
| Sabtu, 21 September 2002 | Semarang & Sekitarnya |
Banyak Hal yang Bisa Dilakukan di SemarangDALAM dunia kepariwisataan, baik regional, nasional, maupun internasional, Kota Semarang masih dipandang sebelah mata. Citra ini sungguh menyakitkan bagi sebuah kota yang kaya bangunan kuno dan bersejarah yang menyimpan selaksa kisah kepahlawanan. Citra kurang mengenakkan hati itu tentu menggelisahkan pebisnis pariwisata di ibu kota Jateng ini. Antara lain Asteria T Hesty, Director of Sales & Marketing Hotel Grand Candi. Apa yang dia bilang ketika ditemui di ruang kerjanya di Jalan Sisingamangaraja 16 Semarang, belum lama ini? "Setiap kali mengikuti berbagai event pariwisata di luar Jateng atau pada saat melakukan misi sales untuk hotel tempatku bekerja, kemudian menawarkan kepada orang-orang untuk berkunjung ke Semarang, mereka selalu bingung dan bertanya, 'Apa yang bisa dilakukan di Semarang?' Atau, mereka bilang, 'Ada apa di Semarang? Apa yang bisa dilihat?' Sedih sekali hati ini mendengar itu," ujar wanita kelahiran Magelang, 17 Agustus itu (dia keberatan menyebut tahun kelahirannya-Red). Kota Lama "Lalu aku bilang pada mereka, ada banyak hal bisa dilakukan di Semarang. Dan aku akan terus-menerus penuh semangat bercerita mengenai Semarang dan Jawa Tengah," janji perempuan yang pernah bekerja di Sahid Hotel (1992-1994), Melia Purosani Hotel (1994-1996), Choice Hotels International (1996-1997), Ibis Malioboro Hotel (1997-2000), dan Novotel Yogyakarta & Ibis Malioboro (2000-2002), ini berapi-api. Sambil membetulkan ID card-nya, Asteria menyatakan sesungguhnya Semarang kaya potensi kepariwisataan. Dia menunjuk keunikan Kelenteng Sam Po Kong di Gedung Batu Semarang. Kelenteng itu konon dibangun utusan Kaisar Ming dari negeri Cina yang bernama Sam Pok Tai Jin atau Sam Po Kong yang melakukan muhibah ke Jawa. Ada pula yang menyebutkan kompleks bangunan kuno itu dulu masjid. Juga ada situs jangkar Dampo Awang (lafal orang Jawa untuk menyebut Sam Po Kong-Red). Semarang juga punya kawasan Kota Lama di sekitar Jembatan Berok dan Gereja Blenduk serta Lawang Sewu, saksi sejarah saat meletus pertempuran lima hari melawan tentara Jepang (14-18 Oktober 1945). (Ghufron Hasyim-76g) |