
| Sabtu, 21 September 2002 | Internasional |
Ada Gagasan Pendam Emisi CO2 di Bawah Permukaan BumiLEICESETER - Karbon dioksida (CO2) diyakini sebagai unsur utama pencemaran udara yang membuat iklim dunia makin panas. Para pakar berpikir keras, bagaimana menjinakkannya. Maka, ada gagasan untuk ''memendam'' emisi CO2 itu di tanah bawah dasar laut demi menyelamatkan planet bumi. ''Emisi karbon dioksida pada masa depan mungkin harus disuntikkan masuk ke lapis permukaan bumi, kalau lingkungan ingin diselamatkan,'' kata Andy Chadwick, pakar geofisika di British Geological Survey. ''Pengasingan CO2 adalah salah satu alat paling ampuh yang kita miliki untuk mengurangi emisi CO2 ke atmosfer,'' tambahnya. Dia menyatakan ha itu kepada para wartawan awal pekan ini, di Leicester (Inggris). Dikatakannya, tehnik memompa karbon dioksida kembali masuk ke dalam bumi, dengan cara yang memungkinkan CO2 itu tidak keluar lagi ke atmosfer, telah diterapkan dan berhasil dengan sempurna di ladang gas Sleiper, Laut Utara, dalam beberapa tahun belakangan. Operatornya, Statoil (perusahaan minyak Norwegia), telah menginjeksikan sekitar lima juta ton karbon dioksida ke dalam lapisan batu mengandung air garam, sekitar satu kilometer di bawah dasar laut. Setelah beberapa waktu, survei-survei seismik tiga dimensi menunjukkan CO2 yang diinjeksikan itu secara perlahan menyebar ke reservoir di bawah tanah. Di sana, CO2 tadi dikurung oleh lumpur. Biaya Tinggi Chadwick mengatakan, sekalipun hanya satu persen saja volume penyimpanan lapisan batu berisi air asin di bawah permukan bumi itu digunakan untuk menyimpan karbon dioksida, itu sudah amat signifikan. Sebab, CO2 yang dapat dikurung di lapisan yang hanya satu persen itu setara dengan keluaran CO2 selama setahun yang dilepaskan oleh 900 stasiun pembangkit tenaga listrik berbahan bakar batu bara berdaya 500 megawatt atau 2.300 pembangkit berbahan bakar gas dengan daya yang sama. Menurut Chadwick, tehnik tersebut memang memakan biaya besar, dan biayanya semakin mahal jika kita bicara soal sebuah pembangkit tenaga listrik, apalagi bila tidak ada struktur geologi yang cocok di sekitar pembangkit tersebut. ''Pada saat ini biayanya amat mahal. Tetapi, banyak sekali riset dewasa ini sedang dilakukan untuk mencari cara bagaimana mengurangi biaya tersebut,'' katanya. Dia berandai-andai, ladang-ladang gas dan minyak yang sudah kering mungkin bisa dijadikan kawasan yang bermanfaat untuk tempat penyimpanan C02. (ed-rtr-30) |