
| Sabtu, 21 September 2002 | Semarang & Sekitarnya |
Seorang Korban Pembiusan KaburSEMARANG-Seorang korban minuman berisi obat bius kemarin sekitar pukul 09.00 melarikan diri dari RSUP Dokter Kariadi. Padahal, pria yang tercatat bernama Bambang (30) asal Keling, Jepara itu masih sangat lemah. Jarum infus masih menancap di tangannya. Dua temannya, Ridwan (40) asal Kudus yang tinggal di Cililitan, Jakarta Utara, dan Sukamto (29) warga Mrepet, Purbalingga yang tinggal di Jatiluhur, Jakarta Timur sampai kemarin masih lemah. Namun keduanya sudah bisa diajak ngobrol. Kendati dalam satu bangsal C III, tempat tidur keduanya agak berjauhan. Sukamto mengatakan, waktu itu dia duduk sendirian. Ketika PO Jaya Bhakti Super yang dia tumpangi lepas dari Tol Cikampek, dia didekati seorang pria. Setelah duduk di sebelahnya, pria tersebut menawari minuman. ''Tapi bukan Buavita,'' kata dia. Beberapa saat setelah minum, menurut Sukamto, kepalanya pusing. Setelah itu dia tidak sadarkan diri sampai ada orang yang membangunkan dan menurunkan dia di Semarang. Padahal, rencananya turun di Tegal dan melanjutkan perjalanan ke Purbalingga. Ketika terbangun, dompet berisi uang Rp 200.000 serta ATM BCA dan BNI 46 sudah raib. Diduga benda itu dibawa kabur pria yang menawari dia minuman. Lelaki itu sebenarnya ingin bercerita lebih banyak lagi. Sayang, seorang wanita penjaga bangsal C III RSUP Dokter Kariadi memotong pembicaraan antara wartawan dan korban. Dia minta dulu surat izin dari pengamat keperawatan. Wartawan media cetak dan televisi sebelumnya berusaha minta surat yang dimaksud, tapi petugas rumah sakit berbelit-belit. Sebelum mewawancarai korban, penjaga bangsal itu meminta wartawan minta izin ke pengamat keperawatan di lantai II ruang ICU. Namun, setiba di ruangan tersebut, seorang wanita yang keberatan menyebut identitasnya lagi-lagi meminta wartawan lebih dulu izin ke Direktur RSUP Dokter Kariadi. ''Harus ada izin Direktur. Kalau tidak, kami tidak berani,'' kata wanita itu. Karena dikejar batas waktu, wartawan minta tolong wanita tersebut menelepon Direktur RSUP. Wanita itu langsung menjelaskan, dirinya sudah menghubungi, namun Direktur tak mengizinkan wartawan mewawancarai korban. Dua Kemungkinan Kapolsek Genuk AKP Wasidi mengatakan, ada dua kemungkinan yang melatarbelakangi Bambang kabur dari rumah sakit. Dia mungkin takut membayar biaya rumah sakit. Tapi bisa saja dia takut dengan kahadiran polisi. ''Tubuhnya penuh tato. Bisa jadi, dia terlibat suatu tindak kejahatan,'' kata Wasidi. Tidak ada yang tahu bagaimana pemuda tersebut bisa kabur. Sukamto yang tempat tidurnya berdekatan dengan Bambang juga tidak tahu. ''Tadi di sini. Sekarang nggak tahu ke mana?'' kata dia sambil menunjuk tempat tidur Bambang yang kosong. Mengenai kejadian itu, polisi sudah menghubungi keluarga korban. Tapi sampai kemarin belum satu pun pihak keluarga yang menjenguk. ''Meski kejadiannya bukan di wilayah hukum Poltabes dan Polsek Genuk, kasus ini tetap kami usut sampai tuntas. Pengelola PO Jaya Bhakti Super akan kami panggil untuk kami mintai keterangan,'' kata Wasidi. Seperti diberitakan, tiga korban Kamis siang lalu tergeletak lemas di sekitar jalan masuk ke Terminal Terboyo setelah diturunkan dari bus PO Jaya Bhakti Super. (D7-45c) |