
| Selasa, 17 September 2002 | Berita Utama |
CIA Ungkap Rencana Pembunuhan Mega
NEW YORK - Seorang anggota penting Al Qaedah mengaku kepada pihak berwajib AS tentang perannya dalam rencana serangan berskala luas terhadap kepentingan-kepentingan AS di Asia, ungkap majalah mingguan TIME terbitan terbaru. TIME mengutip suatu ringkasan dokumen Badan Intelijen Pusat (AS) tentang pemeriksaan terhadap Omar Al Faruq, yang mengatakan dirinya mengakui wakil senior Al Qaedah di Asia Tenggara. Dia juga mengaku terlibat dalam komplotan-komplotan teroris pada tiga tahun belakangan ini di berbagai tempat di Asia, termasuk komplotan untuk membunuh Presiden Megawati Soekarnoputri, tulis TIME. Dialah yang menginstruksikan rencana serangan berskala luas terhadap kepentingan-kepentingan AS di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Taiwan, Vietnam, dan Kamboja. Dokumen CIA itu juga mengungkapkan, dia pula dalang di balik semua serangan bom pada hari Natal di Indonesia, saat mana sejumlah serangan terhadap gereja-gereja menewaskan 18 orang dan melukai lebih dari 100 orang. Dokumen CIA itu, yang menurut majalah tersebut direncanakan dapat dibeli di kios-kios mulai Senin (waktu AS), mengungkapkan bahwa Al Faruq berencana melakukan pengeboman serentak kedubes-kedubes AS di kawasan Asia Tenggara, bertepatan dengan peringatan serangan kamikaze 11 September di AS. Dalam dokumen itu, Al Faruq (31), pemuda asal Kuwait yang ditahan Juni lalu di Indonesia, juga mengemukakan kepada para pemeriksa AS bahwa kendati dia ditahan, operasi-operasi lainnya akan dilanjutkan sesuai rencana. Pengakuannya itulah yang memaksa AS menutup kedubes-kedubesnya di Jakarta, Manila, dan Kuala Lumpur, menjelang peringatan serangan 11 September lalu. Pernah di Cijeruk Menurut TIME, Al Faruq pernah menetap di Cijeruk, sekitar satu jam perjalanan mobil dari Jakarta. Dia tinggal di sebuah rumah milik keluarga istrinya yang warga setempat, Mira Agustina (24). Setelah pindah ke Cijeruk tahun lalu, Al Faruq bergaul akrab dengan warga setempat, belajar bahasa Indonesia, dan memperoleh KTP yang menyebutkan dia berasal dari Ambon. Istrinya mengatakan, Al Faruq pada hari Rabu bulan Juni lalu raib. "Pada siang harinya dia menelepon dan mengatakan akan ke masjid," turur Mira. "Saya sejak itu tidak pernah lagi mendengar kabarnya." Pada 5 Juni, polisi menangkap Faruq di sebuah masjid dekat Bogor. Tiga hari kemudian, imigrasi Indonesia mendeportasi Faruq ke Pangkalan Udara Bagram Afghanistan, yang menjadi markas militer AS. Di sana, para penyidik CIA menginterogasinya. Menurut suatu dokumen rahasia CIA dan laporan-laporan intelijen regional yang diperoleh TIME, para pejabat AS punya alasan kuat untuk percaya bahwa Faruq salah satu anggota top Al Qaedah di Asia Tenggara. Dia bertanggung jawab atas penggalangan kegiatan kelompok-kelompok militan di Asia Tenggara, dan menyuruh laskar mereka melakukan serangan terhadap AS dan sekutunya. Orang Ke-6 Ditangkap Sementara itu, Biro Penyelidik Federal (FBI) menangkap lelaki keenam keturunan Yaman, dalam operasi penumpasan "sel teroris' yang diduga bagian dari jaringan Al Qaedah yang bermarkas di pelosok New York, lapor New York Times, Senin kemarin. Harian itu, mengutip pernyataan keluarga dan teman-teman Mukhtar al-Bakri, yang mengatakan dia ditangkap di negara Bahrain, ketika menyiapkan perkawinannya di sana. Sabtu lalu, FBI menangkap lima warga Lackawanna, di pinggiran Buffalo, dan menuduh mereka memberikan dukungan materi pada Al Qaedah. Lima lelaki yang didakwa Sabtu lalu, dicurigai menjalani latihan bersenjata di kamp Al Qaedah di Afghanistan pada musim semi dan musim panas 2001, sebelum serangan kamikaze di World Trade Center (WTC) New York dan Pentagon di Washington. Pakistan mengatakan kemarin, negara itu siap mengekstradisi tersangka kunci jaringan Al Qaedah, Ramzi Binalshibh, kepada AS setelah menyelesaikan penyidikannya sendiri dan formalitas hukum. Ramzi disebut-sebut menjadi anggota penting suatu sel jaringan Al Qaedah yang bermarkas di Hamburg, Jerman, dan dituduh memainkan peranan kunci dalam merencanakan aksi kamikaze 11 September di AS, seperti anggota lainnya dari sel itu, yakni Mohamed Atta. (time.com-ed-rtr-ben-ant-30) | |||||