logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 21 September 2002 Sala  
Line

Korban Keracunan Jenang Diizinkan Pulang

SRAGEN - Semua pasien korban keracunan jenang tepung garut asal Desa Gabugan, Kecamatan Tanon pada pukul 11.00 Jumat kemarin diizinkan pulang. Rombongan 24 pasien dijemput dengan bus carteran. Para penjemput terdiri atas perangkat Desa Gabugan, famili, dan tetangga dekat menyambut pasien dengan senyum dan pelukan hangat. Suasana sekitar lokasi penyambutan di depan RSUD, kemarin mirip pasar tiban.

''Saya sudah enak badan, kini tinggal menjaga kondisi untuk memulihkan kesehatan,'' tutur Suranto kepada rekan yang menjemput. Ny Wiji Lestari dan Ny Nuryaini yang tengah hamil muda juga tampak segar. Para pasien saling bersalaman kemudian memasuki kendaraan bus.

Seperti diberitakan harian ini, semula 25 warga Dukuh Patihan, Sarirejo, dan Sapen, Desa Gabugan, Tanon muntah-muntah dan mual akibat keracunan setelah mengonsumsi jenang garut buatan Ny Prenjak. Seorang di antara 25 pasien, Pujo Suharno meninggal (Suara Merdeka, 19/9).

Meski dalam situasi memprihatinkan akibat musibah keracunan, para pasien tampak gembira. Sebab, biaya selama dirawat di bangsal kelas II Kenanga dan Anggrek RSUD dibebaskan. Pembebasan semua biaya khusus pasien korban keracunan di kelas II ditanggung DKK. Biaya itu menggunakan dana Jaring Pengaman Kesehatan (JPS) Bidang Kesehatan.

''Jika dihitung lumayan besar, yakni Rp 15 juta lebih,'' tutur seorang perawat.

Khusus pasien yang mondok di kelas I dan VIP tetap diwajibkan membayar. Mereka adalah Yoga (kelas I anak), Dwijo S, Daliyem, Hartanti, Suharno, dan Karsono, semuanya tinggal di kamar VIP. Namun, kelima pasien minta agar biaya selama perawatan juga dibebaskan.

Bukan Keracunan

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) dr Joko Subowo masih mempertimbangkan usulan itu. Sejumlah 19 pasien lain yang dirawat di kelas II dibebaskan dari biaya karena mereka memiliki kartu sehat dan biayanya ditanggung JPS.

Assisten III Sekda Drs Edy Sasongko dalam keterangannya melalui Badan Informasi dan Kehumasan mengatakan, para pasien asal Desa Gabugan, Kecamatan Tanon yang pernah dirawat di RSUD bukan korban keracunan. Namun, bahan jenang tepung garut yang dimasak Ny Prenjak terkena virus atau kuman, sehingga warga yang mengonsumsi muntah-muntah.

Sementara itu, korban Pujo Suharno alias Pak Bong meninggal karena mengidap tekanan darah tinggi, diabetes, dan lemah jantung. Sebelum makan jenang garut, korban makan sate kambing dan minum kopi. ''Keluarga Suharno sudah diberi santunan sebagai wujud bela sungkawa,'' tutur Edy.

Sejumlah warga yang ditemui terpisah menyatakan, pernyataan Edy Sasongko terburu-buru. Sebab, hal itu tidak disertai dengan bukti meyakinkan hasil penelitian laboratorium.

Sebaliknya, kepala DKK dr Joko Subowo menyatakan, sampel jenang garut yang dikirim ke Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Semarang belum diketahui hasilnya. ''Sejauh ini kami belum tahu makanan itu tercemar virus atau racun, karena hasilnya belum dikirimkan kepada kami,'' tuturnya.

Kapolres AKBP Drs Charles Himler Ngili juga masih menunggu hasil penelitian laboratorium terhadap sampel jenang. ''Setelah mengetahui hasilnya, kami bisa melanjutkan pemeriksaan terhadap Ny Prenjak,'' tuturnya.(nin-14e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA