
| Sabtu, 21 September 2002 | Internasional |
Tungku Baru Hemat Energi Sedikit PolusiADI KUSHET - Dalam sebuah pemandangan yang akrab di negara kecil di Afrika, yakni Eritrea, Kessanet yang baru berusia empat tahun bermain di lantai ketika neneknya memasak serabi pada tungku kayu bakar. Namun rumah itu berbeda. Mata anak kecil itu tidak berlinang air karena asap yang mengepul dari api, dan tungku tersebut membakar sedikit kayu dibandingkan tungku tradisional. Udara di rumah itu juga begitu jernih, sehingga dinding rumah tetap berwarna putih dan tamu dapat menonton tayangan video kungfu Chuck Norris, seraya berbincang-bincang dengan sang nenek, Kebedsh Habte (57), tanpa terganggu kepulan asap yang menyesakkan napas. Eritrea berharap, desain tungku baru itu ikut berperan untuk memerangi perusakan hutan dan gangguan paru-paru yang disebabkan tungku biasa, yang digunakan oleh sekitar 2,5 miliar orang di negara berkembang (menurut perkiraan PBB). ''Saya terbebas dari asap,'' ujar Kebedsh di rumahnya di Desa Adi Kushet, pinggiran Asmara, ibu kota Eritrea. ''Saya bebas dari gangguan paru-paru. Saya juga bebas dari gangguan penglihatan.'' Menurut data PBB, tungku kayu bakar di dalam ruangan membunuh sekitar 2,5 juta perempuan dan anak-anak dalam setahun, karena mereka infeksi saluran pernapasan lantaran menghirup asap. Pejabat Pemerintah Eritrea mengatakan, dengan desain tungku yang baru, Kebedsh dan para perempuan lain yang senasib, dapat mengurangi jumlah penggunaan kayu bakar hingga separo. Tungku terbuat dari tanah liat itu menggunakan penyekat untuk menghemat panas, dan cerobong asap dari logam untuk menyedot masuk udara dan menyalurkan asap keluar. Kurangi Emisi CO2 Desain tungku itu bertujuan mengurangi ribuan ton emisi karbondioksida (CO2), dengan membakar pasokan kayu yang terkadang sudah langka secara lebih efisien dan menghemat 366 kilogram kayu bakar untuk setiap rumah tangga setiap tahun. Paul Mushamba, penasihat energi untuk Program Konservasi Energi Biomassa di Afrika Selatan, telah menggarap sebuah proyek yang sebagian didanai Jerman untuk memperkenalkan tungku logam dan tembikar hemat energi, yang dapat mengurangi kepulan asap. ''Beberapa desain benar-benar murah, sehingga dapat dijangkau orang yang sangat miskin,'' katanya. Mushamba telah menghabiskan waktu tiga tahun mengunjungi komunitas-komunitas di Afrika Selatan, dan mengatakan pilihan terbaik sangat bergantung pada materi dan biaya yang tersedia di komunitas setempat. Seringkali dia dengan cara yang sederhana memperlihatkan bagaimana cara membuat tungku tembikar kecil di dinding. Dengan mengganti tiga batu besar yang biasa ditempatkan di seputar api, dapat sangat menghemat kayu bakar dengan harga kurang dari satu dolar (sekitar Rp 9.000). Kendati demikian, tantangannya di Eritrea, seperti banyak proyek lingkungan lain yang dilaksanakan bersama keluarga-keluarga di Afrika, adalah bagaimana menyebarkan dampak positipnya dari beberapa desa ke seluruh pelosok negeri berpenduduk 3,7 juta jiwa itu. Tujuannya adalah mengubah semua tungku di daerah pelosok dengan desain tungku baru yang efisien bahan bakar, menjangkau 500.000 keluarga yang sebagian besar berada di daerah-daerah pelosok di negara bagian di tepi Laut Merah yang tandus dan jajaran pegunungan yang kering. Penyebaran Tak Mudah Namun Eritra masih berjuang untuk memperbaiki warisan perjuangan pembebasan yang sudah berlangsung 30 tahun, dan perang memperebutkan perbatasan pada tahun 1998-2000 dengan negara tetangganya yang jauh lebih besar, Ethiopia. ''Kami baru berada di tahap permulaan,'' ujar Afeworki Tesfazion, direktur penelitian energi di Pusat Riset dan Pelatihan Eritrea. ''Kami belum mencapai banyak hasil, belum menjangkau banyak orang.'' Pemerintah Eritrea mengatakan sifat proyek itu murah, sederhana, dan dapat dikembangkan di rumah, merupakan cara untuk mendorong penggunaannya di negara yang sangat bangga pada tradisi mengandalkan diri sendiri, sekali pun rencana itu menerima dana dari Inggris. Namun di negara yang banyak penduduknya tidak dapat membaca itu, penyebaran gagasan tersebut menjadi tidak mudah. Pemerintah sejauh ini telah melatih 223 perempuan untuk menyampaikan informasi mengenai tungku baru itu, dengan cara lisan kepada penduduk yang berada di pelosok-pelosok, tutur Afeworki. Tungku tersebut dirancang untuk dapat dibuat dengan biaya sekitar 180 nakfa (sekitar Rp 126.000) untuk membeli pipa cerobong asap dan berbagai komponen logam, seperti pintu tungku perapian. Penduduk desa dapat membeli setiap tungku tersebut selama setahun dengan cara mengangsur. ''Prosesnya memang lambat pada awalnya,'' kata Afeworki. ''Tapi sekarang merupakan saat paling baik untuk proyek tersebut.'' Organisator proyek mengatakan kaum perempuan Eritrea, yang dibesarkan untuk belajar menggunakan tembikar, akan mengalami sedikit kesulitan dalam membuat tungku mogogo tradisional dengan versi ramah lingkungan tersebut. Kaum perempuan telah lama diajari oleh ibu mereka untuk membuat segala sesuatu, mulai dari pot bunga sampai sofa, dari tanah liat sebelum meninggalkan rumah orang tua mereka dan mendirikan rumah bersama suami. ''Keahlian itu telah ada,'' kata Afeworki, menunjuk tiga perempuan yang mulai membuat salah satu tungku perapian di sebuah rumah di Desa Adi Gembelo, 15 km sebelah selatan Asmara. (rtr-ben-30) |