logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 21 September 2002 Jawa Tengah  
Line

Sate Bebek Tambak

Makin Dikenal dan Banyak Penggemarnya

BILA Anda memasuki wilayah Banyumas dalam perjalanan dari Kebumen menuju Purwokerto pasti akan melintasi Kecamatan Tambak. Jangan kaget jika di kanan-kiri jalan wilayah kecamatan paling timur Banyumas ini banyak dijumpai warung yang menawarkan sate bebek.

Sate bebek telah menjadi makanan khas daerah itu. Setidaknya itulah yang dinyatakan oleh salah seorang penjual di Pasar Tambak, Sorikhin, kepada SM.

Menurutnya, sate ini mulai diperdagangkan di Tambak sekitar tahun 1970-an. ''Saat itu penjualnya belum sebanyak sekarang,'' katanya.

Setelah beberapa tahun mendapat banyak penggemar, awal tahun 80-an daya tarik sate bebek Tambak meredup. Baru pada tahun 90-an pamor makanan tersebut mulai terangkat kembali, hingga sekarang.

Jumlah warung sate ini, baik berupa bangunan permanen maupun warung tenda, mencapai puluhan buah. Keadaan seperti itu tidak ditemukan di wilayah lain. Dengan alasan itulah, Sorikhin berani meng-klaim bahwa sate bebek memang makanan khas Tambak.

Di samping itu, lanjutnya, sate bebek Tambak memiliki cita rasa yang berbeda dengan sate sate bebek daerah lain. ''Di daerah lain, daging sate bebek kerap terasa anyir dan amis. Namun sate bebek Tambak sama sekali tidak anyir dan amis,'' tegas penjual yang memulai usahanya tahun 1999, sambil menyebut resep rahasia untuk menghilangkan bau itu.

Rata-rata penjual sate memotong sekitar 15 ekor bebek per hari. Jumlah itu akan bertambah jika musim libur tiba. Bahkan pada musim mudik lebaran, jumlah yang dipotong dapat mencapai 80 ekor/ hari. Dari beberapa rekan Sorikhin diketahui, bebek yang mereka potong diperoleh dari peternak di Gombong (Kebumen), Nusawungu (Cilacap), dan Prembun.

Besar omset rata-rata penjual sate bebek saat ini berkisar antara Rp 350.000 sampai Rp 500.000. Untuk hari-hari biasa mereka bisa memperoleh untung sekitar Rp 50 sampai Rp 100 ribu/ hari. Pendapatan mereka dapat mencapai Rp 500 ribu/ hari, bila para pemudik mulai ramai melintasi jalur selatan.

Promosi Pemudik

''Salah satu pihak yang ikut membuat tenar sate bebek Tambak adalah para pemudik. Mereka membagi cerita kelezatan sate ini ke orang lain. Tak heran penggemar sate bebek Tambak kini datang dari berbagai daerah dan semakin meningkat tiap musim mudik,'' kata Sorikhin.

Harga rata-rata satu porsi sate bebek Tambak adalah Rp 5.000. Walau secara umum sate bebek disuguhkan dengan sambal kacang, namun pembeli juga dapat memesan sate bebek sambal kecap. Layaknya sate daging lain, sate bebek juga disuguhkan bersama dengan irisan mentimun dan tomat.

''Yang sedang kami upayakan saat ini adalah meningkatkan kemampuan manajemen dan pelayanan. Bila keduanya dapat kami tingkatkan kami yakin menjual sate bebek dapat menjadi bidang usaha yang dapat benar-benar kami andalkan,'' tambahnya.

Upaya lain yang sedang digalakan para penjual sate ini adalah penganekaragaman produk daging bebek. Saat ini warung-warung sate bebek mulai menjual gulai bebek, tongseng bebek, dan dendeng bebek. Bahkan bisa jadi, menurut mereka, suatu saat akan ada produk abon daging bebek.

Satu lagi genderang wirausaha rakyat kecil sudah ditabuh. Mereka tengah berupaya keras mengangkat makanan dari daging unggas yang dahulu lebih dikenal dengan telornya.

Bola kini ada di tangan pemerintah kabupaten, apakah akan membiarkan para wirausahawan kecil itu berjalan sendirian atau ikut membantu. (M Sobirin-68)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA