
| Sabtu, 21 September 2002 | Budaya |
Budaya Indonesia Belum TergaliMASIH cukup luas wilayah budaya Nusantara sebagai lahan garapan pengarang. Sayang, sampai sekarang, kekeyaan itu belum tergali hingga tuntas. ''Apa yang pernah dikeluhkan HB Jassin itu rupanya masih bisa kita saksikan hingga kini,'' kata General Manager Hilal AB kepada wartawan di Yogyakarta sehubungan peluncuran buku Gita Nagari Ingin Tampilkan Warna Lokal dalam Sastra, Kamis (19/9). Hilal mengatakan, kritikus sastra terkemuka HB Jassin pernah mengeluh, sesungguhnya masih luas wilayah kebudayaan di Indonesia yang belum tersentuh oleh pena pengarang. Jassin memberikan contoh, kehidupan penyelam mutiara di perairan timur Indonesia, kehidupan suku-suku bangsa terpencil di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya. Keluhan itu memang disambut banyak pengarang. Kirdjomulyono merespons lewat Penggali Kapur dan Penggali Intan, Bur Rasuanto dengan Bumi yang Berpeluh, Motinggo Busye dengan Biang Tondam, Badai Sampai Sore, belakangan Korrie Layun Rampan lewat novel Upacara. Karapan Sapi Hilal menambahkan, ada benarnya apa yang dikatakan Taufik Abdullah bahwa persentuhan antara karya sastra dengan tradisi, adat-istiadat, nilai-nilai, pandangan hidup dan alam pikiran setempat sudah biasa dan lazim didapati dalam cerita rekaan (fiksi), baik cerita pendek, novel maupun sandiwara. ''Memang harus kita akui setiap daerah dan etnis memiliki local wisdom, pandangan hidup, alam pikiran, dan nilai-nilai yang bisa dibanggakan. Maka seringkali pengarang mengangkat idiom-idiom dan alam pikiran masyarakat tersebut ke dalam cerita.'' Namun keluhan Jassin masih kita rasakan. Masih sangat luas wilayah budaya di Nusantara ini belum terjangkau oleh pengarang. Karapan sapi di Madura, ngaben di Bali, ruwatan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan berbagai upacara adat yang unik oleh suku-suku terpencil. (sgt-75) |