logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 21 September 2002 Jawa Tengah  
Line

Muncul Pro dan Kontra di Kalangan Warga

  • Soal Tukar Guling Bengkok Pabean

PEKALONGAN - Rencana tukar guling tanah bengkok Desa Pabean menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat setempat.

Padahal, usulan tukar guling itu kini sedang dibahas Wali Kota Pekalongan dengan DPRD. Terakhir, DPRD mengembalikan usulan dari Wali Kota karena belum memenuhi persyaratan.

Kelompok yang pro tukar guling melalui Kades Fatoyah dan ketua LKMD Hartono mengklaim usulan tukar guling sudah melalui rembuk desa. ''Kalaupun ada yang tidak setuju, hanya sebagian kecil. Itu wajar,'' kata Hartono yang ditemui kemarin.

Seperti diberitakan (SM, 18/9), masyarakat Desa Pabean, Kota Pekalongan mengusulkan ke Wali Kota Pekalongan soal tukar guling tanah desa dengan tanah milik pengembang PT Gajah Tiluwi Artha (GTA).

Dalam tukar guling itu desa mendapatkan kompensasi Rp 1,7 miliar untuk pembangunan beberapa sarana dan prasarana desa, seperti membangun lapangan sepakbola, satu masjid, dan 10 musala, kantor kelurahan, dan beberapa sekolahan.

Tanah yang akan ditukar guling 5,5 ha dan ditukar tanah milik pengembang dengan kelebihan tanah sedikit. Kompensasinya, pengembang menjanjikan Rp 1,7 miliar untuk pembangunan sarana dan prasarana di Pabean.

Usulan desa oleh Wali Kota disampaikan ke DPRD yang akhirnya dikembalikan, karena dianggap belum memenuhi syarat. Menurut Wakil Ketua DPRD Mahmud Masjkur, syarat itu antara lain eksekutif harus menyosialisasikan dan memberikan pengertian kepada masyarakat tentang tukar guling secara detail. Kemudian, mendesak PT GTA agar tanah pengganti berada di wilayah Kota Pekalongan dan persyaratan administrasi lain.

LKMD Heran

Terhadap keputusan DPRD itu, Ketua LKMD setempat Hartono heran dengan penolakan DPRD. ''Masalah tanah pengganti yang di Kabupaten Pekalongan tidak masalah. Sebab, tanah itu berdekatan dengan desa Pabean,'' katanya.

Alasan jika tanah pengganti di kabupaten akan mengurangi pendapatan karena PBB-nya masuk ke daerah lain, dinilai kurang realistis. Sebab, jika tukar guling berlangsung, pengembang akan melakukan pembangunan yang berarti memberikan masukan ke Pemkot lebih besar.

Di sisi lain, pihak yang kontra muncul pada saat pertemuan puluhan masyarakat Pabean di rumah anggota DPRD dr Basyir Ahmad. Pertemuan itu diikuti anggota DPRD Chudzil Chos dan Ghufron Faza.

Puluhan warga yang hadir mengakui membutuhkan lapangan sepakbola, tapi tidak setuju jika harus melalui tukar guling. Sebab, tukar guling akan memunculkan kesenjangan warga Pabean sebagai desa tertinggal dengan penghuni perumahan elite yang akan dibangun di bekas tanah bengkok itu.

Akibat pembangunan perumahan, desa akan kebanjiran di musim hujan. Selain itu, lokasi pengganti tanah bengkok juga terpencar. ''Karena itu, saya tidak setuju tukar guling,'' kata Muhammad Yahya (63) yang didukung seluruh temannya. (A15-17e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA