
| Selasa, 17 September 2002 | Berita Utama |
"Moshi-moshi" dari Negeri Sakura (2-Habis)Hanya Warga Asli Jepang yang Bisa ke Kunashiri
SETELAH hari sebelumnya Suara Merdeka berkeliling di Betsukai, kemarin meluangkan waktu untuk mengunjungi Nakashibetsu. Di wilayah ini, terdapat semenanjung yang tidak terlalu luas, tetapi di sini dibangun jalan mulus dan di kanan kiri adalah lautan. Di tempat itu ada fasilitas berupa alat teropong yang khusus disediakan bagi mereka yang ingin melihat Pulau Kunashiri, satu di antara empat pulau yang kini dikuasai Rusia. Dari tempat itu, begitu jelas terlihat pulau yang disengketakan itu, berupa gunung dan perbukitan. Keinginan kami untuk bisa mengunjungi wilayah itu begitu tinggi, namun hal itu tinggallah keinginan. Kami mencoba mengajak warga asli Jepang yang pernah ke sana agar bisa lolos, tetapi tetap saja tak membuahkan hasil. Pihak Rusia begitu ketat memberlakukan aturan bagi orang asing untuk bisa masuk wilayah tersebut. Hanya penduduk asli Jepang, khususnya di Pulau Hokkaido, yang diizinkan ke sana. Itu pun dibatasi hanya tiga hari lewat program pertukaran. Kebijakan mengizinkan itu dengan alasan kemanusiaan, agar warga Jepang bias menengok nenek moyangnya yang tinggal di Kunashiri, Etofuru, Shikotan ataupun Habomai. Kesan bahwa Rusia begitu menguasai empat pulau itu sudah terlihat ketika di Betsukai. Di daerah-daerah strategis yang memungkinkan orang asing bisa masuk wilayah yang dikuasainya, telah ditempatkan militer. Di pelabuhan Betsukai misalnya, beberapa tentara Rusia melakukan patroli. Tentunya di wilayah yang sudah masuk perairan empat pulau bermasalah itu lebih ketat lagi. Jangan coba-coba untuk menerobosnya. Kami mencoba minta izin untuk bisa menengok pulau itu sebentar, tetapi seorang anggota militer Rusia itu langsung berucap,"No..!". Merinding juga, karena semua gerak-gerik kami diawasi. Tak lama berselang setelah dijelaskan oleh anggota Rotary setempat bahwa kedatangan kami sebagai peserta grup Study Exchange Rotary International dan merupakan program persahabatan, dia kemudian cukup ramah kepada kami. Warga asli Jepang memang diberi kesempatan untuk mengunjungi, tanpa visa dan paspor meski dalam kenyataan tidaklah begitu mudah. Niwa Nastsuo, pengusaha yang tinggal di Bestsukai, mengaku sudah berkesempatan mengunjungi Pulau Kunashiri, tetapi hanya tiga hari. Lebih Buruk Menurutnya, penduduk asli Jepang yang tinggal di pulau itu kondisinya lebih buruk dibandingkan dengan warga yang tinggal di Hokkaido. "Mereka umumnya hidup miskin. Karena itu, banyak juga yang menginginkan wilayah itu kembali menyatu dengan Jepang," kata pria yang punya hobi mengoleksi barang antik itu. Kondisi itu tentu bertolak belakang dengan kehidupan warga Jepang yang di Hokkaido. Di sana hampir setiap keluarga memiliki mobil dan hidup berkecukupan. Juga fasilitas umum begitu lengkap, jalan mulus, pertokoan lengkap, dan seabrek fasilitas lainnya. Ketertarikan Rusia terhadap empat pulau itu bisa jadi karena potesni ikan salmon yang menggiurkan. Sebagai gambaran, di Nakashibetsu saja ketika musim panas bulan Juli-Oktober, bisa menghasilkan ikan salmon sampai 19.000 ton. Padahal jenis ikan ini nilai jualnya tinggi dan selama ini diekspor ke Cina dan sejumlah negara lain. Menurut penuturan sejumlah warga setempat, potensi ikan salmon di wilayah perairan di empat pulau bermasalah itu juga besar. Namun, kini orang Jepang tinggal gigit jari karena sudah masuk wilayah negeri orang. "So big, so close," demikian gerutu beberapa orang Jepang ketika melihat Pulau Kunashiri dari seberang. Ya, pula yang sangat dekat dan besar itu, ternyata kini tertutup dan mereka menyebutnya dirampok orang. Tidak Kesampaian Diperoleh informasi, sebenarnya setelah Perang Dunia II, Rusia juga ingin menguasai seluruh wilayah Hokkaido. Namun, karena waktu itu di sana sudah ada tentara Amerika Serikat, niat itu tidak kesampaian. Tak heran jika hingga sekarang hubungan antara Jepang dan Amerika begitu mesra. Bahkan sesekali waktu militer Amerika melakukan latihan perang bersama dengan militer Jepang di wilayah yang berdekatan dengan pulau yang dikuasai Rusia itu. Meskipun orang Jepang mendambakan empat pulau itu kembali bersatu, bukan berarti warga di sana dalam keseharian membicarakan urusan politik tersebut. Padahal mereka tahu wilayahnya direbut orang lain, banyak pulau warga yang cuek dan lebih konsentrasi dengan urusannya. Apalagi kesibukan orang Jepang begitu tinggi, sehingga masalah perebutan wilayah itu dianggapnya sebagai alternatif untuk membuang kepenatan. Misalnya dengan jalan-jalan ke wilayah perbatasan sambil melihat pulau seberang lewat alat teropong. (Sriyanto Saputro, dari Nakashibetsu, Hokkaido, Jepang-16k) | |||||