
| Sabtu, 21 September 2002 | Berita Utama |
Ditangkap berkat Intelijen IndonesiaBANDUNG - Menkopolkam Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, penangkapan terhadap Omar Al-Faruq adalah berkat kerja pihak Indonesia, baik Polri maupun intelijen dan pihak asing, dalam kerangka kerja sama melawan terorisme. "Jadi tidak benar ada yang mengatakan seolah-olah Al-Faruq ditangkap oleh intelijen asing dan intelijen Indonesia kecolongan," katanya, seusai menjadi pembicara pada Seminar Paradigma Masyarakat Industri Menuju Indonesia Baru, di kampus Institut Teknologi Bandung, Jumat kemarin. Majalah Time melansir, penangkapan Al Faruq, 5 Juni lalu dilakukan oleh intelijen asing. Padahal, kata Yudhoyono, kenyataannya tidak demikian. Berkaitan dengan keberhasilan tersebut, kata dia, hasil kerja Polri dan intelijen Indonesia patut diberi penghormatan, seperti halnya dalam keberhasilannya dalam membongkar kasus narkoba atau aksi peledakan bom. Dikatakan pula, belum lama ini intelijen Indonesia juga berhasil mengidentifikasi salah seorang warga asing yang hendak melakukan teror di Indonesia. Pada bagian lain, Bambang menyebutkan perihal penangkapan terhadap empat orang WNI di Filipina. Berdasarkan perkembangan pemeriksaan, katanya, ketiga orang itu hanya melanggar ketentuan keimigrasian. "Terlebih lagi, kedatangan warga Sangir Talaud ke Mindanao itu sudah biasa untuk mencari kerja," katanya. Sedangkan yang satu orang lagi, yaitu Oscar M, diidentifikasi oleh petugas Filipina, terlibat terorisme. Pemerintah Indonesia akan tetap memperhatikan hal-hal tersebut, bahkan Atase Indonesia di Filipina serta Kapolri telah mengirim petugas untuk membantu dan mengurus segala sesuatunya agar WNI itu memperoleh perlindungan hukum. Mega Perlu Waspada Fungsionaris PDI-P Permadi SH meminta Presiden Megawati Soekarnoputri untuk mewaspadai benar informasi badan intelijen AS, CIA, yang menyebutkan adanya rencana dari kelompok teroris jaringan Al-Qaedah di Indonesia untuk membunuhnya. ''Jika Mega menelan mentah - mentah informasi tersebut, ia bisa terjebak dalam permusuhan dengan kelompok Islam. Pemerintah jangan percaya begitu saja dengan laporan CIA. Karena informasi itu bisa saja sebagai adu domba antara Mega dengan kelompok Islam, dengan maksud agar pemerintah mengikuti kemauan AS,'' kata Permadi di Jakarta, Jumat kemarin. Kendati mengingatkan pimpinan partainya itu berhati-hati, Permadi minta agar Mega bertindak tegas terhadap siapa pun yang terbukti melakukan aksi teror. Ia sendiri meyakini di Indonesia ada kelompok teroris, sekalipun tidak begitu saja percaya kelompok itu terkait dengan jaringan Al-Qaedah. ''Kegiatan teroris di Indonesia itu ada. Tapi kita tidak tahu apakah ada hubungannya dengan Al-Qaedah atau tidak,'' tandasnya. Mengenai hubungan Al Faruq dengan Seyam Reda (warga negara Jerman keturunan Arab), Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar mengatakan, kemungkinan besar mereka punya hubungan. Tapi soal bentuk hubungan itu, pihak kepolisian masih mendalami. (bu,A20,ant-29) |