logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 17 September 2002 Tajuk Rencana  
Line

Soal Tembakau, Iklim Baik Membawa Malapetaka

- Kemarau panjang yang betul-betul kering seperti sekarang biasanya membawa berkah bagi petani tembakau. Daun pahit itu bisa mencapai kualitas terbaik. Harganya pun dapat selangit. Sangat menguntungkan petani. Bertahun-tahun hal itu dialami petani di daerah-daerah sentra tembakau, seperti di Temanggung, Kendal, Boyolali, Wonosobo, dan Muntilan. Namun yang terjadi pada kemarau panjang tahun ini justru sebaliknya. Harga tembakau ''terjun bebas''. Istilah itu digunakan oleh petani tembakau untuk menggambarkan harga daun pahit itu sekarang merosot jatuh hingga harga terendah. Jika harga daun basah yang baru dipanen biasanya Rp 3.000/kg, sekarang bisa laku Rp 1.000/kg saja sudah mujur. Bahkan, ada yang merosot lebih rendah lagi.

- Di Kendal, tembakau terbaik hasil panen tahun ini di pasaran cuma laku Rp 15.000 - Rp 17.500/kg. Biasanya dua kali lipat dari harga itu. Yang lebih bikin pusing petani di Kendal, muncul isu pabrik-pabrik tembakau menutup gudang-nya, tidak membeli lagi. Bila hal itu benar, ke mana mereka akan memasarkan hasil panen tahun ini yang sangat bagus dan melimpah? Isu itu bukan main-main. Di Temanggung juga beredar informasi serupa. Cuma di sana persoalan sebagian dapat dipecahkan. Tim pencari jalan keluar pun dibentuk. Tim yang terdiri atas anggota DPRD itu sukses membujuk dua pabrik besar, Gudang Garam dan Djarum, untuk menambah pembelian. Meski demikian, masih puluhan ribu keranjang tembakau menumpuk di tangan petani dan perantara.

- Petani tembakau di Dataran Tinggi Selo dan Cepogo, Boyolali menghadapi nasib serupa. Konon pabrik rokok mengalihkan pembelian tembakau dari daerah Muntilan. Belum diketahui alasan pasti. Akan tetapi disebut-sebut, kualitas tembakau Muntilan lebih baik. Petani Selo tidak percaya terhadap isu itu. Kemarau panjang juga memberi panenan terbaik bagi mereka. Namun mereka sudah menderita. Akibat isu itu, harga tembakau produk Selo dan sekitar ''terjun bebas'' seperti terjadi di beberapa daerah lain. Mereka rugi besar. Masa jaya saat panen, misalnya memborong hingga puluhan motor dan berbagai barang elektronik lain tampaknya bakal tinggal masa lalu. Tinggal kenangan yang sebenarnya mereka pada umumnya tidak tahu presis penyebab sesungguhnya.

- Terlalu banyak isu membelit kemerosotan harga tembakau kali ini. Mulai dari persoalan kualitas, permainan pedagang perantara, sampai pembatasan pembelian oleh pabrik rokok. Soal permainan pedagang perantara, mereka sudah hafal. Sudah dihadapi dari tahun ke tahun. Karena itu masalahnya dianggap biasa. Yang bikin pusing adalah soal kualitas. Kemarau panjang yang ke-ring memberi mereka kualitas tembakau terbaik. Namun, kemudian muncul isu banyak petani Temanggung mencampurnya dengan daun-daun dari luar daerah. Hal itu menyebabkan kualitas merosot. Petani tidak membantah hal tersebut. Mungkin ada rekan mereka yang melakukan hal itu untuk tujuan tertentu. Misalnya menambah besar margin keuntungan. Akan tetapi kini semua malah tertimpa getah. Harga merosot drastis.

- Yang paling bikin pusing, isu soal kualitas. Banyak petani Temanggung mengeluh, kualitas tembakau merosot gara-gara mematuhi anjuran pemerintah. Yaitu menanam bibit dari luar yang kadar tarnya rendah. Mereka biasanya menanam bibit jenis Sindoro-Sumbing. Kini setelah memenuhi anjuran itu, mengapa keadaan justru terbalik? Harga terjun bebas ditelan isu kualitas rendah? Mungkinkah gara-gara kadar tar rendah itu yang menyebabkan kualitas tembakau yang mereka hasilkan tak sebaik sebelumnya yang mereka tanam secara tradisional dan sudah puluhan tahun? Mereka tahu, pemerintah sedang berusaha terus menurunkan kadar tar dalam rokok sampai angka tertentu. Hal tersebut berkaitan dengan program kesehatan masyarakat. Termasuk pecandu rokok.

- Namun dalam yang terakhir itu masih ada hal yang harus ditata kembali. Jangan sampai petani yang mendukung program pemerintah malah dirugikan. Hal bisa bisa menyebabkan semakin tidak populer wajah pemerintah di mata petani. Suatu saat bisa jadi program itu justru ditinggalkan kembali. Apalagi jika ada pihak-pihak, misalnya pedagang perantara atau pengepul, yang sengaja meniup-niup isu itu untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Lagi-lagi petanilah yang jadi korban. Petani tebu sedang gonjang-ganjing gara-gara membanjirnya gula impor yang jauh lebih murah. Masa depan mereka suram, mereka gambarkan sebagai menghadapi ''hari kiamat''. Petani tembakau bukan tersaing barang impor. Bahkan hal itu rasanya tak akan terjadi. Akan tetapi jangan dibiarkan diguncang persoalan dari dalam.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA