
| Sabtu, 21 September 2002 | Jawa Tengah |
30 Tahun Bu Wakip Jualan Lontong TahuKEMRUNGSUNG atau ngaya tampaknya benar-benar jauh dari prinsip hidup Bu Wakip (63), warga Kelurahan Mlangsen, Blora Kota, yang sehari-harinya berjualan lontong tahu bumbu kecap di Jl Dr Sutomo, tepatnya di perempatan SMPN 1. Sekitar pukul 06.30, ibu empat anak itu dibantu dua pembantunya mempersiapkan dagangan, setelah itu pukul 08.00 para pembeli berdatangan, dan siang pukul 12.00 habislah dagangannya. Begitulah rutinitas sehari-hari yang menurut pengakuan Bu Wakip sudah digeluti sejak tahun 1973. Dari hasil menjual makanan seharga Rp 2.500/piring, dia memperoleh keuntungan bersih Rp 500.000 tiap bulan. Hasil itu cukup untuk biaya keluarganya. Tiga puluh tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi seseorang untuk menekuni sebuah pekerjaan. Sudah tentu pahit, getir ataupun manis sudah melekat pada kehidupan Bu Wakip. "Saya mulai jualan tahun 1973. Waktu itu tempatnya tidak di sini, tetapi di dekat Panti Marhaen (sekarang Kantor Dipenda Blora -Red). Pindah di sini kalau tidak salah tahun 1992,"jelasnya ketika ditemui Suara Merdeka di sela-sela kesibukan melayani para pelanggannya. Selain sate ayam yang sudah menjadi trade mark Blora, tahu lontong juga menjadi salah satu makanan khas kota ini. Di Semarang, Jakarta, Surabaya tidak jarang kita menjumpai sebuah warung tenda yang bertulisan "tahu lontong khas Blora". Di Blora, tidak terhitung lagi jumlah penjual lontong tahu serupa. Salah satu yang termasuk ramai dikunjungi orang adalah warung Bu Wakip itu. Tukang becak, PNS ataupun kalangan orang berduit rutin setiap hari melahap lontong tahu. Klangenan Sebenarnya bumbu masakannya mungkin sama dengan yang dibuat penjual tahu lontong lain. Hanya saja barangkali formula atau dosis bumbu, yang membuat masakan ibu yang sudah beberapa waktu menjanda itu klangenan para pelanggannya. "Saya tetap bersyukur, meski pembeli agak sepi. Yang penting bisa lumintu dan lancar," ujarnya. Menurutnya, dalam kondisi serba sulit, setiap harinya bisa menghabiskan nasi dari 3 kg beras yang ditanak. Ini belum termasuk lontong. Itu pun dia mengaku sudah bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. "Kalau ditanya untung..., yang penting lancar untuk kesehariannya." Bisa dibayangkan, betapa sibuknya dia mempersiapkan segalanya. Goreng kacang dan brambang, membeli tahu, menanak nasi termasuk memasak lontong. Padahal kesibukan semacam itu sudah dijalani selama hampir kurang 30 tahun. Toh, perempuan seperti Bu Wakip tetap setia dengan pekerjaannya. Dikatakan, untuk mempersiapkan gorengan di antaranya brambang goreng, tidak jarang memerlukan waktu seharian penuh. "Ya tidak setiap hari. untuk goreng-goreng biasanya saya lakukan satu minggu sekali," tuturnya. Keberuntungan itu bagi Bu Wakip memang perlu disyukuri. Hidup ini memang serba sulit. Banyak orang yang ingin berjualan seperti Bu Wakip. Jualan dengan banyak pembeli, mempunyai langganan tetap. (Urip Daryanto-58k) |