
| Sabtu, 21 September 2002 | Berita Utama |
AS Andalkan Pembelotan Tentara Irak
WASHINGTON - Para perencana militer AS memandang bulan Februari sebagai waktu terbaik untuk memulai perang terhadap Irak dan sangat bergantung pada pembelotan tentara Irak untuk membantu menggulingkan Saddam Hussein, tulis The Washington Times, Jumat kemarin, mengutip pejabat pertahanan senior. Harian itu mengutip dua sumber pertahanan senior yang mengatakan, Februari akan menjadi waktu paling mungkin untuk menggempur Irak dan pertempuran itu mungkin akan berakhir sebelum April, yaitu sebelum panas menyakitkan pada musim semi dan panas di Teluk Persia.
Juru bicara Pentagon (Dinas Pertahanan AS) tidak bersedia mengomentari laporan tersebut. Menurut harian itu, para perencana melihat suatu pengerahan pasukan militer akan selesai dalam beberapa pekan, bukan enam bulan seperti terjadi pada Perang Teluk 1991. Sumber pertahanan tersebut mengatakan kepada The Washington Times, waktu yang tepat tersebut belum disetujui atau ditandatangani Presiden AS George W Bush sebagai rencana perang. Para pejabat mengatakan pada harian tersebut, Pentagon masih berdebat tentang jumlah kekuatan yang diperlukan untuk melancarkan perang di Irak, dengan angka-angka berkisar dari 75.000 sampai 250.000 tentara. Disebar Luas Rencana tersebut menyerukan agar pasukan disebar luas untuk menghindari pembentukan kamp-kamp besar, yang dapat dengan mudah menjadi sasaran rudal Scud Irak, tulis laporan tersebut. Sumber itu juga mengatakan, AS akan mengandalkan pembelot dan pembangkang di dalam tentara Saddam. ''Kami tahu nama-nama setiap komandan divisi,'' kata seorang pejabat militer. ''Tentara dan rakyat Irak ingin mencampakkan Saddam. Yang mereka butuhkan adalah kita, sebagai kekuatan pendorong.'' Menurut harian tersebut, para perencana militer sedang melihat cara untuk mencari sebanyak mungkin sasaran dari udara dalam hari pertama kampanye melawan Irak dengan menggunakan rudal penjelajah Tomahawk dan pesawat siluman pengebom B-2. Bila tempat-tempat peluncur rudal darat ke udara Irak telah dihancurkan, pesawat pengebom B-52 dan B-1 akan bergabung dalam perang tersebut, menggempur pusat-pusat komando penting dan markas-markas Saddam yang telah diketahui, tulis harian tersebut. Seruan Saddam Dari New York diberitakan, saat sejumlah pemeriksa senjata PBB mengungkapkan rencana ke Irak bulan depan, Presiden Saddam meminta PBB menghentikan Presiden Bush yang berkeinginan menyerang negaranya. Dalam sebuah surat yang dibacakan Menlu Irak di hadapan 190 anggota Majelis Umum PBB, Kamis, Saddam mencoba membalas rencana perang AS dan menyangkal negaranya memiliki senjata terlarang. ''Saya menyatakan di hadapan Anda bahwa Irak bersih dari seluruh senjata biologi, kimia, dan nuklir,'' katanya dalam sebuah pesan yang dibacakan Menlu Naji Sabri hanya beberapa hari setelah Bagdad setuju menerima kembali tim pemeriksa senjata PBB tanpa syarat. Dia menuduh AS ingin menghancurkan Irak dengan tujuan menguasai perekonomian Timur Tengah yang berbasis minyak dan mengisyaratkan batas-batas yang boleh dilalui para pemeriksa senjata, dengan mengatakan hak-hak Irak, kedaulatan dan keamanan harus dihormati. ''Kami menyetujui kembalinya tim pemeriksa senjata ke Irak, dengan pertimbangan pengaturan-pengaturan yang dibuat harus sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut,'' katanya.(rtr-ben-ant-46t) | |||||