logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 21 September 2002 Ragam  
Line

Akupunktur, Pengobatan Pinggiran Jadi Ilmiah

PERKEMBANGAN ilmu kedokteran barat semakin mengagumkan, penelitian demi penelitian terus dilakukan seakan tak terbendung lagi. Berimbas pada terciptanya alat-alat kedokteran dan obat-obatan mutakhir. Namun demikian harus tetap diakui masih cukup banyak penyakit-penyakit yang tetap belum bisa diselesaikan secara tuntas oleh kedokteran barat.

Semakin canggih alat-alat maupun obat yang diproduksi, semakin meningkat pula biaya pengobatan yang harus ditanggung oleh pasien. Ini membuktikan segala sesuatu itu tidak ada yang sempurna. Kelemahan dan kekurangan selalu ada di balik segala kelebihan.

Sejak tahun 1951 dunia kedokteran barat mulai melirik pada satu model pengobatan yang dilakukan oleh masyarakat timur terutama Cina. Negara tersebut menggunakan tusukan/tekanan pada permukaan tubuh untuk menyembuhkan penyakit-penyakit dalam yang kemudian dikenal dengan akupunktur. Harapan model pengobatan tersebut dapat menutupi kelemahan dan kekurangan model pengobatan barat. Kajian demi kajian, penelitian demi penelitian dilakukan. Polesan di sana-sini dikerjakan, akhirnya sekitar tahun 1970-an merebaklah perpaduan kedokteran barat dan timur yang dikenal dengan Medico Akupunkture.

Sejarah Akupunktur

Ilmu akupungtu (Moksibusi) bagian dari ilmu pengobatan Cina. Menurut buku Huang Ti Nei Cing (the Yellow Emperor's Classic of Internal Medicine), ilmu ini mulai berkembang sejak zaman batu, kira-kira empat sampai lima ribu tahun yang lalu. Jarum batu waktu itu digunakan untuk menyembuhkan penyakit. Sebuah kasus yang diungkapkan buku itu adalah penyembuhan abses dengan penusukan jarum batu.

Setelah buku Huang TI Nei Cing, berturut-turut merebaklah buku-buku lain tentang pedoman pengobatan akupunktur seperti Nancing yang ditulis oleh Piencie, kemudian pada zaman Dinasti Tang lahirlah buku Cia I Cing yang ditulis oleh ahli pengobatan terkemuka Huang Pu Mi, dan Sun Se Miao seorang akupunkturis terkemuka menulis buku Cien Cin Yao Gang dan Cien cin I Fang.

Pada zaman dinasti Ming (tahun 960-1644) seorang ahli Wan Wei I telah berhasil membuat patung perunggu yang melukiskan perjalanan serta letak titik-titik akupunktur. Pada zaman ini pula lahirlah buku pedoman akupunktur yang kemudian diterjemahkan oleh orang-orang Barat yaitu Cen Ciu Ta Cen. Setelah masa ini akupunktur tidak mengalami perkembangan yang berarti.

Menjelang pertengahan abad XX, ilmu akupunktur dari masa tenangnya kembali berkembang pesat dengan diadakannya penelitian-penelitian oleh para dokter Barat. Pada tahun 1963 profesor Kim Bong Ham, ahli Biologi dari Universitas Pyong Yang menjelaskan serta mendemonstrasikan secara histologis dan elektrobiologis tentang meridian dan titik akupunkturnya dalam teori sistem Kyung Rak.

Dinyatakannya titik akupunktur terletak di dalam benda-benda kecil (korpuskuler) dalam sel-sel di bawah kulit manusia. Korpuskuler itu selanjutnya disebut Korpuskuler Bong Ham. Di dalamnya terdapat DNA yang berfungsi penting dalam metabolisme tubuh. Bilamana teori Kyung Rak dari Prof. Kim bong Ham ini telah diakui secara Internasional, maka ini merupakan sebuah revolusi dalam ilmu kedokteran.

Selain di Cina, akupunktur juga berkembang pesat di negara-negara lain termasuk Indonesia. John Tweedale dari Lyne Regis memperkenalkan akupunktur di Inggris pada awal abad XIV dalam buku Lancet terbitan 1823. Yang terbaru adalah Felix Mann dari Inggris telah menerbitkan ''The Ancient Chinese Art Of Healing, Acupuncture points, Anatomical Charts Of Acupuncture points, Meridian and Extra Meridian Atlas Of Acupuncture. Buku ini telah membawa Ilmu akupunktur ke seluruh dunia.

Dr Eugel Brecht Kampfer, seorang dokter dari Jerman menulis buku Curatio Colecae per Acupuncturen Japonibus Usilata yang merupakan buku pertama tentang akupunktur di Jerman.

Di Amerika Serikat, beberapa tahun terakhir ini, ilmu akupunktur telah merebut perhatian banyak dokter di sana. Di Elstein Hospital dan Massachusset Hospital telah dilakukan penelitian Anesthesia Acupuncture. Dr Allen Russek dari Institut of Rehabilitation and Medicine, New York telah berhasil dalam pengobatan penghilang rasa nyeri pasien penderita penyakit kronis dengan akupunktur.

Sisi Ilmiah Akupunktur

Pengobatan tradisional membangun pengetahuannya di atas dasar falsafah/teori yang timbul ''katanya'' berdasarkan suatu intuisi yang spontan belaka. Sedangkan pengetahuan modern berdiri di atas teori-teori yang telah diuji dengan percobaan-percobaan yang faktuil. Oleh karena itu orang sering bersikap meremehkan hal-hal yang berbau tradisional. Apalagi orang yang sudah mendalami cara-cara modern, ia bisa merasa kurang bersemangat mempelajari akupunktur, karena beranggapan hanya isapan jempol belaka. Padahal dewasa ini akupunktur berkembang pesat di atas dasar-dasar ilmiah kedokteran barat.

Akupunktur suatu model pengobatan dengan memanfaatkan chi (china) atau bioenergi dari tubuh manusia untuk memanipulasi/merangsang organ-organ sasaran supaya tercapai keadaan seimbang atau homeostasis, melalui penusukan atau penekanan atau pemanasan pada titik-titik akupunktur di permukaan tubuh. Chi diartikan sebagai suatu bioenergi yang mengalir dalam tubuh manusia secara transeluler (diduga lewat jaringan ikat kolagen) yang menghubungkan antara permukaan tubuh dengan organ-organ yang ada di dalam tubuh.

Fenomena hantaran rangsang melalui bioenergi dari suatu area tidak terlepas dari terjadinya hantaran rangsang setelah perlakuan pada area tersebut, dan fenomena ini disebut sebagai sinyal transduksi. Terbentuknya sinyal dari kumpulan sel yang aktivitas spesifiknya dapat diterangkan dengan pendekatan biofisik dan biologi molekuler, sebab adanya perubahan sifat listrik maupun konsentrasi dari beberapa molekul maupun kondisi dinding sel tersebut.

Titik akupunktur sendiri merupakan suatu area kecil di permukaan tubuh yang mempunyai karakteristik antara lain: sifat fisika bertegangan tinggi dengan hambatan rendah dibandingkan jaringan sekitarnya, dan kepekaan terhadap rangsang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Penelitian tentang keberadaan titik akupunktur dan saluran yang menghantarkannya telah banyak dilakukan para ahli. Salah satunya telah dilakukan oleh Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Akupunktur, Depkes RI.

Mereka berhasil menyuntikkan isotop Teknesium Perteknetat pada titik akupunktur dan memonitornya melalui sinar gamma dan SPECT. Fenomena dari penelitian tersebut mempunyai gambaran migrasi yang spesifik dibanding dengan jaringan yang bukan titik akupunktur. Hal ini cukup melengkapi sinyal transduksi yang bukan saja mengalirkan elektron, melainkan juga materi seluler yang di label dengan isotop teknesium perteknetat.

Pengaliran tersebut melalui melalui suatu sistem yang disebut dengan sistem meridian. Sistem meridian sendiri adalah jalur hubungan antara permukaan tubuh dengan organ dalam tubuh. Dalam satu meridian terdapat beberapa titik akupunktur yang dimanfaatkan sebagai pintu masuk rangsangan ke dalam meridian.

Eksistensi titik akupunktur jalur energi akupunktur dalam tubuh manusia semakin nyata ketika para peneliti telah berhasil menemukan perbedaan sifat kelistrikan dari titik akupunktur. Sehingga perpaduan antara sifat kelistrikan dan aktivitas migrasi isotop teknesium perteknetat titik akupunktur tersebut memberikan informasi dasar dari keberadaan titik akupunktur. Sifat hantaran elektron dan materi isotop teknesium perteknetat itu digunakan untuk penelitian akupunktur yang akan datang.

Penelitian titik akupunktur perlu dilanjutkan dengan hantaran rangsang melalui jalur hipotetik meridian sampai memberi reaksi morfofungsional pada organ sasaran. Juga perlu menyusun peta jalur rangsangan yang tidak harus sesuai dengan sistem anatomis untuk kepentingan pengembangan ilmu dan teknologi kedokteran masa mendatang dalam bidang terapi serta diagnostik.

Kemungkinan ditemukan jalur baru dan berhubungan dengan energi dalam tubuh makhluk hidup akan memperkaya ilmu kedokteran dan memberi paradigma baru bagi peneliti. Terutama perpaduan antara biologi dan fisika lebih menjelaskan peranan energi dalam fungsi organ sebagai kelanjutan pengembangan biomolekuler.

Yang paling penting dari ini semua bahwa model pengobatan akupunktur yang sejak zaman dulu selalu menjadi pengobatan pinggiran dan jauh dari pembuktian-pembuktian ilmiah, kini telah bisa menjadi konsumsi para praktisi-praktisi medis yang notabene berpikiran rasional. Diharapkan nantinya penggabungan antara medis barat dan akupunktur dari timur bisa menjadi terobosan baru dalam dunia kedokteran untuk mencapai pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara holistik dan murah. (dr Arief Nurudhin, dokter Akupunkturis Klinik Insani, Boja, Kendal-35)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA