
| Senin, 16 September 2002 | Sala |
Penambangan Pasir di KlatenBerkah Gunung Merapi Itu Terancam Habis
SELAIN kawasan Muntilan, Magelang yang terkenal dengan penambangan pasirnya, Klaten juga punya kawasan penambangan yang tak kalah potensialnya. Potensi penambangan di Klaten telah lama dijadikan mata pencaharian ratusan, bahkan mungkin ribuan warga yang tinggal di sekitar lokasi penambangan. Tak hanya itu, banyak pula warga dari luar Klaten yang ikut menggali rezeki dengan menjadi sopir atau tukang langsir. Potensi penambangan pasir dan batu di daerah ini pada dua sungai besar, yakni Sungai Simping dan Kaliworo. Keduanya melewati wilayah Kecamatan Kemalang, Manisrenggo, Karangnongko, Jogonalan, Wedi, Prambanan, dan Gantiwarno. Bahan tambang yang dikenal merupakan berkah Gunung Merapi yang tak akan pernah habis itu, telah ditambang secara tradisional turun-temurun dengan peralatan yang sederhana. Namun akhir-akhir ini, tak hanya sekop dan cangkul yang digunakan mengeruk pasir di penambangan Kaliworo, tetapi mulai hadir alat-alat berat begu yang mampu menggali puluhan kali lipat lebih cepat dibandingkan dengan tenaga manusia. Menurut data Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kabupaten Klaten, potensi batu kali dan pasir di daerah itu mencapai 31,48 juta m3. Namun, sampai akhir Desember 2000, 18,2 juta m3 di antaranya telah dieksploitasi. Artinya, hanya tersisa 13,27 juta m3 yang masih bisa dinikmati. Kawasan penambangan paling besar adalah Kaliworo, yakni sebuah sungai kering yang lebarnya mencapai 100 meter dan kedalaman mencapai 50 meter. Di sana para penambang bekerja berkelompok. Biasanya satu kelompok terdiri atas tiga sampai lima orang, yang sebagian besar masih memiliki hubungan saudara. Warga berangkat ke Kaliworo pukul 05.00 dan pulang menjelang tengah hari. Tua muda semua bekerja, bahkan anak-anak balita pun kadang dibawa ke lokasi penambangan. Aktivitas seperti itu telah menjadi gantungan hidup. Hasil penambangan mereka langsung dibeli truk yang menerima pesanan. Untuk satu truk pasir, penambang akan mendapat uang Rp 55.000 sampai Rp 65.000, yang selanjutnya akan dibagi rata untuk kelompoknya. Setiap hari di dasar Kaliworo ratusan truk datang dan pergi untuk mengambil pasir. Terancam Habis Di balik melimpahnya tambang pasir Kaliworo, ada kekhawatiran berkah Merapi itu akan habis dalam 12 tahun mendatang bila tak ada tambahan material kiriman Gunung Merapi. ''Berdasar perkiraan ada 1.000.000 m3 lebih pasir yang ditambang dalam setahun. Bila tahun 2000 hanya tersisa 13,27 juta m3 saja, diperkirakan 12 tahun lagi akan habis,'' kata Kabag Penelitian dan Pengembangan Lembaga Pengkajian dan Perlindungan Ekosistem (Litbang LPPE) Klaten Ir Tugiman. (Merawati Sunantri-14k) | |||||