logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 21 September 2002 Ekonomi  
Line

Renegosiasi Bank Niaga Dilakukan Hari Senin

JAKARTA-Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) akan melakukan negosiasi ulang dengan Commerce Asset Holding Berhad sebagai satu-satunya penawar saham Bank Niaga, Senin (23/9).

''Kami akan memanggil penasihat keuangan Commerce Asset, JP Morgan, untuk menegosiasikan kenaikan harga,'' kata Deputi Kepala BPPN Bidang Restrukturisasi Perbankan I Nyoman Sender di kantor BPPN Jakarta, kemarin.

Sebenarnya, kata Sender, Kamis (19/9) malam sudah ada pertemuan antara Kepala BPPN Syafruddin Arsyad Temenggung dan pihak Commerce. Saat itu Temenggung menyampaikan aspirasi DPR yang meminta penawar menaikkan harga saham hingga dua kali nilai buku, yaitu Rp 30-Rp 35. Nilai buku saham Bank Niaga berkisar Rp 15-Rp 17 per lembar.

Seperti diketahui, konsorsium dari Malaysia itu menawarkan harga Rp 26,5 per lembar. Belakangan, suara-suara dari Dewan meminta BPPN melakukan negosiasi ulang terhadap harga yang ditawarkan konsorsium itu.

Sebelumnya, Temenggung mengatakan, rencananya Jumat (20/9) kemarin BPPN akan melakukan renegosiasi divestasi Bank Niaga dengan Commerce Asset Holding Berhad. Pihaknya berupaya mencari harga yang sesuai dari penawaran Commerce yang saat ini menghargai saham Bank Niaga Rp 26,5 per lembar.

Langkah itu sesuai dengan permintaan DPR yang menginginkan pemerintah melakukan negosiasi ulang untuk mendongkrak harga. Kalangan DPR berharap harga saham Bank Niaga mencapai Rp 30-Rp 35 per lembar. Saat ini price book value Bank Niaga ditetapkan Rp 24,9 per lembar saham.

Temenggung mengakui, jumlah saham yang didivestasikan sangat besar. ''Harga itu bila dilihat nominalnya memang kecil. Namun jumlah saham yang didivestasi 78 miliar lembar. Jika dibandingkan dengan saham Bank Central Asia (BCA) hanya 5 miliar lembar, nilainya sangat besar,'' ujarnya.

Pada saat proses divestasi ke-2 Bank Niaga dimulai, sebenarnya ada tujuh peminat yang serius. Namun kemudian BPPN memberikan tiga ketentuan bagi ketujuh peminat tersebut, antara lain harga penawarannya harus lebih baik dari harga sebelumnya, harus mendekati harga pasar dan penawarannya harus lebih tinggi dari divestasi yang sebelumnya sudah ditangani BPPN, dalam hal ini Bank BCA.

BPPN ingin price to book value Bank Niaga lebih tinggi dari BCA. Bahkan harus lebih tinggi dari price to book value dari bank terbaik di Indonesia dan harus mendekati standar harga saham bank-bank terbaik di Asia. Ternyata dengan adanya syarat ketiga koridor itu, banyak peminta mundur.(tri-69c)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA