logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 21 September 2002 Ragam  
Line

Jadikan Keluarga sebagai Tempat Berdiskusi

REMAJA sebagai kelompok masyarakat pada periode transisi antara masa anak dan dewasa, perlu mendapat perhatian khusus. Periode ini juga sering disebut sebagai usia rawan, karena keberadaanya mudah dipengaruhi. Berbagai perubahan fisik yang terjadi merupakan proses alamiah. Namun seringkali tidak diketahui hingga membuat hidupnya dalam kegelisahan sementara perasaannya penuh dengan was-was. Sehingga membuat dirinya tidak menentu bersamaan dengan adanya perubahan konsep

pencarian identitas diri.

Pada kondisi tersebut, banyak permasalahan yang muncul. Maka dalam proses pencarian identitas diri tersebut, harus mendapat bimbingan dari orang sekelilingnya yang terdekat. Terutama orangtua agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi remaja yang bertanggungjawab.

Biasanya anak-anak yang kehilangan kasih sayang mudah dipengaruhi untuk melakukan hal-hal negatif. Misalnya remaja putri, menjadi sasaran empuk para penjaja cinta (germo). Sedangkan pria remaja menjadi incaran pengedar narkoba. Mengapa demikian?. Karena pada periode transisi, apalagi keadaan sekarang serba sulit, para remaja sering kehilangan pola pikir sehat.

Perkembangan kepribadian remaja pada periode tersebut dipengaruhi tidak saja oleh orang tua dan lingkungan keluarga, tetapi juga oleh lingkungan sekolah maupun teman pergaulan di luar sekolah. Disamping itu, pengaruh berasal pula dari teknologi informasi media cetak maupun elektronika. Sehingga wawasan dan pengetahuan yang diketahui dari media yang ada akan berpengaruh pada proses pembentukan jati diri.

Periode transisi diselimuti emosi tinggi, sering menjadikan orang lepas kontrol. Seperti yang sering terjadi, setiap mengalami masalah selalu mencari jalan pintas untuk ke luar dari persoalan. Apalagi kalau keberadaanya pada keluarga amburadul. Tidak ada tempat untuk mengadu dan berlindung, tidak ada lagi tempat untuk melakukan komunikasi sebagai upaya memecahkan permasalahannya.

Itulah sebabnya, keberadaan konseling (tempat mengadu) sangat dibutuhkan. Karena kebanyakan dari mereka enggan atau malu untuk menyampaikan curahan hatinya (curhat) kepada orang tua atau keluarga. Konseling sungguh menjadi harapan sebagai pemberi arahan kepada perilaku yang positif bagi remaja ketika memasuki masa dewasa dan berkeluarga.

Seluruh persoalan akan dapat diselesaikan jika terjalin komunikasi yang baik. Harus ada jalinan rasa saling percaya dan kemauan untuk sama-sama membuka diri. Hindari sikap saling menyalahkan. Fokuskan pada persoalan yang dihadapi dan upayakan untuk secara bersamaan mencari jalan pemecahannya. Oleh sebab itu, diperlukan penanganan secara khusus. Karena sensitifnya jiwa mereka jangan sampai kehilangan kepercayaan.

Pendekatan kepada remaja harus dilakukan melalui keluarga, sekolah dan konsultasi. Tidak salah jika, BKKBN dengan misi mensejahterakan keluarga, tampil membuka Pusat Konsultasi Remaja (PKR).

Kasus Psikologi

PKR, lembaga yang dibentuk BKKBN secara khusus untuk tempat curhat. Sejak Januari 2000 hingga September 2001, mencatat ada 17.853 remaja yang memanfaatkan aktivitasnya. Dra VG Tinuk Istiarti MKes selaku pengelola KPR, mengatakan, untuk klasifikasi kasus psikologi, masalah pacar menempati urutan tertinggi.

Dari konseling remaja yang datang sendiri, sebanyak 315, ada 4,4% menyampaikan permasalahan hubungan seks, dan 8,3% kehamilan di luar nikah akibat pergaulan bebas.

Dari 2.038 remaja yang melakukan konsultasi lewat telepon, 5,3% mengaku pernah melakukan hubungan seks, da 1,1 % menyampaikan keluhan akan kehamilan akibat seks bebas. Sedangkan yang lewat surat, dari 342 remaja, ada 3,2 % telah berhubungan seks, dan hamil 0,3 %.

Dari data disimpulkan remaja yang memiliki permasalahan butuh teman untuk tempat curhat. Ini sesuai pengertian "komunikasi merupakan jendela pemecahan masalah yang dihadapi remaja".

Seringkali para remaja itu bingung menghadapi masalah yang sederhana sekalipun. Namun yang penting jangan membawa masalah tersebut kepada orang yang tdak mempunyai kemampuan memecahkan persoalan. Sebab, jika salah memilih teman bicara justru akan menambah masalah. Jadikanlah keluarga sebagai tempat berdiskusi yang terbaik untuk memecahkan masalah.

Orang tua kita adalah orang yang telah melewati masa remajanya. Pasti banyak pengalamannya yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam memecahkan problem dunia anak baru gede (ABG). (Priyonggo-35)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA