
| Sabtu, 21 September 2002 | Berita Utama |
Al-Faruq Dikenal Banyak Sumbang Buku Agama
PEMBERITAAN majalah Time mengenai Omar Al-Faruq (31) membuat kaget masyarakat Bogor. Sebab, warga Kampung Cijambu RT 2/1 No 85, Desa Cisalada, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, itu dikenal banyak menyumbang dalam bidang keagamaan. "Omar Al-Faruq dua kali berkunjung ke rumah saya dan memberikan sejumlah buku tentang agama Islam yang isinya beragam, mulai hukum, fiqh, dan lainnya, " kata Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Hikmah, H Mohammad Dadan Djalaludin, di Cijeruk, Jumat kemarin. Isi buku-buku yang disumbangkannya, menurut Dadan, tidak ada yang aneh-aneh, dan secara umum juga diketahui sebagai ajaran Islam yang universal. Diwawancarai di kantor Pondok Pesantren yang berada tepat di depan rumah Ny Mira Agustina (24), istri Al-Faruq, dia menjelaskan bahwa sejauh yang diketahuinya pergaulan sosial kemasyarakatan keluarga Al-Faruq, meski tidak terlalu intens dengan warga setempat, tidak ada yang menonjol dari perilaku keluarga itu. Seperti sudah dilansir secara luas, Al-Faruq ditangkap 5 Juni 2002 di kawasan Terminal Baranangsiang, Bogor. Dia, seperti yang diberitakan di majalah Time baru-baru ini, dicap oleh Amerika Serikat sebagai wakil tertinggi jaringan Al Qaedah pimpinan Usamah bin Ladin. Dalam laporan Time edisi internet 15 September, Al-Faruq yang dituduh teroris -seperti tudingan AS yang selalu menyebut jaringan Al-Qaedah sebagai organisasi teroris- adalah warga Kuwait. Dia ditangkap oleh Dinas Intelijen AS (CIA). Dikabarkan, dia mengungkap rencana penyerangan sejumlah fasilitas AS di Asia Tenggara pada 11 September 2002, dan majalah terbitan AS itu menulis panjang lebar tentang aktivitas Al-Faruq berdasarkan apa yang disebut "data rahasia CIA". Namun, ihwal status kewarganegaraan Al-Faruq yang disebut Time warga Kuwait itu dibantah oleh Dubes Kuwait untuk Indonesia, Jamal Mubaraq, hari Rabu (18/9), di Jakarta. "Faruq bukanlah warga negara Kuwait. Hal itu dibesar-besarkan pers Amerika," kata Jamal Mubaraq usai mengantar beberapa anggota parlemen Kuwait menemui Presiden Megawati Soekarnoputri. Selain laporan Time itu, pers Barat juga menyebutkan bahwa Al-Faruq pernah dua kali, yakni tahun 1999 dan 2001, dalam percobaan pembunuhan atas Presiden Megawati. Atas tuduhan-tuduhan tersebut, Mira Agustina, perempuan kelahiran Jakarta 31 Maret 1978 itu jelas-jelas membantahnya, baik data CIA maupun laporan Time, karena pada saat terjadi teror bom di malam Natal (2001) dan peristiwa 11 September 2001, suaminya berada di Bogor bersama dirinya. Menurut Mohammad Dadan Djalaluddin, dalam interaksi antara dirinya dan Al-Faruq, ada beberapa perbedaan pendapat dalam memahami Islam. Dia memberi contoh saat dirinya dan sejumlah umat Islam setempat pulang dari ziarah ke makam Wali Songo (Wali Sembilan) -tokoh yang dikenal sebagai penganjur Islam di Pulau Jawa- Al Faruq menanyakan apa pentingnya kegiatan ziarah itu. "Dia bertanya, di sini (Cijeruk-Red) kan banyak makam, mengapa harus jauh-jauh ke Wali Songo," kata tokoh dan takmir (pengurus) Masjid As-Sa'adah, yang letaknya juga berdampingan dengan rumah keluarga Al-Faruk itu. Menurut dia, meski tingkat pergaulan dengan warga tidak intens, namun Al-Faruq dikenal taat dan tepat waktu dalam salat berjamaah, baik subuh, zuhur, asar, magrib, maupun isya. Malahan, saat Idul Adha, dia menyumbang hewan kurban dalam jumlah cukup banyak. Belum Jelas Saat ditanya benarkah Al-Faruq itu warga Kuwait, Mohammad Dadan Djalaluddin tidak bisa menjawab pasti, namun diakuinya bahwa bahasa Indonesia yang dipakai tidak terlalu lancar, meski bisa dimengerti. Sedangkan menurut pengakuan Mira Agustina, berdasarkan akta kelahiran dan KTP (kartu tanda penduduk), sang suami aslinya bernama Mahmud bin Ahmad Assegaf, kelahiran Ambon, 24 Mei 1971. Oleh ayah Mira, yang bernama Haris Fadillah (kini sudah almarhum), dia diperkenalkan pada Mahmud alias Omar Al-Faruq pada tanggal 26 Juli 1999. Dia dinikahkan langsung oleh ayahnya. Dari hasil pernikahannya dengan Al-Faruq, dia dikarunai dua putri yang masing-masing bernama Al-Choliah (2,5) dan Al-Hanun (1,5). Oleh kedua putrinya, sang ayah dipanggil dengan sebutan "Abi". Mengenai kisah hari-hari terakhir bersama Al-Faruq, sebelum akhirnya mendapat kabar dari suami adik ayahnya yang bermukim di Swedia bahwa suaminya ditangkap, Mira menjelaskan, tanggal 26 Mei 2002 suaminya mengantarkan dirinya ke Tanjung Pinang. Rencananya, mereka akan meneruskan perjalanan ke Malaysia untuk mengunjungi salah satu bibi Mira yang sudah menjadi warga negara Malaysia, sehingga untuk kepentingan itulah, kemudian suaminya kembali ke Bogor untuk mengambil paspor. Kontak terakhir dengan suaminya adalah pada 5 Juni 2002 lewat telepon seluler yang mengabarkan Al-Faruq dalam perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bogor, dan sejak itu pula dia kehilangan kontak dengan suaminya, sampai ada kabar bahwa suaminya ditahan di Kuba. Namun, menurut laporan Time, suaminya diinterogasi CIA secara rahasia di Afghanistan. "Saya mengetahui tentang suami saya dari internet, yang menyebut-nyebut bahwa suami saya terlibat teroris jaringan Al Qaedah dan oleh petugas dibawa ke Jakarta, selanjutnya dibawa ke Malaysia, hingga kini ditahan di Afghanistan oleh tentara Amerika," katanya. Dia menambahkan, berdasarkan dugaannya, kini suaminya berada di AS. "Saya mau lapor ke polisi untuk mencari tahu keberadaan suami saya, tapi kedua anak saya yang masih kecil-kecil tak bisa ditinggal," ktanya. Tidak Percaya Dia pun hingga kini masih tidak percaya bahwa suaminya itu anggota teroris. Sebab, sejak pernikahan dengan Al-Faruq di Ambon pada tahun 1999 hingga kini berada di Bogor, setiap hari suaminya berjualan pakaian dan mengajar mengaji. Sementara itu, Ny Oman, ibu kandung Mira, mengatakan, saat terjadi penangkapan terhadap Al-Faruq, rumahnya yang terletak di Desa Cisalada, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, juga didatangi oleh belasan petugas. Para petugas itu masuk ke dalam rumah tanpa disertai surat penggeledahan dan mengacak-acak lemari pakaian di dalam kamar menantunya hingga kemudian Al-Faruq ditangkap ketika turun dari sebuah bus di daerah Baranangsiang, Bogor, pada 5 Juni lalu. Sedangkan Kusmana atau Engkus (55), Ketua RW 1 Desa Cisalada, mengatakan, pada tanggal 5 Juni sekitar pukul 01.00 WIB ada dua orang berpakaian preman yang mengaku dari Imigrasi, minta diantar ke rumah Omar Al-faruq yang sehari-harinya dipanggil Abu di Desa Cisalada. Saat diantarkan ke rumah Ny Oman, tempat kediaman Al Faruq bersama istrinya dan dua anaknya, ternyata rumah Ny Oman sudah dikepung oleh belasan orang berpakaian preman. Katanya, Omar terlibat pemalsuan paspor dan narkoba. Kedua orang itu juga mengatakan, operasi tersebut dipimpin oleh seorang perwira tinggi berbintang satu. Warga sekitar menduga orang-orang berbadan tegap dan berpakaian preman itu adalah petugas Interpol. Namun, menurut Republika (18/9), ketika dikonfirmasikan ke Sekretaris Interpol Mabes Polri Brigjen Pol Dadang Garnida, pihaknya belum pernah mengetahui sama sekali ada jaringan Al Qaedah tertangkap. "Gila itu, kalau tertangkap pasti kami mengetahui dong," katanya dan menambahkan bahwa bagaimanapun CIA tidak bisa begitu saja menangkap orang yang bukan dari wilayah hukumnya. Sementara itu, pengamat intelijen Dr AC Manullang mengatakan, pengakuan Al-Faruq yang ditulis Time perlu dicermati. Tidak tertutup kemungkinan, informasi tersebut hanyalah dummy intelligent information (berita bohong) untuk mencapai tujuan tertentu. Mengenai kronologi kejadian penangkapan, menurut Mohammad Dadan Djalaluddin, warga setempat memang tidak begitu tahu persis. Hanya sebagai salah satu sesepuh -di samping Ketua RW setempat- dirinya dan beberapa orang lain diberi tahu secara halus agar menutup pintu menjelang proses penangkapan itu. (ant-29t) | |||||