
| Sabtu, 21 September 2002 | Budaya |
Kata-kata pun Menjadi ''Bullshit!''FILM bisu sepanjang 100 menit dengan setting hotel tua, kotor, dan nyaris tak terawat. Jika keindahan bisa muncul dari sesuatu yang buruk, maka bisa jadi Tuvalu ingin menegaskan apa yang selama ini disebut sebagai estetika keburukan itu. Digarap Veit Helmer, sutradara Jerman yang selama ini dikenal dalam pembuatan film pendek, cerita Tuvalu memang nyaris tak bisa dipahami. Inilah film bisu dengan durasi panjang. Estetika keburukan itu diawali dari seorang laki-laki yang meneropong hotel tua mercu suar. Dalam lubang intip, bangunan menjulang itu terlihat rapuh, ringkih. Sesekali, ombak berdebur-debur menghantam teras. Gambar kemudian beralih pada orang yang sedang mengeker. Sama dengan bangunan itu, ombak pun berulang kali mengguyur tubuhnya yang kurus. Tiang mercu suar bergoyang-goyang, nyaris ambruk. Agaknya, dengan gambar semi-close up itu, Helmer ingin menunjukkan dua pertentangan pada awal cerita. Pertama hotel yang tak terawat dan pengelola yang tak memiliki semangat. Ironisnya, kondisi itu berdiri di Tuvalu, sebuah tempat di Jerman yang selama ini dikenal sebagai sorga. Tempat orang-orang datang dan dengan amat mudah mewujudkan impian. Ya, pada akhirnya ini memang cerita tentang upaya penyelamatan bisnis (hotel). Denis Lavant (Les Amants du Pont-Neuf), seorang pengelola kolam renang hotel itu, cemas karena tak lagi banyak orang berenang. Kecemasannya makin menumpuk, karena kakaknya berniat meruntuhkan hotel. Sarat Simbol Cerita barangkali tak penting. Tapi yang menarik justru bagaimana cara Helmet membuat para tokoh berdialog tanpa kata. Simaklah ketika tokoh Lavant menemukan kutang seorang tamu, Chulpan Hamatova (Luna Papa), yang tersangkut di antara ram kayu. Dia mengambil kutang dan merasakan aroma wanita dari sana. Sebaliknya, Chulpan merasa aneh ketika dia tak bisa mengambil behanya. Perempuan itu melongok dan tahulah dia seorang laki-laki telah menarik-nariknya. Lewat adegan itu, Helmet seperti ingin menyampaikan sebuah dialog antara Lavant dan Chulpan, ''Jangan pergi. Tetaplah menginap dan berenang di sini...'' Film yang akan diputar hari ini pukul 17.00 di Hotel Santika itu memang menawarkan keindahan lain: pengambilan gambar yang sangat fotografis, warna teaterikal dalam hampir setiap adegan, juga dramatisasi setting. Maka inilah film semiotik. Cerita yang harus dipahami dari tanda-tanda, simbol, bukan lewat kata-kata. Dalam Tuvalu, kata-kata telah menjadi bullshit!. (Ganug Nugroho Adi-75) |