
| Sabtu, 21 September 2002 | Sala |
Obat Bius
SEWAKTU ikut menunggui proses pembiusan singa betina Mikro di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) yang akan dikawinkan dengan pejantannya, tiba-tiba saya teringat modus operandi baru para penjahat belakangan ini. Yakni, pembiusan terhadap penumpang bus. Saya membayangkan para penjahat yang menjarah para penumpang bus itu menggunakan obat yang sama, yang digunakan untuk membius singa betina. Wah, tiba-tiba saya merinding, membayangkan korban yang tidak siuman sampai tiga hari. Bayangan saya langsung melayang saat menunggui bapak saya operasi di rumah sakit beberapa waktu lalu. Beliau juga harus dibius untuk beberapa saat, sehingga sehari penuh pascaoperasi baru sadar. ''Itu masih memakai ukuran. Dokter ahli anestesi menggunakan ukuran tertentu untuk membius pasien yang akan dioperasi. Jadi, semuanya dilakukan dengan sangat hati-hati. Sebab, salah-salah pada zaman serba terbuka ini dokter bisa digugat habis-habisan oleh pasien,'' kata Drh Wisnu, pimpro pembiusan singa yang berdiri di samping saya. Angan-angan saya juga langsung melayang kepada Ny Endah, korban anestesi sebuah operasi di sebuah rumah sakit di Solo, yang tidak bisa siuman sampai lebih dari 15 tahun, dan berakhir dengan kematiannya. La, iya. Kok tega-teganya penjahat memberlakukan korban sebegitu rupa. Apa tidak ada jalan lain yang lebih bermartabat untuk menjarah harta korban yang kadang tidak seberapa. Tetapi, ya itulah penjahat. Masak, mereka diajari bermartabat. Wong mereka rela mengorbankan martabatnya demi sepiring dua piring nasi, yang mungkin memang sangat dibutuhkan keluarganya. ''Mungkin saja mereka memang tidak bisa mencari jalan lain untuk menjarah harta korban. Bahkan mungkin mereka justru berpikiran, dengan membius si korban tidak akan merasa sakit kalau sampai kebablasan.'' Atau para penjahat itu berpikir, tidak mungkin bisa seperti Akbar Tandjung, Bob Hasan, atau Syamsul Nursalim, yang hanya dengan segurat tanda tangan bisa mengorup demikian besar uang yang tidak habis dimakan tujuh turunan. Ya, bisa jadi memang demikian singkat akal yang dimiliki penjahat bus itu, dibandingkan dengan mereka yang ngepruki orang. Padahal tujuannya sama, menjarah harta orang. Kalau dikepruki, mungkin korban merasa sangat sakit, bahkan mungkin dia akan cacat selamanya, sehingga tidak bisa lagi mencari nafkah bagi keluarganya, sebagai ganti hartanya yang dijarah. Nistanya Nyawa Orang Cuma kalau bisa, kenapa penjahat-penjahat itu tidak diajari cara membius, sehingga tidak sampai membuat klenger korban berhari-hari. Saya hanya berpikiran , kok begitu nistanya nyawa orang, sehingga kalah dengan nyawa singa betina si Mikro itu. Hewan buas itu saja harus dibius dengan obat berukuran tertentu. Tidak boleh lebih dari 4 miligram. Sebab, 1 miligram obat bius Xilacyl itu untuk berat badan sekitar 50 kilogram. Jadi, kalau si Mikro berat badannya 200 kilogram, maksimal hanya 4 miligram. Saya jadi berandai-andai, bila saja si penjahat itu tahu aturan cara mempergunakan obat bius, mungkin korban tidak akan sampai pingsan berhari-hari di RS Muwardi, dan tidak ketahuan identitasnya. Korban bisa dibikin pingsan sampai di Solo saja, sedangkan penjahatnya turun di Semarang. Ya, lumayan amanlah untuk melarikan diri. Tetapi, tentu saja yang agak disayangkan adalah tindakan Pak Polisi. Korban sudah sampai yang ke-26, tetapi belum ada tanda-tanda kasus itu terungkap. Padahal, modusnya sebenarnya sangat jelas. Yang bisa dijadikan petunjuk, sopir dan kru bus. Mereka hampir pasti tahu kejadian itu, sebab mereka pasti tidak tidur semalaman. Ketika ada korban yang klenger ketiduran secara tidak wajar, ada penumpang yang turun di sembarang tempat, sebenarnya itu bisa menjadi petunjuk. Hanya, mungkin sopir, kernet atau kru bus tidak berani ngelokke, karena penjahat pasti tidak tinggal diam. Biasanya dia meninggalkan ancaman seperti si Tommy kepada Hakim Syafiudin Kartasasmita. Nah, tanpa bermaksud mengajari Pak Polisi yang memang sudah ahlinya, mestinya kejadian itu bisa segera dihentikan. (Joko Dwi Hastanto-42k) | |||||