logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 17 September 2002 Berita Utama  
Line

Tujuan Pembangunan Ekonomi Bukan untuk Kejar Pertumbuhan

SEMARANG - Pakar ekonomi Prof Dr Sri-Edi Swasono berpandangan, tujuan pembangunan ekonomi bukanlah untuk mengejar angka pertumbuhan. Karena itu, Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan upaya memberantas kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya beli rakyat.

''Apalah artinya pertumbuhan ekonomi tinggi jika banyak rakyat menganggur dan kemiskinan semakin merajalela,'' ungkap dia saat berbicara dalam diskusi panel dan bedah buku Bung Hatta di Gedung Magister Manajemen Undip, Senin kemarin.

Acara itu menghadirkan pengupas buku Prof Drs Y Warella MPA PhD, Dr Sri Mumpuni SH, Prof Drs Hartowo, dan moderator Sasongko Tedjo SE MM. Dalam buku setebal 705 halaman yang diterbitkan dalam rangka peringatan 100 Tahun Bung Hatta itu, Sri-Edi bertindak sebagai editor.

Ia memaparkan, ekonomi rakyat diperkenalkan Bung Hatta pada 1931 untuk dipertentangkan dengan sistem ekonomi kolonial-kapital waktu itu. Gagasan tersebut dimunculkan atas dasar pemikiran bahwa rakyatlah yang menjadi ukuran tinggi-rendahnya derajat suatu bangsa.

Menantu Bung Hatta itu menambahkan, rakyat Indonesia selama 32 tahun pemerintahan Orde Baru mengalami disempowerment atau pelumpuhan di segala bidang kehidupan. Penyebabnya, pemerintah telah mengabaikan kesejahteraan rakyat atau meninggalkan makna Pasal 33 UUD 1945.

Pasal tersebut, tegas dia, menekankan makna demokrasi ekonomi secara gamblang. Di antaranya, perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan segala kekayaan yang terkandung di dalam bumi dan air harus dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Acara bedah buku dan diskusi panel Senin kemarin bertepatan dengan hari ulang tahun ke-62 Sri-Edi Swasono. Oleh sebab itu, pada akhir acara, panitia mengadakan syukuran yang diisi dengan hiburan permainan biola dan gitar klasik oleh sekelompok musisi Semarang. Biola merupakan kegemaran Sri-Edi.

Buku berjudul Bung Hatta, Bapak Kedaulatan Rakyat disusun secara unik, karena diawali dengan pengantar yang menampilkan tiga penyair terkemuka Indonesia: WS Rendra, Taufik Ismail, dan Emha Ainun Nadjib. Menurut Sri-Edi, alasannya karena Bung Hatta menyukai puisi.

Hapus ''Taoke-Koeli''

Pada malam harinya, Prof Sri-Edi berbicara dalam temu wicara yang diselenggarakan oleh DPD Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jateng di Gedung Jamsostek Jl Pemuda. Dia mengatakan, fundamen ekonomi bangsa tidak akan kelewat ringkih apabila ekonomi kerakyatan telah mengakar di dalam negeri. Yaitu sektor ekonomi yang memihak untuk memuliakan kedaulatan rakyat. ''Lebih jelasnya, ketimpangan hubungan ekonomi tuan-hamba, taoke-koeli harus dikoreksi,'' lanjut dosen Fakultas Ekonomi UI yang juga anggota MPR RI itu.

Mengutip kalimat Bung Hatta, ia mengungkapkan transformasi ekonomi adalah membentuk hubungan ekonomi baru yang demokratis. Hubungan ekonomi yang tidak partisipatif-emansipatif harus dikoreksi dan menjadi tugas transformasi sosial.

''Bung Hatta mencanangkan ide dan konsepsi tersebut dalam demokrasi ekonomi,'' tandasnya.(D18,G1-29)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA