logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 21 September 2002 Jawa Tengah  
Line

Waduk Mini Mampu Aliri 2 Desa

PURBALINGGA- Unit Pengolahan Air Bersih (UPAB) 'Punthuk Suruh' yang lebih dikenal dengan sebutan waduk mini di Desa Panunggalan, Kecamatan Pengadegan ternyata dalam musim kemarau seperti saat ini tidak optimal pengoperasiannya. Padahal masyarakat sekitar waduk sangat membutuhkan aliran airnya. Masyarakat menjadi bertanya-tanya, ada apa dengan waduk yang pembangunannya menelan biaya hingga Rp 5,9 miliar itu.

''Kalau seperti ini, ya percuma saja. Sebab kami tetap saja kesulitan air sewaktu musim kering seperti sekarang ini. Padahal saat peresmian berkali-kali diberitakan, kesulitan air warga Pengadegan akan teratasi dengan adanya waduk mini. Lagi pula sekarang pipa-pipa air sudah terpasang. Tapi kenyataannya kok seperti ini,'' keluh Warno (43), warga setempat.

Camat Pengadegan Kisno Wiyandono SSos mengakui adanya kesulitan air yang masih dirasakan sebagian besar warganya. Sebab dari 9 desa, hingga kini baru dua desa yang masalah airnya bisa diatasi dengan aliran dari 'Punthuk Suruh', yaitu, Desa Panunggalan dan Larangan. Sedangkan kebutuhan air bersih warga di 7 desa lainnya masih belum bisa dipenuhi dari waduk.

''Di Desa Larangan saja yang mendapat pasokan air dari waduk hanya warga di dua dusun, yaitu Dusun Malung dan Kaliasa. Sementara warga di Dusun Sirnabaya belum dapat menikmatinya. Menurut perkiraan saya, air dari waduk tidak bisa mengalir sampai ke rumah warga di beberapa desa meski pipa sudah terpasang adalah karena letak desanya yang secara geografis lebih tinggi dari waduk,'' jelasnya.

Cuma-cuma

Untungnya, lanjut Kisno, Pemkab bertindak cepat. Warga di 7 desa yang tidak mendapat aliran air dari 'Punthuk Suruh' saat ini telah memperoleh pasokan air bersih secara cuma-cuma dari PDAM. Setiap desa mendapat alokasi 7 tangki air bersih selama satu bulan. Meski dirasa masih kurang, perhatian Pemkab itu sudah bisa dirasakan manfaatnya oleh warga.

''Sebab hingga saat ini saja hujan tetap belum turun sehingga masyarakat sangat memerlukan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Warga biasanya mengambil air bersih dari sumur yang rata-rata berkedalaman hingga 25 meter. Tetapi karena musim kemarau kali ini panjang, sumur-sumur milik warga itu sudah tidak keluar lagi airnya,'' ungkapnya.

Selanjutnya Kisno mengatakan, berkaitan dengan upaya mengatasi kekeringan itu pihaknya telah menemukan sebuah mata air baru yang terletak di dekat Sungai Kirik di Desa Tumanggal. Selama musim kemarau ini debit sumber air tersebut diperkirakan mencapai 20 liter/ detik sehingga ada kemungkinan saat musim penghujan debitnya bisa lebih besar lagi.

''Sumber air ini berupa mata air. Kami telah mengusulkan kepada Pemkab untuk mengelolanya. Jika sumber ini bisa dioptimalkan maka kebutuhan air bersih warga Desa Bedagas dan Tumanggal bisa terpenuhi. Tetapi air dari sumber ini perlu dinaikkan.'' (F10-68)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA