logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 21 September 2002 Berita Utama  
Line

Money Changer di Jalanan Kota Nunukan

Mengais Rezeki dari Para Pengungsi

TRANSAKSI: Seorang penjual mata uang ringgit sedang melakukan transaksi di Jalan Pelabuhan Baru Nunukan, Kalimantan Timur. Usaha money changer di jalanan merebak setelah membanjirnya TKI yang dideportasi dari Malaysia. (Foto:Suara Merdeka/G1)

Membanjirinya tenaga kerja Indonesia (TKI) yang terusir dari Malaysia ke wilayah yang berbatasan dengan Indonesia, yakni Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, tidak selamanya mendatangkan bencana. Ribuan TKI itu menjadi lahan subur usaha penukaran mata uang ringgit-rupiah. Bagaimana usaha itu berjalan?

DI tengah lalu lalang pejalan kaki dan arus lalu lintas yang mulai padat di mulut pintu keluar Pelabuhan Tunon Taka belasan pemuda menyodor-nyodorkan uang kertas kepada setiap pejalan kaki. Nominalnya, bervariasi dari Rp 1.000 hingga Rp 100.000 dan 1 ringgit hingga 150 ringgit.

Achmad (23), pemuda asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, membawa segepok uang kertas tanpa rasa takut. Kendati jumlahnya totalnya mencapai jutaan rupiah, dia tidak waswas dengan perilaku kriminal yang setiap saat bisa menimpanya.

Sebuah transaksi kilat baru saja terjadi. Seorang TKI yang berambut ikal sambil membawa travelling bag tampak mendekat. Lalu terjadi transaksi di ujung Jalan Pelabuhan Baru itu. Dia memperdagangkan 1 ringgit sekitar Rp 2.600 dan dibeli Rp 2.300. Selesai mendapatkan uang rupiah, TKI yang baru merapat dari Tawau, Malaysia, bergegas meninggalkannya.

Achmad masih sibuk menghitung uang-uang kertas. Orang-orang berseliweran dengan tujuan masing-masing.

''Di sini aman. Dua tahun saya menekuni usaha ini tidak pernah mendengar ada kasus pencopetan,'' katanya. Sekitar 50 meter dari tempat itu, ratusan TKI berjejal-jejal antre mengurus paspor di Kantor Imigrasi Nunukan. Membaur dengan para calo yang menawarkan jasa pengurusan kilat.

Kota Nunukan yang memiliki areal seluas 1,7 hektare dengan penduduk sekitar 79.363 jiwa yang tersebar di 5 kecamatan serta 214 desa itu jauh berbeda dari kehidupan kota besar di Jawa.

Di Semarang kasus pencopetan setiap hari bisa terdengar. Korbannya bisa pedagang atau pembeli di pasar, pegawai di bus kota, karyawan di sebuah tempat pemberhentian angkutan umum atau pembobolan uang di mesin ATM.

Bahkan, perampasan dengan modus gendam di siang bolong baru saja terjadi. Pelaku kejahatan pada umumnya membawa lari segepok uang, perhiasan, dan barang-barang berharga.

Hanya Digenggam

Namun, di kabupaten yang berdiri tiga tahun lalu itu sama sekali tidak terdengar. Khususnya terhadap orang-orang yang memiliki usaha penukaran uang. Padahal, sebendel uang kertas itu hanya berada di dalam genggaman.

Tidak banyak polisi di sekitar kawasan itu. Beberapa petugas keamanan terlihat di dermaga memelototi naik-turunnya penumpang kapal. Jarak dermaga menuju pintu keluar sekitar 200 meter yang dihalangi dengan bangunan tempat penumpukan penumpang.

Usaha tersebut dirintis sejak Kabupaten Nunukan menjadi tempat persinggahan yang strategis bagi para TKI. Wilayah perbatasan tersebut kerap menjadi tempat TKI untuk mengurus perlengkapan paspor dan dokumentasi penting lain.

Sejak Pemerintah Malaysia menetapkan UU Keimigrasian baru, aturan untuk bisa bekerja di negeri jiran harus dilengkapi dengan dokumentasi dan surat-surat penting. Antara lain paspor, job order dari PJTKI, serta keterangan massa kerja.

Puluhan ribu TKI berbondong-bondong didepak dari negeri yang dipimpin Mahathir Mohammad itu lantaran terkena aturan tersebut. Alternatif paling mudah adalah mengurus dokumentasi tersebut di Kabupaten Nunukan.

Makin Untung

Maka, kota tersebut kini padat oleh TKI/WNI bermasalah. Tentu sebagian besar dari mereka membawa uang dalam bentuk ringgit yang diperoleh selama bekerja di Malaysia.

Sementara di Nunukan transaksi pembayaran yang sah tetap menggunakan rupiah. Tak pelak, puluhan bahkan mungkin ratusan pedagang mata uang pinggir jalan marak. Mereka mengais rezeki di tengah para pengungsi.

''Dulu hanya berjumlah belasan orang. Tapi sejak dua bulan lalu jumlahnya bisa mencapai ratusan orang. Tidak ada pembatasan untuk usaha ini. Yang berminat bisa langsung bekerja,'' tutur Udin (29), pedagang mata uang sejak enam tahun lalu.

Tidak seperti Achmad, dia memilih lokasi tepat di jantung Kabupaten Nunukan. Dari sudut alun-alun setiap hari dia bisa ditemui.

Bersama rekan-rekannya seprofesi, dia menawarkan dagangannya. Usahanya bertambah laris tatkala TKI makin banyak yang berada di Nunukan. (Agus Toto Widyatmoko-16t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA