
| Sabtu, 21 September 2002 | Sala |
Lima Bulan Tak Hujan, Terpaksa Minum Air KeruhAIR minum yang sehat harus memenuhi beberapa syarat kesehatan. Paling tidak ada dua syarat yang paling mudah dikenali yakni air tidak berbau dan tidak berwarna. Bagi orang yang kelebihan air, syarat itu sangat penting. Air keruh sedikit saja tidak dipakai. Tapi hal itu tidak berlaku bagi warga di daerah yang kekurangan air di lereng Gunung Merapi, Klaten yang sedang dilanda kekeringan dan sudah lima bulan belakangan ini tak turun hujan. Kadang air yang sudah disimpan dalam bak tandon berbulan-bulan pun masih digunakan, padahal warnanya sudah tidak jernih lagi. Dinding tandon sudah berlumut sehingga airnya berwarna hijau. Bahkan di dalamnya ada sampah daun-daunan kering. Hal itu bisa ditemui di Desa Jiwan, Kecamatan Karangnongko, Klaten. Warga terbiasa menggunakan air keruh untuk minum dam memasak. Agar jernih, air diendapkan dulu dalam ember sebelum dimasak. Namun kenyataan itu tidak biasa bagi orang yang berlebih air. Contohnya, sewaktu I Made Sarka dari LSM Bina Swadaya dan Ir Prihadi Eko Wiratmo dari PT Tirta Investama mengantar bantuan air bersih ke Dukuh Telap Lor, Desa Jiwan, kemarin. Mereka terheran-heran melihat air bersih dituangkan ke bak tandon yang kotor. Ada air warna hijau dan sedikit sampah di dalamnya. ''Nggak apa-apa nanti kalau mau dimasak diendapkan dulu satu jam, sudah biasa kok. Air di bak itu sisa saat beli satu tangki bulan lalu,'' kata Warso Diharjo (60), warga Dukuh Telap Lor, Desa Jiwan pemilik tandon. Dia terlihat tenang-tenang saja dan warga sekitarnya tampak gembira menerima bantuan air. ''Nanti bantuan ini tak hanya digunakan keluarga saya tapi juga warga sekitar di sini, mungkin satu tangki (isi 5.000 liter-Red) bisa dua minggu,'' tutur Warso yang mempunyai seekor sapi. Untuk memberi minum sapinya saja butuh 50 liter sehari. Melihat hal itu, Kades Jiwan Suparna meminta warga untuk membersihkan bak tandonnya sebelum bantuan datang agar air bersih tidak bercampur dengan kotoran. . Sumur Bor Menurut Kades Suparna, ada 25 dukuh di Desa Jiwan, namun baru tujuh dukuh yang kebutuhan airnya bisa dicukupi dari air sumur. Dukuh Lodadi, Bendo dan Jokarang menggunakan sumur biasa yang kedalamannya antara 40 sampai 50 meter. Sedang warga empat dukuh lain dicukupi dengan air dari sumur bor di Dukuh Ngemplak Warung. Airnya bisa digunakan untuk tiga dukuh lainnya yakni Kebonagung, Secodiningratan dan Gowok. ''Hanya Jiwan sebelah barat yang sumurnya bisa keluar air, itu pun hanya untuk tujuh dukuh, sedang sebelah timur nggak bisa. Baru 48 kepala keluarga (KK) dari 825 KK yang ada di Jiwan dapat dijangkau sumur,'' ucap Suparna. Sementara itu, LSM Bina Swadaya dan PT Tirta Investama akan mengirim air bersih ke daerah yang kekeringan selama tiga bulan mendatang. Ada 40 tandon milik warga yang didata untuk mendapat jatah air bersih.(Merawati Sunantri-14) |