
| Sabtu, 21 September 2002 | Jawa Tengah |
Meski Cacat Fisik, Semangat Hidup TinggiMESKI cacat fisik, semangat hidup dan keterampilan anak-anak binaan Pusat Rehabilitasi Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (PRY Yakkum) di Jalan Kaliurang Km 13,5 Yogyakarta, patut dipuji dan diacungi jempol. Sebab, dengan segala kekurangannya ternyata mereka masih mampu berbuat untuk orang lain. Yaitu, dengan membuat kerajinan kecil serta kerajinan kaki dan tangan palsu yang diperuntukkan bagi mereka yang mengalami cacat fisik, seperti kaki maupun tangan putus akibat kecelakaan atau yang lainnya. Yang lebih membanggakan lagi, hasil kerajinan mereka ada yang di ekspor ke luar negeri. Untuk lebih meningkatkan keterampilan para penyandang cacat, Pusat Rehabilitasi Yakkum melakukan kerja sama dengan Studi Batik dan Kriya Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dilanjutkan Workshop Batik dan Pencelupan dengan Pewarna Alami Ramah Lingkungan. Naskah kerja sama ditandatangani Direktur Utama PRY dr Istianto Kuntjoro dengan Pimpinan Studi Batik dan Kriya ISI Yogyakarta Jajan Purwosejati di Asrama Pusat Rehabilitasi Yakkum Jalan Kaliurang KM 13,5 Yogyakarta, Jumat (20/9) kemarin. Yang membuat trenyuh, ternyata mereka mempunyai semangat hidup tinggi. Hal itu dibuktikan dengan cara belajar keterampilan maupun mengatasi segala permasalahan hidup. Kerja sama ini hanya sebagai penambahan keterampilan, karena suatu saat nanti batik tulis sutra akan dijadikan produk unggulan bagi PRY. Selama ini, anak-anak binaannya hanya membuat keterampilan seperti kerajinan kecil, kerajinan kulit, merenda, kursus komputer dan membuat kaki maupun tangan palsu. Keterampilan yang mereka peroleh selama belajar di asrama PRY, diharapkan mampu mengatasi segala permasalahan hidup di kemudian hari. "Ini sudah menjadi tugas kami, karena misi kami membantu merehabilitasi penyandang cacat fisik sehingga fungsi fisiknya dapat ditingkatkan," kata dr Istianto. Selain itu, membuka peluang kepada penyandang cacat fisik agar mereka mampu kreatif, produktif, dan mandiri. Mendorong sikap percaya diri penyandang cacat fisik sehingga mereka mampu bersosialisasi dengan baik dengan lingkungannya. Memberi Modal Sejak berdiri 16 November 1982 lalu, PRY sudah menangani anak-anak binaan sekitar 3.234 orang dan tahun 2002 itu tinggal sekitar 60 orang. Sedangkan yang lainnya sudah dipulangkan ke rumah masing-masing. "Kami tidak hanya sekadar memberi keterampilan, tetapi juga memberi mereka modal. Dengan harapan supaya mereka bisa hidup mandiri. Untuk itu, kami memerlukan bantuan masyarakat untuk memperhatikannya," tambah Istianto didampingi Psikolog Sosial asal Belanda Frans Agerbeek yang selama ini turut memperhatikan masa depan mereka. Menurut Frans, setelah mereka hidup bersama di masyarakat, faktor utamanya hanyalah dorongan dari masyarakat itu sendiri. Istianto menjelaskan, sejak 20 tahun PRY belum menemukan aspek yang tepat. Namun awal tahun 2002 lalu, PRY menemukan solusi yang tepat bagi anak-anak binaannya tidak hanya sekadar dididik keterampilan tapi lebih dari itu. Misalnya, sebelum mereka dididik keterampilan maupun kursus komputer, dites dulu IQ-nya yang ditangani spikiater dan dokter-dokter ahli di bidangnya. Setelah mampu mandiri dan ingin keluar dari asrama, mereka oleh yayasan diberi bekal modal agar bisa mandiri. Meski demikian, pihak yayasan yang bekerja sama dengan pamong setempat tetap melakukan pemantauan atas perkembangan anak binaannya. Setelah mereka betul-betul mandiri, baru pemantauan itu dilepaskan. Sebaliknya, pembinaan selanjutnya diserahkan kepada pamong setempat. "Kami sudah mengentaskan sekitar 3.000 orang yang sudah berhasil hidup mandiri," kata Istianto bangga. Yang membuat terharu, meski mereka orang-orang cacat tetapi masih sempat memikirkan rekan-rekan maupun saudaranya yang sama-sama mengalami cacat fisik. Yakni dengan cara membuat kaki maupun tangan palsu. Baik tangan maupun kaki palsu itu, mereka buat sendiri dengan peralatan sederhana yang dimiliki asrama PRY. Hasil karya mereka itu ternyata banyak diminati orang-orang cacat fisik yang ada di dalam negeri maupun mancanegara. Yang lebih membanggakan lagi, tidak pernah sekali pun mereka mengeluh apalagi menjerit kepada pemerintah. Semoga Tuhan melindungi.....Amiin. (Sugiarto-74) |