
| Senin, 16 September 2002 | Sala |
11 Kantong Darah Tercemar Hepatitis BSELAMA ini orang banyak mengenal PMI sebagai lembaga yang berkutat dengan masalah transfusi darah. Bila seseorang kekurangan darah akibat kecelakaan atau operasi, maka PMI menjadi tujuan utama yang diandalkan. Tapi tak semua orang peduli dengannya saat tidak membutuhkan. Padahal, menurut Ketua Pengurus PMI Cabang Klaten, Drs H Wagiyono SIP, sebenarnya banyak hal yang ditangani PMI, mulai dari memberi pertolongan terhadap bencana alam, transfusi darah sampai pembinaan generasi muda. Saat ini, ada 44 kelompok masyarakat yang rutin menyumbangkan darah tiap tiga bulan sekali. Mereka berasal dari kelompok pencinta alam, instansi pemerintah, Polres, Gereja dan Majelis Tafsir Al Quran. ''Tiap kelompok beranggota antara 15 sampai 150 orang. Contohnya, Majelis Tafsir Al Quran yang mempunyai beberapa cabang anggotanya seratus orang lebih,'' kata Wagiyono di kantor PMI didampingi Kepala Unit Transfusi Darah, dr H Trismiyanto dan Kepala Markas PMI Klaten, Drs Sabar Sunarto, kemarin. Cegah Penularan Saat ini PMI Klaten mendapatkan bantuan reagen, yakni cairan kimia untuk mendeteksi HIV/ AIDS dari pemerintah pusat. Sekaligus mendapat pinjaman alat pendeteksi dari ABBOT. Hal itu mengingat di Indonesia, jumlah mengidap virus mematikan yang belum ditemukan obatnya itu meningkat dari hari ke hari. ''Setiap darah yang masuk ke PMI akan dideteksi dengan cairan khusus untuk mengetahui adakah kandungan virus HIV/AIDS, virus hepatitis B, hepatitis C dan penyakit kelamin. Bila ada, maka darah itu terpaksa dibuang,'' ucap dr Trismiyanto. Artinya darah siap donor sudah bebas dari virus berbahaya. Seumpama ada pendonor yang mengidap virus HIV, dia akan dipanggil kemudian diberitahu sekaligus diberi pembinaan agar tidak stres dengan kenyataan yang harus diterimanya. Selama triwulan pertama tahun 2002 terdapat 1.602 pendonor. Dari jumlah itu, dua kantong darah rusak, 11 kantong tercemar hepatitis B, dua kantong tercemar hepatitis C dan satu kantong tercemar virus kelamin sehingga terpaksa dibuang. Namun tak ada yang tercemar virus HIV. Dijelaskannya, dalam waktu setahun kira-kira ada 6.000 kantong darah yang dibutuhkan, tak hanya untuk rumah sakit di wilayah Klaten tapi juga di sekitar Klaten. Kalau untuk Klaten butuh antara 5.000 sampai 5.500 kantong. ''Darah yang kita produksi adalah darah lengkap dan darah komponen, yakni darah diambil plasma (cairan darah) atau eritrositnya (sel darah merah) saja. Pada triwulan pertama tahun 2002 kebutuhan darah meliputi 729 darah lengkap dan 739 komponen,'' ucapnya. Berdasarkan surat PMI Jateng No 24/SKP/BPPD/UTDC/VI/2002, setiap pasien yang membutuhkan darah dikenai biaya penggantian pengelolaan darah (BPPD, dulu service cost) sebesar Rp 90.000 per kantong untuk darah lengkap dan Rp 100.000 untuk darah komponen. Centrifuse dan Pemborosan Selama ini, terjadi pemborosan darah bila memproduksi komponen darah. Untuk membuat satu kantong komponen darah diperlukan antara dua sampai tiga kantong darah sehingga terjadi pemborosan. Maklum PMI Klaten masih menggunakan cara tradisional dengan dijepit sehari semalam. Berbeda dengan darah lengkap yang hanya butuh waktu dua jam. ''Untuk membuatnya diperlukan waktu lama. Ini yang sering membuat orang yang belum mengetahui prosesnya tidak sabar, kita maklum saat butuh darah waktu adalah nyawa,'' tuturnya. Untuk itu PMI sedang bercita-cita membeli alat untuk memproduksi komponen darah bernama Centrifuse. Dengan alat itu, dua kantong darah akan menjadi dua kantong komponen darah dalam waktu cuma tiga sampai empat menit saja. ''Di Jateng, yang punya alat itu baru Semarang, Solo dan Banyumas. Mungkin dalam waktu dekat Klaten akan punya, kini PMI sedang cari dana.'' Dalam peringatan itu, PMI menggelar syukuran 16 September malam, donor darah 17 September dan seminar 21 September mendatang. Diharapkan ada 80 sampai 100 orang akan ikut donor darah.(Merawati Sunantri-14) |