
| Sabtu, 21 September 2002 | Olahraga |
Ketika Ewing Bersatu dengan JordanMUNGKIN Michael Jordan merupakan sosok yang dipandang Patrick Ewing sebagai penghambat keinginannya untuk memperoleh cincin NBA di jarinya. Ketika Ewing sedang hebat-hebatnya, Jordan ternyata makin mengukuhkan dirinya sebagai raja NBA. Dalam pertarungan di antaranya keduanya, Jordan dengan Chicago Bulls-nya berkali-kali mempecundangi timnya Ewing saat itu, New York Knicks. Logis andai Jordan dianggap sebagai figur utama yang menyebabkan Ewing beberapa kali "sakit hati", mengingat Chicago Bulls meraih lima kemenangan dalam seri playoff atas Knicks. Ketika keduanya masih mahasiswa pun, persaingan di antara mereka juga telah terjadi. Hasilnya, timnya Jordan juga yang menang. Dalam final kompetisi bola bakset antarperguruan tinggi se-Amerika Serikat (NCAA) tahun 1982, North Carolina University berhasil menundukkan Georgetown University. Tapi dunia olahraga sejati bukanlah arena perseteruan abadi. Premis ini dibuktikan Ewing dengan kesediaannya bergabung dengan tim tempat Jordan bernaung saat ini, Washington Wizards, setelah menyatakan diri pensiun sebagai pemain. Diperkenalkan oleh mantan presiden Madison Square Garden David Checketts sebagai pemain terhebat New York Knick dalam sejarah, atlet berusia 40 tahun itu secara resmi mengumumkan pensiunnya pekan ini. "Saya akhirnya mengambil suatu keputusan dan itu sangat baik bagi saya," katanya. "Saya punya banyak teman dan beberapa musuh dalam karier saya. Tetapi, saya rasa saatnya bagi saya untuk pergi." Klub itu merupakan tempat dia menorehkan hampir semua kenangannya tentang NBA. Dia mengorbit selama 17 musim di kompetisi yang dipandang sebagai liga basket paling bergengsi di dunia, sekalipun sekarang muncul keraguan tentang anggapan itu seiring dengan kegagalan tim Amerika Serikat dalam kejuaraan dunia di Indianapolis beberapa hari lalu. Selama 15 musim dia bermain untuk New York Knicks. Cedera Salah seorang dari 50 pemain terbesar dalam sejarah NBA ini bermain untuk Orlando Magic musim kompetisi lalu. Sebenarnya dia mengalami masalah dengan lututnya dalam beberapa tahun terakhir. Center berusia 40 tahun itu adalah penghuni hall of fame basket dengan mengubah Knicks menjadi kandidat juara NBA, tetapi tak pernah satu kali pun mampu memberi gelar juara bagi tim ini. Prestasi terbaik yang diukirnya di klub adalah membawa Knicks ke final NBA 1994 dan 1999. Kekurangan itu membuat pensiun Ewing menjadi saat yang manis bercampur pahit. Ewing mengalami nasib seperti halnya Jordan, Charles Barkeley, David Robinson, dan Hakeem Olajuwon yang bergelut dengan cedera di usia senja. Ketika penampilannya menurun itu, dia akhirnya memutuskan mundur. Kini Ewing akan membantu Jordan. Beberapa menit setelah mengumumkan pensiunnya, Ewing juga menyatakan akan menjadi seorang asisten pelatih keempat bagi Washington Wizards. Tiga lainnya adalah John Bach, Larry Drew, dan Brian James. Entah bergurau entah tidak, dia mengaku siap pula tampil di lapangan sebagai centre ekstra bila pemilik Wizards, Abe Pollin, memintanya. Pada musim kompetisi lalu, seteru abadinya di lapangan, Michael Jordan, mengejutkan dunia karena meninggalkan masa pensiunnya untuk main bagi Wizards. "Michael selalu mengganggu saya dari jauh tentang seri playoff, ketika mereka mengalahkan kami," kata Ewing. "Saya kira hal buruk mengambil tugas ini adalah karena sekarang saya mungkin mendengar hal itu setiap hari." The Dream Team Bekerja bersama dengan center Wizards, Brendan Haywood, merupakan tugas utamanya di Washington hari-hari mendatang. Pemain yang 11 kali tampil dalam tim All-Star ini berada pada posisi sebagai pengumpul poin terbanyak Knicks sepanjang masa (24.815). Dia juga mencatat 10.759 rebound, 1.061 steal, memainkan 1.039 pertandingan. Dari 10.759 poin itu, 9.260 dicetak selama permainan berjalan (field goal) dan 526 dari lemparan bebas. Musim terbaik bagi Ewing muncul tahun 1992-1993, ketika memiliki rata-rata 24,2 poin dan 12,1 rebound setiap pertandingan. Tetapi Knicks kalah dalam enam pertandingan dari Bulls pada final Wilayah Timur musim itu. Sekalipun kariernya di belantara NBA bisa dibilang "tak bermahkota", tetapi reputasinya dalam arena internasional tertulis dalam tinta emas, mengingat keberadaannya dalam tim AS yang meraih medali emas Olimpade. Pada 1984 dia dikalungi medali emas Olimpiade Los Angeles. Delapan tahun kemudian di Barcelona dia mengulangi sukses itu. Di Barcelona itulah tim basket Amerika Serikat mendapat julukan The Dream Team untuk kali pertama. Selain Ewing, di tim itu terdapat antara lain Larry Bird, Hakeem Olajuwon, Charles Barkley, David Robinson, Scottie Pippen, Christian Laetner, Karl Malone, John Stockton, Clyde Drexler, dan tentu saja Michael Jordan. Kini kesempatan Ewing bersatu lagi dengan Jordan kembali terbuka, sekalipun keduanya memainkan peran berbeda. Yang satu on the field, yang lainnya duduk di bench. (Ananto Pradono-22t) |