logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 21 September 2002 Jawa Tengah  
Line

MOCI NDISIT

Sate Kambing dengan Tusuk Lidi Kelapa

UNTUK urusan makan warga Brebes, Tegal dan Slawi sangat akrab dengan sate kambing. Menu tersebut menjadi bagian sehari-hari, baik untuk sarapan pagi, siang maupun makan malam. Tetapi dari ratusan pedagang sate di seantero tiga daerah itu, ternyata sate kambing Jatibarang-Brebes memiliki ciri dan rasa tersendiri.

Mengapa ? Jawabnya sangat mudah, karena tusuk sate menggunakan lidi pohon kelapa. Di luar Jatibarang, pedagang sate kambing biasanya menggunakan tusuk sate dari bahan bambu.

Apa bedanya tusuk bambu dengan lidi, Tasori (50) pedagang sate asal Jatibarang yang membuka usaha di Jl Sultan Agung, Kota Brebes mengatakan, tusuk sate menggunakan lidi kelapa akan memberikan rasa tersendiri pada sate yang dibakarnya. Sebab, lidi tersebut mengandung minyak yang dapat memberikan kesedapan terhadap daging yang dibakar.

''Rasa daging yang dibakar akan lebih empuk dan lebih enak dimakan,'' paparnya, kemarin.

Lelaki yang lebih dari 10 tahun menggeluti dunia usaha warung sate ini mengakui, sate Jatibarang memiliki ciri khas, dibanding sate kambing serupa. Pedagang sate Jatibarang lebih suka menggunakan kambing Jawa, ketimbang kambing jenis Gibas. Serat daging kambing Jawa, agak keras seperti ayam kampung. Namun kalau dimakan empuk, dan kandungan lemak tak begitu banyak.

Warga Sekitar

Di kota Kecamatan Jatibarang, sekitar 12 km arah selatan Kota Brebes, paling sedikit terdapat 16 pedagang sate. Mereka hampir semua menggunakan lidi pohon kelapa. Untuk mendapatkannya, ada pemasok tusuk sate dari warga sekitar. Lidi dipilih yang besar untuk memudahkan ketika menusuk daging. ''Yang kecil mudah patah atau terbakar arang,'' ujar seorang penjual sate di dekat menara air Jatibarang.

Kegemaran orang Jatibarang makan sate kambing, mempunyai sejarah tersendiri. Ketika masa jaya Pabrik Gula (PG) Jatibarang, pekerja pabrik, karyawan dan petani tebu selalu makan sate ketika musim panenan tiba. Bahkan, saat musim petik tebu dengan acara syukuran pabrik, warga dari pelosok desa sengaja ke Kota Jaibarang untuk makan sate.

Tradisi makan sate sampai sekarang kerap dikembangkan, apabila kedatangan famili dari jauh, sajian utamanya adalah sate. Yang tak ketinggalan para boro kerja dari kota besar, sebelum sampai ke rumah selalu menyempatkan diri mampir ke warung sate setempat. ''Di Jakarta sate khas Jatibarang jarang ada. Kalau ada pun pakai tusuk bambu,'' ujar Hasan, warga asal Bojong yang menetap di metropolitan.

Ciri khas lain yang bisa membedakan, sate Jatibarang cenderung besar-besar. Dalam satu tusuk terdapat sekitar lima potong daging dalam ukuran besar. Harga rata-rata setiap kodi sate Jatibarang Rp 18.000, sedangkan yang menggunakan campuran hati atau jeroan Rp 20.000 per kodi. Di Kota Brebes hanya warung Restu Ibu Jl Sultan Agung yang menyediakan sate khas Jatibarang ini. (Wahidin Soedja-20)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA