
| Sabtu, 21 September 2002 | Budaya |
Berdoa dengan MembadutDARI manakah srandul itu? Entah! Juga tak perlu menanyakannya pada pemain srandul dari Dusun Bumen, Cening, Singorojo, Kendal, yang Kamis (19/9) malam mementaskan kesenian itu sebagai pembuka ''Srawung Seni Sedekah Desa'' di Padepokan Lemah Putih, Karanganyar. Jawaban mereka hanya ini: ''Itu kesenian turun-temurun kami.'' Tepatnya, mereka adalah generasi ketiga. Kata mereka pula, itu warisan Mbah Duryat dari Desa Muncar di Temanggung. Ada yang mencoba memaknai srandul sebagai surasane nalika alam taksih gundul (suasana saat alam masih kosong). Alam seperti apakah dan apa hubungannya pralambang alam pada 16 adegan srandul? Sekali lagi, mereka tak bisa menjelaskan. Ada juga yang membangun kaitan dengan kisah tentang sumpah Kanjeng Sunan Kalijaga kepada pengikutnya. Konon, wali itu begitu gemas menyaksikan mereka hanya tetembangan dan mendendangkan pujian-pujian sembari menabuhi apa saja, sementara serambi masjid yang sedang direnovasi belum rampung. Padahal, pelafalan salawat mereka sangat tidak fasih alias pating srandul. Maka, jadilah srandul. Mereka memang tak bisa menjelaskan asal-usul srandul. Mereka juga tak mempermasalahkan kebenaran kisah tentang Sunan Kalijaga itu. Yang pasti, telah turun-temurun mereka menjadikan srandul sebagai medium berkesenian sekaligus ritual kebudayaan. Srandul mereka pakai sebagai medium untuk ritus sedekah bumi atau ruwatan. Dahsyatnya, mereka selalu nyrandul semalam suntuk! Pengakraban Hanya diiringi dua angklung yang diberi ornamen bulu unggas, sebuah kendang sebagai penanjak, dan sebuah gong tiup dari bambu (instrumen khas kesenian lengger dari Banyumas), serta sekelompok penggerong, 16 adegan dikemas. Itu masih diawali adegan jejer 12 pemain, semacam prelude dan untuk berdoa (semacam suluk dalam pewayangan). Panggung adalah arena dengan obor dari bambu yang dipancang tepat di tengah. Satu per satu dari 12 pemain itu ke tengah arena, berlutut di bawah pancangan obor, lalu bergerak memutari obor dalam tarian. Itu baru adegan jejer, belum masuk dalam cerita. Saat itu, setiap pemain selesai berdoa dan berdialog, pasti ada yang berteriak, ''Eh, badute teka!'' Badut? Ya, 16 adegan yang ada selalu diembel-embeli kata ''badut''. Misalnya, ''Badut Ngarep'' (adegan I), ''Badut Manuk''(II), atau pengakhir adegan ''Badut Kuthut''. Maka ada kesan, sesuatu yang pating srandul, bagi penduduk pedalaman di Kendal itu, dimanifestasikan dengan cara membadut. Dialog-dialog antara pemain dengan kru selalu berupa upaya ''membanyol'', meskipun diucapkan dengan nada datar. Tapi, badut dan membadut pada pertunjukan srandul tidak bisa diidentifikasi begitu saja dengan ungkapan ''menghibur secara murahan''. Bagi mereka, itu sebuah ritus. Boleh jadi, doa, tari, dialog berkesan ''membanyol'' dan atraksi bernuansa mistis seperti menelan obor untuk merampungi pertunjukan adalah medium ritual paling pas untuk berhubungan dengan Tuhan. Pembadutan bisa jadi cara paling representatif buat mereka untuk bisa ''akrab'' dengan Sang pencipta. Kalau tidak untuk itu, mengapa mereka menyebut Tuhan sebagai Mas Pangeran dalam doa mereka? Bukankah panggilan ''mas'' dalam keseharian adalah panggilan akrab? Semangat Ritual Boleh dibilang, kesenian Srandul bukan hanya milik warga Dusun Cening. Beberapa tempat di daerah lain seperti Temanggung dan Boyolali juga memiliki jenis kesenian itu. Tentu saja ada perbedaan kemasan, meskipun tetap berada dalam mainstream tunggal: sebuah ritus berakrab-akrab dengan Tuhan. Boleh saja penonton yang masih ''asing'' dengan jenis kesenian itu berdecak kagum pada energi para pemain, pemusik, dan penggerong. Bayangkan, mulai pukul 21.00 hingga sekitar 04.00 mereka beraksi. Lebih-lebih si peniup gong bambu yang semalam suntuk meniup meningkahi irama angklung dan kendang. Tapi adakah mereka merasa itu sesuatu yang istimewa? Sekali mereka yakin, itu sebuah semangat ritual, tak ada yang mesti disebut istimewa. Mereka hanya rela ''menjalani''. Seperti kerelaan mereka berimpit-impitan di dalam bak truk yang mengangkut mereka dari ''pedalaman'' di Kendal menuju ''pedalaman'' di Lemah Putih Karanganyar. Apalagi, tanpa istirahat, begitu usai mereka bertolak pulang dengan cara serupa. Tapi sampai kapan semangat ritual itu tetap ada sehingga srandul tetap ada pula? Agung Wibowo, kurator mereka, hanya mampu berkata, ''Saya hanya berusaha menyosialisasikan dan sedapat mungkin melestarikan srandul.'' Semoga! (Saroni Asikin-75) |