logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 21 September 2002 Budaya  
Line

Puri Jangan Hanya Ngeloni Wesi Aji

PAHEMAN Nguri-uri Wesi Aji atau yang lebih dikenal dengan nama Puri Wiji jangan hanya ngeloni keris tetapi harus lebih kreatif dalam memahami keris sebagai tosan aji dan barang seni. Demikian autokritik yang dilontarkan oleh Hertoto Basuki dalam sarasehan bulanan Kamis Pon Puri Wiji di Jl Durian Raya 8 Semarang.

Sebagai tosan aji, keris lebih sering dibahas dari aspek magi, seperti siapa empu pembuatnya, tangguh, dhapur, dan pamor-nya apa, seberapa besar energinya, dan bisa untuk kepentingan apa. ''Jadi, kalau bicara tentang keris, pasti bahasan utamanya adalah kekuatan,'' kata Hertoto.

Di depan sekitar 60 peserta sarasehan dia menandaskan, pemahaman seperti itu bukan tidak penting, namun ada yang lebih utama, yakni tosan aji dilihat sebagai barang seni yang bernilai komersial tinggi. ''Apa artinya bagus dari segi garap kalau hanya disimpan di dalam lemari, dibuka saat dipamerkan, dan dibuka lagi saat dijamasi?''

Pendekatan Bisnis

Dia pun menggugat, setelah memahami semua itu lalu apa? Apa sekadar men-candra, diskusi, lalu pameran? ''Kenapa belum terpikirkan keris dibuat atau dirancang dengan pendekatan bisnis komersial? Artinya, keris dan sejenisnya dipahami sebagai barang seni yang bisa diperdagangkan dan punya nilai tinggi,'' katanya.

Lalu dia menunjuk rekan yang dibawanya masuk ke sarasehan. ''Ini Saudara Ibrahim Pono malah sudah punya beberapa toko atau galeri keris di Johor, Malaysia. Di sini dia kulakan murah, di sana harga keris itu sampai jutaan,'' tutur Hertoto serius.

Pernyataan itu dibenarkan oleh Ibrahim. Dia mengaku sudah menjual keris ke beberapa negara sampai sekitar 300 bilah. ''Saya tidak begitu mengerti tentang keris, tetapi sebagai barang antik, saya percaya keris mempunyai nilai jual tinggi. Ya, artinya saya hanya pikirkan aspek bisnisnya.''

Lebih jauh dia menuturkan, sebagian penduduk Johor Malaysia kabarnya keturunan Jawa. Jadi, mereka masih percaya dengan keris. Apakah keris itu bagus atau tidak, banyak juga yang belum mengerti. ''Bahkan, ada di antara mereka membeli keris untuk prediksi nomer buntut,'' tutur Ibrahim disambut senyum hadirin.

Aspek Filsafat

Sebelumnya, Drs Sutadi yang juga Kepala Bawasda Jateng mengulas tentang filsafat keris. Dari proses pembuatan, mantra, dan doa-doa sang empu hingga persoalan pemahaman keris sampai hari ini.

''Ada beberapa mantra yang diawali bacaan basmallah, bahkan ada keris yang di ganja-nya bertuliskan kalimat syahadat. Keris seperti itu ditandakan sebagai keris-keris yang dibuat sesudah Islam masuk,'' tutur Sutadi.

Di samping itu, bila diperbandingkan antara keris yang baik dan buruk, masih banyak yang bertuah baik. Itu pertanda bahwa para perancang keris tetap lebih banyak yang baik dan memproduksi barang-barang yang baik pula.

''Meskipun tidak dimungkiri ada beberapa keris yang dibuat empu dengan energi dendam dan jahat,'' kata Sutadi yang cukup lama mendalami ihwal tosan aji.

Sarasehan ditutup dengan pernyataan keprihatinan KRHT Hudoyodipuro alias Ki Hudoyo. Dia mengungkapkan, tahun lalu ada seorang duta besar negara sahabat yang ketika mengakhiri tugas di Indonesia membawa pulang sekitar dua kontainer keris.

''Beliau bilang pada saya ingin membuat museum keris di negaranya. Jadi, bukan tidak mungkin nanti suatu ketika kita akan belajar keris ke sana. Kalau demikian, kita akan kebagian apa?'' tutur Ki Hudoyo. (hb-75)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA