logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 21 September 2002 Olahraga  
Line

Adhi Tidak Canggung Berbaur

Suka Adhisatya SM/C16

TINGGAL selangkah lagi PSIS Yunior lolos ke babak delapan besar. Setelah di babak penyisihan menjuarai Grup X Banjarmasin, dan kini ditunjuk sebagai tuan rumah, harapan untuk mewujudkan impian tersebut terbuka lebar. Hasil yang dicapai di penyisihan grup pekan lalu merupakan prestasi "wah" karena posisi juara grup itu diraih di kandang lawan. Berbeda dengan kompetisi tahun lalu, sekali tampil di Stadion Tridadi Sleman, laskar muda Mahesa Jenar ini langsung tersisih.

Di balik sukses di babak penyisihan grup, ada nama Suka Adhisatya yang bertindak sebagai manajer tim. Adhi -panggilan Suka Adhisatya- adalah putra bungsu Wali Kota Semarang H Sukawi Sutarip SH.

Kiprahnya dalam menangani tim terlihat serius. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai pebisnis, mahasiswa semester I Teknik Industri Undip ini tidak pernah absen memantau latihan Eko Prasetyo dkk di Stadion Citarum.

Kalau sudah masuk lapangan, status sebagai anak seorang pejabat tidak terlihat lagi. Dia akrab dengan siapa pun. Bahkan dengan para pemain seperti kakak adik. Kadang-kadang meledek, suatu saat juga dibalas ledekan oleh pemain.

Maklum, usianya masih sebaya dengan para pemain. Adhi kelahiran 3 Juli 1983 dan para pemainnya rata-rata kelahiran 1984.

"Makanan dan minuman yang disajikan untuk para pemain, Mas Adhi juga ikut menikmati. Saya sampai heran, putra seorang pejabat mau seperti itu. Yang jelas kehadirannya bisa menggairahkan rasa kebersamaan," ujar Pelatih PSIS Yunior, Cornelis Soetadi.

Dalam latihan keseharian, Adhi memang tak segan-segan minum menggunakan gelas yang baru saja dipakai oleh para pemain, tentu saja tanpa terlebih dulu dicuci sebagaimana yang umum dilakukan pemain.

Tak Dibebani

Adhi tahu betul, apa yang dilakukan selama ini merupakan salah satu cara mendekatkan diri dengan pemain. Kebanyakan, 27 pemain yang ada datang dari keluarga menengah ke bawah, sehingga jangan sampai timbul kesenjangan.

Para pemain juga merasa diperlakukan agak istimewa. Baru kali ini mereka naik pesawat pulang pergi saat bertanding, yakni dari Surabaya-Banjarmasin.

"Maaf, saya tak bermaksud merendahkan. Tapi, mereka rata-rata datang dari keluarga menengah ke bawah. Dengan pendekatan seperti itu, mereka merasa diperhatikan. Hasilnya cukup memuaskan," jelas Adhi.

Adhi, yang mengaku belajar dari orang tuanya, mengatakan di lapangan aturan main harus diterapkan ketat. Saat latihan mereka harus serius. Jika melanggar disiplin, akan diskors dan itu dibuktikannya.

Tetapi menjelang kompetisi, para pemain itu justru tidak dibebani target tertentu. Tujuannya agar tim bisa tampil lebih lepas.

Sejak berdirinya PSSI tahun 1930, prestasi terbaik tim yunior dicapai tahun 1979, yaitu lolos ke empat besar. Waktu itu, para pemainnya antara lain Edy Paryono yang tiga musim lalu mengasuh PSIS Utama. Tim Yunior itu dilatih oleh Halilintar Gunawan. (Mundaru Karya-77)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA