
| Sabtu, 21 September 2002 | Internasional |
Kediaman Arafat Dikepung LagiRAMALLAH - Pasukan Israel kembali mengepung Presiden Palestina Yasser Arafat di kediaman resminya di Ramallah, Tepi Barat, dan mengerahkan tank-tank ke Jalur Gaza, Jumat kemarin. Tindakan itu dilakukan menyusul serangan bom Palestina yang menewaskan lima orang di sebuah bus Israel. Kelompok militan Hamas menyatakan bertanggung jawab atas pengeboman Kamis lalu di Tel Aviv. Hamas menyatakan, serangan itu sebagai pembalasan atas kematian salah seorang militan topnya, letnannya dan 14 penduduk sipil dalam serangan udara Israel di Gaza, Juli lalu. Israel menjelaskan, negara Yahudi itu menyerang kompleks Arafat di Ramallah Kamis malam lalu untuk mengisolasi pemimpin Palestina itu dan memaksa lebih dari 20 militan yang bersembunyi di dalamnya untuk menyerah. Israel juga memberlakukan larangan keluar rumah pada malam hari di enam dari delapan kota yang dikuasai Palestina di Tepi Barat. Beberapa jam setelah pengepungan di kompleks kediaman Arafat itu, 20 orang Palestina menyerahkan diri, kata pihak militer. Namun sumber militer Israel menyebutkan, ''20 orang Palestina yang menyerahkan diri itu bukan semua orang yang dicari Israel'' termasuk Tawfiq Tirawi, kepala intelijen umum Tepi Barat, dan operasi berlanjut. AD Israel meledakkan atau meratakan dengan tanah lebih dari 10 bangunan di kompleks Arafat. Satu ledakan besar terdengar di seluruh kota itu dan mengubah sebuah bangunan dari batu yang digunakan pasukan keamanan Arafat menjadi awan debu putih. Tak seorang pun berada dalam bangunan tersebut. Pengeboman bus di Tel Aviv menimbulkan kekhawatiran terjadinya gelombang baru serangan serupa dan kembali memupus harapan perdamaian. Pengeboman Kamis lalu itu dilakukan menyusul ledakan di Israel utara, yang menewaskan seorang polisi dan memecahkan enam pekan keheningan. Arafat Tidak Cedera Para pejabat Palestina mengatakan, Arafat tidak mengalami cedera dalam pengepungan tersebut, namun salah seorang pengawalnya yang berada dalam fasilitas layaknya benteng yang dikelilingi karung pasir itu dibunuh oleh penembak jitu Israel kemarin pagi. Tidak ada kekerasan lain yang dilaporkan pada pagi itu, namun tank-tank tetap mengarahkan larasnya ke markas Arafat dan jip-jip militer berpatroli di luar kompleks tersebut. Jalan-jalan di Ramallah, pusat politik dan perdagangan utama Palestina, sepi. Para pejabat Israel menyatakan, kabinet Israel, yang mengadakan sidang istimewa Kamis lalu, tidak membuat keputusan untuk mengasingkan Arafat - suatu keputusan yang akan menyulut kemarahan Arab saat sekutu utama Israel, AS, mencari dukungan bagi perang melawan Irak. Sebelum rapat kabinet Kamis lalu, PM Sharon mengatakan dalam forum tertutup bahwa Arafat harus ''ditendang keluar'' tetapi kabinet tidak menginginkannya dideportasi, kata laporan koran Ha'aretz. Menurut koran tersebut, pendeportasian Arafat mendapat tentangan dari Menhan Israel Benjamin Ben-Eliezer dan Menlu Shimon Peres. Para pejabat intelijen juga keberatan, karena menurut mereka langkah tersebut akan merusak posisi Israel dan sebaliknya menaikkan pamor Arafat di kancah internasional. Rencana Lama Sharon Namun sebaliknya, para pemimpin Palestina khawatir. ''Itu rencana lama PM Ariel Sharon untuk menghancurkan Otoritas Palestina dan menghabisi Arafat,'' kata ketua juru runding Palestina, Saeb Erekat. Setelah pengeboman bus, pasukan Israel yang menduduki kembali sebagian besar Tepi Barat sejak Juni lalu, memberlakukan larangan keluar rumah pada malam hari di seluruh kota Palestina, kecuali Bethlehem dan Hebron tempat tingkat kerusuhan anti-Israel turun. Dalam beberapa jam pengeboman, yang juga melukai sekitar 50 orang, para pembantu Arafat mengatakan tank-tank Israel memasuki kompleksnya dan melepaskan tembakan dengan senjata mesin. ''Militer Israel mengepung kompleks tersebut dan melancarkan operasi di dalam perbatasan-perbatasannya untuk mengisolasi orang-orang Palestina yang dicari. Orang-orang Palestina itu bersembunyi di dalam kompleks itu dan bertanggung jawab atas banyak serangan teroris,'' kata sebuah komunike militer. Otoritas Palestina menyerukan masyarakat internasional untuk ''segera menghentikan agresi ini'' dan mengutuk pengeboman di Tel Aviv. Beberapa komentator Israel mempertanyakan apakah operasi militer di Ramallah itu perlu dilakukan, dengan mengatakan Arafat, yang telah ''ditahan'' di kota itu sekitar satu tahun, kini merupakan pemimpin nominal yang tidak berdaya untuk bertindak melawan kelompok militan. Pengepungan Ramallah itu disusul dengan serbuan Israel ke Gaza utara, yang dukungan sejumlah tank dan kapal meriam. (rtr-niek-46) |