
| Sabtu, 21 September 2002 | Berita Utama |
Partai Besar Tak Lagi Memiliki Daya Tarik
JAKARTA - Partai-partai besar tidak lagi memiliki daya tarik, baik dari program-program yang ditawarkan maupun tokoh-tokoh yang dimilikinya. Kondisi seperti ini dapat dimanfaatkan oleh partai-partai kecil yang pernah ikut Pemilu 1999 maupun partai-partai yang baru berdiri untuk membentuk aliansi strategis guna menghadapi Pemilu 2004 dan menyiapkan calon presiden alternatif, karena publik mulai muak terhadap calon yang diajukan partai-partai besar. Demikian diungkapkan Wakil Direktur Eksekutif CSIS Dr J Kristiadi kepada pers di sela-sela HUT Ke-2 Aliansi Nasionalis, di Jakarta, Kamis (19/9). Dia menjelaskan, publik mulai muak terhadap sosok dari partai-partai besar karena omongan dan tindakan politiknya yang tidak sesuai dengan keinginan publik. ''Presiden, yang notabene ketua umum partai besar (PDI-P -Red), telah mengajukan calon gubernur yang pernah menginjak-injak partainya, bagaimana publik bisa menerima,'' kata Kristiadi memberi tamsil. Menurutnya, jika partai-partai kecil dan baru itu beraliansi atau berkoalisi guna menyiapkan seorang figur untuk diajukan menjadi calon presiden, publik akan bisa menerimanya sebagai calon alternatif. Sebagian publik, tambahnya, sudah mulai melirik dan memikirkan kemungkinan munculnya tokoh alternatif. ''Tokoh yang bisa diterima publik adalah sosok yang memiliki kecerdasan spiritual, memiliki kesucian, karena omongannya bisa dipercaya.'' Cukup Banyak Menurutnya, banyak tokoh yang bisa diajukan Aliansi Nasionalis seperti Cak Nur (Nurcholish Madjid-Red), Syafii Maarif (Katua Umum PP Muhammadiyah), Salahuddin Wahid (Ketua PB NU), dan KH Hasyim Muzadi (Katua Umum PB NU).'' Dalam kehidupan sehari-hari, lanjut Kristiadi, tokoh-tokoh itu masih bisa dipercaya publik. ''Tentu tidak mutlak kita percaya begitu saja, karena mekanisme kontrol tentu tetap ada. Namun setidak-tidaknya apa yang dikatakan tokoh-tokoh itu selama ini juga menjadi tindakannya,''tandasnya.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan upaya Aliansi Nasionalis mudah dipatahkan partai-partai besar melalui UU tentang Parpol dan UU tentang Pemilu, Kristiadi mengatakan, aliansi partai-partai itu bisa membuka peluang untuk tetap survive dan ikut Pemilu 2004. ''Siapa tahu dulu berkat aliansi Gus Dur bisa jadi presiden, padahal partainya tidak kuat.'' Aliansi Nasionalis terdiri atas sebelas partai peserta Pemilu 1999 yang suaranya kurang dari dua persen, yaitu Partai Aliansi Demokrasi Indonesia (PADI), Partai Bhineka Tunggal Ika (PBI), Partai Pilihan Rakyat (Pilar), Partai Kebangsaan Merdeka (PKM), Partai MKGR, Partai Murba, Partai Nasional Demokrat (PND), Partai Nasional Bangsa Indonesia (PNBI), PNI, Partai Pekerja Indonesia (PPI), dan Partai SUMI. Ketua Umum PND Edwin Henawan Sukowati mengatakan, pihaknya akan membentuk aliansi untuk menghadapi Pemilu 2004 dan sudah menyiapkan tokoh untuk diajukan menjadi calon presiden alternatif. Menurutnya, Aliansi Nasionalis sedang menggagas kerja sama menghadapi Pemilu 2004. Aliansi Nasionalis yang terdiri atas sebelas partai, katanya, bisa bertambah anggotanya dan akan bisa melampaui 2 persen ketentuan threshold, dan ada peluang untuk mengajukan capres alternatif. (nas-29t) | |||||