
| Selasa, 17 September 2002 | Internasional |
Warga pun Hidup TerjebakJHALAS - Bagi penduduk desa-desa perbatasan di Kashmir India, kehidupan mereka dikutuk dua kali. Mereka berhadapan dengan dua bahaya: penembakan rutin artileri antara tentara India dan Pakistan, serta ancaman milisi separatis muslim yang disebut-sebut menyelinap dari Pakistan. Pihak berwenang India menuding, kaum separatis itu menyelinap masuk melintasi perbatasan dalam jumlah semakin bertambah, menjelang tahap pertama pemilu di negara bagian tersebut, Senin kemarin. ''Kami terjebak dari semua sisi,'' keluh Surjeet Singh, yang memiliki penggilingan padi di Desa Jhalas, tidak sampai lima kilometer dari perbatasan yang rawan tersebut. ''Kami hidup dalam situasi teror yang terus-menerus dari kaum milisi yang menggunakan desa kami untuk menyeberang dari Pakistan, sementara tembakan pasukan artileri meledak di sekitar kami,'' tuturnya, sambil menunjuk pada rumahnya yang rusak akibat baku tembak yang riuh tiga bulan lalu. Hampir setiap rumah di Jhalas menyimpan bekas-bekas tembakan yang menunjukkan kehidupan di daerah pertempuran: atap gosong, dinding pecah dan berlubang-lubang bekas peluru, dan tiang-tiang rusak. Penduduk desa itu mengatakan tembakan semakin sering terjadi sejak Pakistan mulai mengerahkan militer, setelah serangan militan terhadap Parlemen India di New Dehi, Desember tahun lalu. Menurut New Delhi, serangan yang menewaskan belasan orang itu dilakukan oleh gerakan separatis Kashmir yang bermarkas di Pakistan. Desa-desa Ditinggalkan Di sepanjang daerah perbatasan itu, desa-desa telah kosong karena penduduknya melarikan diri dalam keadaan panik ke kota terdekat, setelah terjadi baku tembak artileri India dan Pakistan. ''Kami bersumpah tidak akan pernah kembali ke desa. Tetapi, kemana lagi kami harus pergi? Kami pada akhirnya akan kembali juga,'' ujar Sharma . Desa-desa perbatasan itu, terutama desa-desa yang berada di pegunungan berhutan lebat, juga rawan penyusupan milisi Islam dari Pakistan ke Khasmir India. ''Tidak ada cara untuk menghentikan penyusupan milisi tersebut dari Pakistan,'' kata Ghulam Mohammed Jan, seorang anggota legislatif Negara Bagian Kashmir dari Partai Konferensi Nasional yang berkuasa. Dia mengatakan para pemberontak memaksa penduduk desa membantu mereka di bawah todongan senjata. Para pejabat dan tentara mengatakan, jumlah milisi yang menyeberangi perbatasan memasuki Kashmir India semakin bertambah, sejak pemilu Jammu-Kashmir diumumkan awal Agustus. 850.000 Personel Keamanan Lebih dari 300 orang, termasuk seorang menteri dan dua lusin aktivis partai politik, tewas sejak pemilu itu diumumkan, dan kaum milisi mengancam membunuh siapa pun yang ikut pemilu tersebut. Sebanyak 40.000 personel keamanan tambahan telah bergabung dengan 450.000 serdadu, polisi, dan pasukan paramiliter di negara bagian itu. Pemungutan suara diadakan secara bergiliran selama empat hari di berbagai wilayah berbeda, yang akan berakhir pada tanggal 8 Oktober. Ketika Islamabad dan New Delhi berperang memperebutkan wilayah Himalaya itu pada masa mendatang, bahaya yang mengancam memaksa sebagian penduduk desa untuk bekerja di kota, yang keamanannya lebih terjamin. ''Banyak warga kami dibunuh oleh milisi atau tewas dalam baku tembak antara tentara India dan Pakistan,'' kata Mohammed Ahmed, yang meninggalkan desanya, Sabjia, untuk bekerja di Poonch. ''Situasi begitu buruk, sehingga separo penduduk telah meninggalkan desa.'' (rtr-ben-30) |