bush untuk melengserkan Saddam Hussein dan proses di DK PBB tentang tim pemeriksa senjata. Sekarang terjadi debat, apakah untuk itu dibutuhkan resolusi baru atau tidak. Wakil Cina di DK PBB misalnya, menyatakan tak perlu resolusi baru. Yang dibutuhkan adalah kerja sama sebaik-baiknya antara tim dan para pejabat Irak. Seorang anggota tim mengatakan, masalahnya sebenarnya tidak terlalu rumit. Irak tak mungkin menutup-nutupi instalasi nuklirnya, jika benar ada, dari pemeriksaan tim. Instalasi itu tentu sangat besar dan bukan barang yang gampang dipindah-pindah dan disembunyikan. Tidak seperti dibayangkan oleh Presiden Bush.
- Soal konflik Palestina-Israel, di PBB telah terbentuk tim kuartet yang sedang mencari jalan keluar. Tim itu terdiri atas wakil-wakil Rusia, Uni Eropa, PBB, dan AS. Tim itu berusaha mencari jalan damai berdasarkan kesepakatan Oslo tahun 1993. Kesepakatan yang ditandatangani oleh mendiang Yitzak Rabin selaku PM Israel waktu itu dan pemimpin Palestina Yasser Arafat, merencanakan pembentukan negara Palestina merdeka dalam jangka waktu lima tahun. Namun, segalanya berantakan setelah Ariel Sharon memimpin Israel dan tak mengakui perjanjian itu. Selagi tim kuartet mulai mencurahkan perhatian mencari jalan damai, di Palestina, Sharon lagi-lagi berusaha memojokkan Arafat. Serdadu Israel kemarin kembali mengurung Arafat di dalam istananya di Ramallah.
- Mencari jalan damai di Irak dan konflik Israel-Palestina ada garis yang searah. Banyak pendapat menyatakan, kemunculan terorisme yang mengancam AS adalah akibat sikap bias negara adidaya itu dalam masalah Timur Tengah. AS digugat karena menekan Irak agar mematuhi resolusi PBB, namun membiarkan Israel berbuat semena-mena di Palestina. Termasuk membiarkan Israel mengembangkan senjata nuklir. Itu sudah terjadi berpuluh-puluh tahun. Jika AS berbuat sungguh-sungguh dalam mewujudkan perdamaian Palestina-Israel, tidak mengorbankan salah satu pihak pun di Timur Tengah, termasuk Irak, diharapkan hal itu akan menjadi salah satu jalan untuk menghentikan terorisme. Irak memusuhi Israel antara lain juga akibat sikap bias AS dalam masalah Palestina. |