
| Selasa, 17 September 2002 | Semarang & Sekitarnya |
618 Orang Mati Sia-sia di Jalan Raya
SEMARANG - Angka kecelakaan lalu lintas dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Di Jawa Tengah, misalnya, sejak Januari-Agustus 2002 tercatat 975 kejadian yang menelan korban 618 jiwa, 433 terluka parah, dan 889 terluka ringan. Kerugian materiil Rp 3 miliar lebih. Hal itu diungkapkan Kaditlantas Polda Jateng Kombes Drs Edy Prawoto SH MH pada kuliah perdana mahasiswa baru tahun akademik 2002/2003 Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi (STMT), di Kampus Biru AMNI Jl Soekarno-Hatta, Senin (16/9). Kegiatan itu dibuka Ketua STMT-AMNI Drs Agus Aji Sameto MM dan dihadiri sejumlah sivitas akademika kampus. ''Jika dilihat dari jumlah kejadian, korban yang meninggal, luka parah, luka ringan, dan kerugian materiil, data di atas sudah mendekati kejadian selama 12 bulan pada tahun 2001. Padahal, data itu diperoleh hanya dalam jangka waktu tujuh bulan,'' jelasnya. Menurut dia, selama tahun 2001 terdapat 1.258 kejadian. Jumlah korban jiwa 1.084 orang, 632 luka parah, dan 975 luka ringan serta kerugian materiil yang diakibatkan kecelakaan Rp 4,5 miliar. ''Angka kecelakaan lalu lintas di negara-negara berkembang, menurut studi yang dilakukan Transport and Road Research Laboratory di Inggris, 20-30% lebih banyak dibandingkan dengan negara-negara maju. Penyebabnya beragam, yaitu faktor manusia, kendaraan, jalan, dan kondisi menjelang kejadian.'' Pada negara-negara berkembang, penyebab terbanyak adalah faktor manusia. Hal itu bisa dilihat dari angka pelanggaran. Pada 2001 jumlah pelanggaran 302.078 dan 233.163 pada awal Januari-Agustus 2002. Masalah Kemacetan Dia mengakui jumlah kendaraan, baik kendaraan pribadi, sepeda motor, angkutan umum, maupun kendaraan niaga tidak sebanding dengan sarana jalan. Hal itu sering menimbulkan masalah kemacetan di berbagai ruas jalan. Namun faktor yang cukup dominan atas terciptanya kemacetan lalu lintas adalah rendahnya disiplin pengguna jalan. ''Faktor lain yang ikut mendukung terciptanya kemacetan lalu lintas adalah tidak sebandingnya jumlah kendaraan pribadi dan angkutan umum. Di Jateng, jumlah kendaraan 3.576.737 unit. Namun jumlah kendaraan angkutan umum hanya 55.973 unit.'' Edy menambahkan, di negara-negara maju, untuk mengatasi kemacetan lalu lintas, pemerintah bukan memperlebar jalan, melainkan membuat jalan baru. Termasuk membuat jalan layang dan highway (jalan tol). ''Namun jika cara itu belum mampu mengurai kemacetan, pemerintah negara-negara maju membuat kota baru dengan infrastruktur lalu lintas yang memadai. Memang dana yang dibutuhkan sangat besar. Tapi, cara itu cukup efektif mengurai kepadatan penduduk dan aktivitas di jalan raya.'' (D6-76c) |