logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 21 September 2002 Sala  
Line

Gedung Kesenian, Pelengkap Penderita Sriwedari

SENIMAN Solo boleh marah-marah melihat keadaan Taman Sriwedari sekarang ini. Mereka sering berteriak-teriak merasa tidak diberi tempat untuk menuangkan apresiasi ataupun ekspresi kesenimanannya. Taman Sriwedari dianggap sudah tidak layak sebagai arena seni. Itu tanggapan kalangan budayawan dan seniman Solo yang sering ''sangat'' idealis dalam berkesenian.

Banyak pihak berharap, sebagai taman klangenan milik Keraton Surakarta yang kemudian diserahkan kepada Pemerintah Kota Surakarta, Sriwedari menjadi ajang berkesenian. Salah satunya sampai saat ini tempat itu masih menjadikan wayang orang (WO) sebagai primadona sekaligus trade mark kesenian tradisional Solo.

Perkembangan zaman dan peradaban serta budaya, fungsi taman sebagai pusat kesenian tradisional semakin pudar. Bermunculan kebudayaan modern seperti kompleks Taman Hiburan Remaja (THR) dengan segala bentuk mainan anak-anak. Di bagian lain juga muncul bangunan bercorak modern untuk restoran internasional. Lengkap sudah mawut-nya taman tersebut.

Saat ini tinggal tiga bangunan tidak tersentuh modernitas peradaban, yaitu gedung wayang orang, pendapa joglo dan sebuah gedung kesenian. Sayang, gedung yang tersebut terakhir kini seakan menjadi pelengkap penderita Sriwedari.

Gedung kesenian itu terletak di belakang gedung bioskop Solo Theatre, persis dekat pintu masuk taman dari arah selatan. Memang, gedung itu bukan termasuk warisan Keraton. Namun, keberadaan gedung itu ikut mewarnai kehidupan seni di taman itu.

Adalah kelompok Aneka Ria Srimulat yang mendirikan gedung itu. Sudah bisa ditebak, awalnya gedung itu menjadi ajang pentas kelompok lawak milik Teguh (sudah meninggal dunia), bos sekaligus pendiri Aneka Ria Srimulat.

Namun, bendera Srimulat tidak lama berkibar di gedung itu. Semakin hari pergelaran lawak itu surut dari penonton dan akhirnya ''almarhum''.

Sebagai seorang pengusaha bisnis hiburan, Teguh tidak menyia-nyiakan investasinya. Aneka Ria Srimulat kukut di tempat itu, gedung diisi ketoprak. Teater tradisional yang dikomandani Aris Fredy alias Gepeng (sudah meninggal dunia), salah seorang pelawak mantan Srimulat yang saat itu sedang naik daun, menyemarakkan suasana gedung itu.

Harus Mati

Lagi-lagi nasib ketoprak itu harus mati di pusat ajang kesenian tradional Taman Sriwedari. Seiring dengan turunnya bendera si ''Untung Ada Saya'' itu, ketoprak yang perabotnya diambil alih dari ketoprak Srimulat itu juga kiamat.

Jujuk Juariah, istri Teguh yang saat itu masih kencar-kencar sebagai primadona Srimulat, mengatakan, setelah ketoprak Gepeng tutup pihaknya menyerah.

Akhirnya gedung terpaksa dijual kepada pengusaha bioskop Solo Theater. Pengusaha bioskop itu kemudian menggunakannya sebagai gudang. Ketika kontrak tanah yang di tempat gedung Srimulat itu habis, gedung itu pun diserahkan kepada Pemda.

Dalam perjalanannya, gedung itu sempat juga digunakan ketoprak yang saat itu cukup populer, yaitu Siswo Budaya. Namun, tidak beda dari Srimulat ataupun ketoprak Gepeng, akhirnya grup itu juga harus hengkang karena terus merugi.

Saat ini gedung kesenian tersebut dinyatakan tidak layak huni. Kondisinya sangat memprihatinkan. Kumuh, kotor tidak keruan. Beberapa bagian bangunan hilang, beberapa tiang penyangga mulai keropos. Atap seng juga melayang tidak jelas juntrungnya. Dinding yang berupa anyaman kawat ditempeli kain bekas spanduk ataupun tripleks, menambah kumuh kondisi gedung itu.

Lengkap sudah kehancuran taman itu sebagai ajang kesenian tradisional. Dan, gedung kesenian itu seakan menjadi pelengkap penderita kehancuran Sriwedari.(sri-42k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA