
| Selasa, 17 September 2002 | Semarang & Sekitarnya |
Dialog Tali Asih Petambak Mengambang
SEMARANG TIMUR- Dialog antara petambak dengan proyek normalisasi Banjirkanal Timur di Kantor Kelurahan Kemijen kemarin, masih mengambang. Petambak tetap minta tali asih untuk mengganti lahan garapan mereka yang terkena proyek. Namun ketika diminta memberikan daftar petambak dan tali asih yang diminta, mereka belum bisa menunjukkan. Suharto, salah seorang petambak mengatakan, besarnya tali asih tersebut tergantung hasil pengukuran dari pihak proyek. Ada tambak yang hanya terkena beberapa meter persegi, namun ada yang mencapai ribuan meter persegi.
Hal serupa juga dikatakan petambak lain, Sumintono. Namun dia menyatakan mendukung program pengerukan sungai tersebut. Bahkan sejumlah petambak juga meminta agar pengerukan itu dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Mereka mengeluh, sungai tersebut kini dangkal, sehingga tidak bisa dilalui perahu. Jika dikeruk, selain untuk mengantisipasi banjir, perahu juga tidak kandas. Pimpro Hadi Pranoto ST menjelaskan, dalam anggaran proyek tidak terdapat dana ganti rugi. Sampai saat ini, pihaknya juga belum mengeluarkan dana untuk keperluan tersebut. Dia mengatakan, lahan sungai tersebut adalah milik negara sehingga negara setiap saat bisa memanfaatkan lahan tersebut untuk kepentingan umum. Karena itu dia meminta, para petambak rela melepas lahannya untuk proyek normalisasi tersebut. Saat itu, Hadi juga mempertanyakan ijin pembuatan tambak di tempat itu. ''Apakah bapak-bapak punya surat ijin dan kepemilikan lahan? Kalau punya, siapa yang mengeluarkan ijin?'' Menjawab pernyataan itu, para petambak mengaku, mereka tidak punya dokumen-dokumen yang dimaksud. Namun mereka tetap bersikeras meminta agar diberi dana tali asih. Alasannya, untuk membuka lahan serta menggarap, dananya tidak sedikit. Menanggapi hal itu, Hadi Pranoto kembali menjelaskan bahwa para petambak sudah menggarap lahan itu sejak lama. Logikanya, selama itu mereka sudah mendapat keuntungan. (G6-71) |