logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 16 September 2002 Sala  
Line

Kisah di Balik Candi Sukuh (2)

Baju Sobek Tanda Tak Perawan

DIPAGARI: Lorong trap pertama Candi Sukuh yang menyimpan relief lingga-yoni itu kini dipagari. Sebab, pembuktian keperawanan dengan melangkahi relief itu dianggap pengelola berakibat tidak baik.(Foto:Suara Merdeka/G9-)

EROTISME seolah-olah menjadi cap paling sering diberikan orang pada Candi Sukuh. Patung dan relief yang menggambarkan alat kelamin pria dan wanita banyak dijumpai pada situs. Itu juga yang menjadi kekhasan candi itu dan tak terjumpai pada candi lain di Indonesia.

Tengara paling jelas terdapat pada relief phallus berhadapan dengan vagina siap melakukan coitus di lorong trap pertama. Letaknya berada di lantai lorong. Dilihat sepintas, kesan kepornoannya begitu menonjol.

Tapi banyak ahli purbakala yang menerjemahkannya tidak sekadar itu. Relief itu mirip lingga-yoni yang melambangkan Dewa Syiwa dengan istrinya (Parwati) sebagai simbol kesuburan.

Buku Candi Sukuh dan Kidung Sudamala karya Ki Padmasuminta menjelaskan, relief itu sengkalan yang cukup rumit yaitu wiwara wiyasa anahut jalu (1359 Saka atau 1437 M). Tahun itulah yang dianggap tahun pembuatan seluruh candi dan khususnya relief lingga-yoni itu.

Erotisme yang tergambar pada relief itu memunculkan kepercayaan tertentu di kalangan penduduk setempat. Paling menonjol, relief dipakai untuk membuktikan keperawanan seorang gadis. Caranya si gadis melangkahi relief, lalu bila tak terjadi apa-apa berarti dia benar-benar masih perawan. Tapi, bila ujung kain atau rok yang dikenakan robek, dia harus siap dianggap ''sudah tak perawan lagi''.

Beberapa orang yang ditemui di kompleks Candi Sukuh membenarkan kisah itu. Deteksi itu lebih banyak dilakukan oleh pasangan yang sedang berpacaran. Meski itu hanyalah mitos belaka, tak sedikit orang yang iseng membuktikannya. Ada pasangan yang lalu putus, tapi tak sedikit pula yang hanya cekikikan setelah si dara melompati relief itu.

Pembuktian

Shinta, mahasiswi UPN Yogyakarta yang ditemui saat berkunjung di situ bersama teman perempuannya Dina, mengatakan pemeriksaan keperawanan itu pernah dilakukan oleh temannya. Ceritanya, pemuda yang jadi pacar temannya itu mencurigai pacarnya telah tidak perawan. Mereka pergi ke kompleks Candi Sukuh dan melakukan ''ritual'' itu.

''Baju teman saya sobek, akibatnya pacaran mereka putus,'' kata Shinta. Dina hanya mengangguk-angguk sembari tersenyum. Ketika ditanya apakah mereka juga mempercayai itu, keduanya hanya tersenyum simpul.

Padahal pada kalangan lain yang memandang relief lingga-yoni itu secara filosofis, ada yang lebih dari sekadar pembuktian keperawanan.

Relief itu katanya berfungsi sebagai suwuk untuk ngruwat atau membersihkan segala kotoran yang melekat di hati setiap manusia.

Selain relief lingga-yoni itu, masih banyak lainnya yang menonjolkan alat kelamin. (Saroni Asikin-70/Bersambung)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA