
| Sabtu, 21 September 2002 | Sala |
Mengganggu, Ditata Ulang atau Dipindah
SRIWEDARI-Penataan kawasan Sriwedari yang sedang dibahas Pemerintah Kota Surakarta bersama DPRD perlu memperhatikan segi-segi yang bersifat meningkatkan kewibawaan tempatnya sebagai lingkungan cagar budaya. Karena itu hal-hal yang tidak berhubungan dengan itu, atau bahkan dirasakan mengganggu perlu ditata ulang atau dipindahkan. Lebih-lebih Taman Sriwedari memiliki nilai sejarah budaya tinggi. Taman yang dibangun tahun 1899 oleh Kanjeng Raden Adipati Sasradiningrat IV (KRA), Patih Dalem Keraton Surakarta pada masa Paku Buwono X itu dibangun untuk tujuan memanjakan perasaan keindahan masyarakat dalam bentuk rekreasi. Tidak sedikit biaya telah dikeluarkan pihak keraton untuk mendatangkan beragam satwa dan tanaman untuk ditempatkan di dalam taman. Pengelola sekaligus kurator Museum Radyapustaka Drs Mufti Raharjo mengungkapkan hal itu kepada Suara Merdeka, kemarin. ''Saat dibangun saja sudah dipikirkan soal bagaimana menciptakan perilaku berbudaya, khususnya mencintai keindahan. Tak heran dalam proses selanjutnya banyak didirikan bangunan kesenian yang mendukung, sehingga kewibawaannya sebagai lingkungan budaya harus ditonjolkan.'' Dieliminasi Dia menilai di sekitar kawasan Sriwedari kini banyak terdapat bangunan yang tidak kondusif di dalam lingkungan cagar budaya. Contohnya papan display poster film yang berukuran besar milik Solo Theater di depan Kompleks Pusat Jajan Sarwo Asri (Pujasari). ''Ukurannya yang besar menutup pandangan ke Kompleks Taman Sriwedari, khususnya Museum Radyapustaka. Padahal, meski pengelolaan museum bersifat otonom, bangunan itu cagar budaya Kota Solo,'' tandas dia. Karena itu dia berpendapat tempat atau bangunan yang mengurangi kewibawaan kawasan sebaiknya dieliminasi. ''Kalau bisa dihapus atau dibongkar dan dicarikan tempat lain yang sesuai. Lebih baik sekitar kawasan dipenuhi bangunan yang mendukung kewibawaan.'' Keberadaan art gallery atau kios-kios yang menawarkan karya seni yang banyak terdapat di Kompleks Pujasari di sebelah timur museum, menurutnya juga belum cukup mendukung lingkungan budaya. Dia tidak menyangkal benda yang dijual di kios-kios itu bersifat mendukung lingkungan, tapi perlu ada hubungan dengan bangunan lain yang saling menguntungkan. Contoh paling konkret hubungan kios dengan pihak museum yang selama ini seperti ''hidup'' sendiri-sendiri.(G9-42) |